berpetualang

berjalan beberapa ratus meter dari rumah bisa jadi hal tak terlupakan jika anda berada dalam kondisi seperti yang dialami seorang ibu kemarin siang :

si ibu yang saat ini tinggal di luar negeri berniat membawa anaknya ke sebuah klinik di dekat tempat tinggalnya untuk mendapatkan imunisasi. klinik tersebut adalah klinik yang direkomendasikan petugas kesehatan di kecamatan. si ibu tidak terlalu yakin apakah klinik yang dituju itu benar klinik yang nama serta alamatnya tertera pada selebaran dari petugas kesehatan di kecamatan. karena sering lewat daerah yang tertera pada alamat klinik yang dimaksud, si ibu berasumsi bahwa bangunan dengan tanda palang putih di dekat perempatan itulah klinik yang dimaksud dan suami si ibu juga mendukung asumsi tersebut. setelah berkonsultasi dengan seorang teman yang sudah berpengalaman tinggal cukup lama di negeri itu, dengan berbekal niat dan beberapa kosakata penting dalam bahasa setempat, berangkatlah si ibu bersama anaknya. sampai klinik yang dituju tenyata bukan klinik itu yang dimaksud.

si ibu tidak menyerah sampai di situ saja. ia terus berjalan sambil tetap berkeyakinan bahwa klinik yang dimaksud pastilah tidak jauh dari tempat itu. hingga sampai di daerah yang tidak dikenal, si ibu berhenti dan menelepon suaminya untuk meminta pendapat apakah si ibu harus kembali atau tetap mencari klinik yang dituju. suami si ibu menyarankan untuk kembali saja. namun si ibu masih ingin mencoba dan akhirnya bertanya pada seorang nenek yang lewat. ternyata si nenek juga tidak tahu letak klinik yang dimaksud. setelah mengucapkan terimakasih si ibu pun berbalik arah untuk pulang. namun ternyata si nenek tetap ingin membantu dan ikut berjalan bersama si ibu.

sampai di sebuah perempatan, ada 3 orang laki-laki yang sedang bekerja menghitung kendaraan yang lewat sambil duduk di tepi jalan. si nenek menghampiri 3 orang laki-laki tersebut dan menanyakan alamat klinik yang dituju si ibu. jadilah si ibu beserta anaknya terjebak dalam kondisi yang serba tidak enak di tempat yang tidak nyaman. si nenek dan 3 orang laki-laki tersebut terlibat diskusi seru membahas dimana kira-kira klinik yang dituju itu berada. salah satu laki-laki mencoba membantu dan menanyakan beberapa pertanyaan dalam bahasa setempat yang tidak dimengerti oleh si ibu. akhirnya si ibu menelepon temannya dan meminta tolong untuk menjelaskan kondisi si ibu pada laki-laki baik hati itu. ternyata laki-laki itu berniat untuk mencari klinik yang dituju kemudian menjelaskan arahnya pada si ibu, jika si ibu tetap tidak paham, laki-laki itu berniat untuk mengantarnya. akhirnya laki-laki itu pergi naik sepeda meninggalkan si ibu bersama anaknya, si nenek, dan 2 laki-laki lainnya.

sementara menunggu, ternyata si nenek masih belum menyerah untuk membantu. ketika ada seorang wanita bersepeda lewat, si nenek memintanya berhenti dan menanyakan letak klinik yang dituju si ibu. rupanya wanita tersebut juga tidak tahu.

si ibu semakin tidak enak hati, perasaannya bagai dicampuraduk antara jengkel, bersalah, senang, dan terharu. jengkel karena urusan menjadi rumit, seharusnya ia memastikan dulu letak klinik yang dituju, bukan hanya berdasarkan asumsi. karenanya rencana untuk mengimunisasikan anaknya terancam gagal. ia juga merasa bersalah telah mengganggu pekerjaan 3 laki-laki yang menolongnya dan membuat seorang nenek ikut bersusahpayah untuk membantunya. orang-orang itu tentu punya urusan masing-masing yang perlu ditunaikan. di satu sisi si ibu senang karena bertemu orang-orang yang mau membantunya sepenuh hati dan sangat terharu dengan kebaikan hati mereka. lihat, apa yang telah aku lakukan sampai melibatkan banyak orang begini, pikir si ibu.

tak lama kemudian laki-laki yang baik hati itu datang. ia menginformasikan sesuatu yang tak bisa dimengerti dengan jelas oleh si ibu. tapi si ibu tahu bahwa sepertinya ada masalah dan bukan kabar baik yang disampaikan. untuk menghindari asumsi yang salah si ibu kembali menelepon temannya dan meminta supaya berbicara dengan laki-laki itu untuk mengetahui informasi apa yang dibawanya. usut punya usut ternyata klinik yang dimaksud sudah ditutup. pantas saja sewaktu teman si ibu menelepon klinik itu, ada pemberitahuan bahwa nomor yang dituju tidak ada.

akhirnya untuk menghindari urusan yang berlarut-larut, si ibu memutuskan untuk pulang saja ke rumah dan mencoba ke klinik lain keesokan harinya. tak tahu harus berkata apa, si ibu hanya bisa meminta maaf dan berterimakasih pada si nenek dan 3 orang laki-laki yang telah berbaik hati membantunya. ketika si ibu berjalan ke arah rumahnya, ternyata si nenek juga berjalan ke arah yang sama. akhirnya mereka berjalan bersama. sepanjang jalan si nenek terus berbicara yang sulit dimengerti oleh si ibu. si ibu hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. si nenek kemudian berhenti dan menunjukkan rumahnya. ternyata rumah si nenek tak jauh dari rumah si ibu. akhirnya si nenek meminta diri dan si ibu pun kembali meminta maaf dan berterimakasih padanya. si nenek tersenyum dan berkata tak apa.

si ibu melanjutkan perjalanan pulang dan akhirnya sampai di rumah dengan perasaan lega. petualangan hari itu sudah berakhir. namun di dalam hatinya ia bertekad tak akan gentar jika harus mengalami petualangan-petualangan lain di masa yang akan datang. ia tersenyum bahagia, kini ia memiliki satu lagi cerita yang akan dibagikannya pada suami dan teman-temannya.

Advertisements

One thought on “berpetualang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s