back to cloth diaper :)

Disposable diaper (popok sekali pakai/pospak) sekarang ini seakan sudah jadi barang wajib bagi bayi. Ibu-ibu sekarang umumnya lebih memilih pospak untuk alasan kepraktisan, karena sekali pakai langsung dibuang tanpa perlu repot-repot dicuci seperti halnya popok/celana kain. Selain itu bahan gel di dalamnya mampu menampung cairan dalam kapasitas tertentu sehingga permukaan kulit bayi tetap kering dan bayipun merasa nyaman. Tapi dibalik alasan kepraktisan dan kenyamanan itu perlu diwaspadai juga bahaya penggunaan pospak bagi si buah hati dan lingkungan.

*) berdasarkan informasi yang saya dapat, pospak mengandung bahan kimia berbahaya seperti:
1. Dioksin. Dalam artikelnya “The Diaper Drama,” Heather L. Sanders, pendiri American Cloth Diaper Association (Asosiasi Popok Kain Amerika), mengatakan bahwa proses pemutihan (bleaching) untuk membuat popok sekali pakai menjadi super-putih menggunakan produk semacam dioxins dan furans (organochlorines), yang mengandung toxin penyebab kangker.
2. Tributyl Tin (TBT). Dalam konsentrasi yang sangat kecil pun bisa mengakibatkan gangguan hormon disamping mengganggu sistem kekebalan tubuh.
3. Sodium Polyacrylate. Bahan kimia inilah yang mengubah cairan menjadi gel yang akan menempel di kulit bayi dan menimbulkan reaksi alergi. Disamping itu, bahan ini juga dicurigai sebagai penyebab iritasi kulit dan demam.

Akibat pemakaian pospak dalam jangka pendek dan jangka panjang:
1. Menyebabkan ruam popok. Hal itu disebabkan oleh alergi terhadap bahan kimia, kurangnya udara, temperatur tinggi karena dilapisi plastik yang sifatnya mempertahankan kalor (panas) di area popok, dan bayi jarang ganti karena mereka merasa kering meskipun pantat dalam keadaan lembab (basah).
2. Riset yang dilakukan universitas Kiel Jerman (th. 2000) menyatakan bayi laki-laki yang menggunakan disposable diaper, temperatur skortumnya (kantung kemaluan) mengalami kenaikan beberapa derajat. Hal ini menyebabkan menurunnya produksi sperma bayi laki-laki, sehingga dapat menyebabkan kemandulan, dan meningkatkan angka terjadinya kanker testis di usia dewasa.
Dampak bagi lingkungan :
Pospak membutuhkan waktu sampai 500 th untuk terurai karena sampah pospak mengandung plastik yang tidak dapat di uraikan oleh mikroorganisme yang ada di bumi, dan baru akan mengurai dengan bantuan matahari setelah ±500 th bahkan sebagian peneliti menyebutkan angka ±1000 th.

Disini ada juga tulisan dari Mbak Irene yang bisa jadi bahan pertimbangan juga untuk beralih ke popok kain. Lebih lengkap, dengan rincian perbandingan biaya yang sangat berguna buat ibu-ibu 🙂

Pengalaman saya nih, sebelum tinggal di Jepang Dito hanya pakai pospak saat tidur malam dan bepergian. Selebihnya selalu pakai popok dan celana kain. Persediaan popok dan celana kain ada sekitar 3 lusin waktu itu, tapi tetap saja “kejar tayang” tiap kali mendung atau hujan yang bikin cucian lama keringnya. Alhamdulillah kulit Dito bukan termasuk kulit sensitif, jadi tak pernah bermasalah dengan ruam popok. Pakai popok kain memang repot, begitu basah harus langsung diganti, telat sedikit Dito bisa ngamuk karena risih. Untung saya dibantu asisten rumah tangga.

Bulan Januari kami menyusul bapaknya Dito ke Jepang, waktu itu baru musim dingin. Terpaksa Dito pakai pospak sepanjang hari karena meskipun pemanas ruangan dinyalakan tetap saja terasa dingin, kasihan kalau tiap kali pip harus ganti popok. Selain karena emaknya juga malas mencuci dan keluar untuk menjemur kala cuaca dingin 😛

Bulan-bulan Maret cuaca lebih bersahabat, suhu mulai naik dan udara menghangat. Saatnya beralih lagi ke popok kain. Karena Dito semakin besar dan mulai merangkak, popok kain yang dipakai bukan lagi popok segi empat dengan tali ataupun celana kain biasa. Popok yang dipakai mirip pospak dengan lapisan luar (outer/pocket) yang tidak mudah bocor dan lapisan penyerap (insert). Sementara ini 5 outer dan 14 insert sudah cukup untuk pemakaian pagi sampai malam menjelang tidur. Sedangkan selama tidur malamnya masih tetap pakai pospak (ini jelas untuk alasan kepraktisan dan kenyamanan saya a.k.a malas…:P). Semoga saya bisa mengalahkan kemalasan saya ini jadi Dito bisa full pakai popok kain selama di rumah 🙂

printed cloth diapers, lucu-lucu!!!

Miris juga baca-baca info mengenai dampak buruk pospak. Apalagi melihat sampah pospak Dito selama ini, yang banyak dan beratnya melebihi jenis sampah rumah tangga lainnya. Selain berdampak buruk buat Dito dan bumi ini, yang jelas berdampak buruk buat bapaknya Dito yang harus mengangkat sampah yang berat itu ke tempat pengumpulan sampah dari tempat tinggal kami di lantai 5 yang tidak ada liftnya :D.

Jadi, pikir-pikir lagi sebelum memutuskan memakaikan pospak buat anak kita. Setidaknya mari kita kurangi pemakaiannya. Apalagi sekarang ini sudah banyak produk popok kain yang praktis, bisa disesuaikan ukurannya dengan besar dan berat badan bayi, mampu menahan cairan selama 3-4 jam (bahkan beberapa produk bisa menahan cairan semalaman tergantung insertnya) dan motif outernya lucu-lucu. Go green, Moms!!

*) kopas dari sini

Advertisements

One thought on “back to cloth diaper :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s