pengen anak perempuan?

kemarin sore pulang dari acara Indonesia Culture Day, kami bertiga naik sepeda. sewaktu mau menyeberang jalan, ada ibu-ibu menyapa saya yang membonceng Dito di depan. seperti biasa, hal yang sering mereka tanyakan adalah berapa usia Dito, cowok atau cewek (sekarang Dito sudah besar, sudah kelihatan cowoknya, jadi jarang ditanyakan), dan anak ke berapa. setelah saya jawab, si ibu itu ngomong cepat sekali, sepertinya sih ngomongin tentang anak. lalu tiba-tiba beliau kasih tau saya kalau mau punya anak perempuan, bapaknya disuruh banyak makan sayur dan ikan, sebaliknya kalau mau punya anak laki-laki bapaknya disuruh banyak makan daging. saya jadi geli mendengar penjelasan ibu itu, saya senyum-senyum saja mengiyakan (dan tentu saja mengingat-ingat dalam hati). setelah itu kami saling menanyakan dimana tempat tinggal kami masing-masing. waktu berpisah si ibu itu masih sempat mengingatkan tipsnya tadi dan menunjukkan isyarat orang hamil dengan tangan dan perutnya sambil berkata “ganbatte ne!” yang saya iyakan dengan mantap “hai…” (dalam hati : ganbarimasu! :D). kami pun melanjutkan perjalanan pulang dan pecahlah tawa saya….mengingat kembali secuil percakapan saya dengan si ibu itu. betapa si ibu itu meyakinkan sekali gaya bicaranya, dan seperti umumnya ibu-ibu seumuran beliau, banyak sekali bicaranya dan cepat! dari semua yang diucapkannya yang saya tangkap dengan jelas maksudnya ya tipsnya tadi, hehehehe…..
tau aja si ibu itu kalau saya kepengen anak perempuan 🙂

*percakapan saya dan si ibu itu terjadi dalam bahasa jepang, dan saya ceritakan kembali setelah diterjemahkan secara bebas sebebas-bebasnya versi saya disesuaikan dengan kemampuan saya yang baru sebatas level 1, jadi harap dimaklumi, hehehe…mestinya lebih banyak informasi dari si ibu itu yang bisa saya ceritakan seandainya kemampuan bahasa jepang saya sudah cukup memadai :P*

Advertisements

crafty weekend : card holder

sehubungan dengan agenda baru saya seminggu 3 kali dengan perjalanan bis 2 kali, menurut hemat saya sebagai manajer keuangan rumah tangga akan lebih ekonomis (baca : ngirit) kalau saya bikin kartu langganan bis. akhirnya tanggal 9 kemarin saya punya kartu langganan bis yang berlaku dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore (ひるバス). proyek pertama crafty weekend saya adalah card holder buat kartu bis saya itu, supaya saya tak perlu bolak balik mengeluarkannya dari dompet dengan resiko terjatuh, apalagi perjalanan membawa Dito sendirian itu lumayan repot.
card holder ini saya buat dari sisa-sisa kain dari kerjaan saya terdahulu. berukuran 6cmx9cm dengan strap dari sambungan kain-kain perca. jahitannya kurang rapi dan jadinya tidak pas alias kekecilan, sebagian kartu ngintip dari wadahnya 😛 mungkin saya akan buat satu lagi kalau ada waktu luang…semoga jadinya lebih rapi 🙂

agenda baru

postingan pertama di bulan november 🙂

cuaca semakin dingin jadi bawaannya males, kreativitas menurun, mesin jahit lama dianggurin, masak juga ala kadarnya….haduhhh, padahal saya baru dapat warisan oven dari Mbak Mina yang pulang ke Indonesia tanggal 3 kemarin, mustinya saya mulai aktif bereksperimen di dapur ya bikin-bikin kue, cookies, atau cemilan apa gitu selain andalan saya cake 5 menit yang resepnya pun saya dapat dari Mbak Mina, hehehe…mana agenda saya bertambah mulai hari senin kemarin, kelas Nihongo seminggu 3 kali yang tempatnya jauh, perjalanan sekitar sejam dengan naik bis 2 kali, dan bawa Dito pula. kenapa saya bela-belain “memaksakan diri” belajar di kelas di bawah bimbingan guru? karena saya pengen banget bisa bahasa jepang, biar hidup saya di sini lebih mudah. setidaknya buat urusan-urusan sepele seperti belanja dan tanya arah kalau kesasar, hehehe…. selama ini saya kurang fokus kalau belajar sendiri di rumah, pikiran saya pasti terpecah antara belajar, ngajak dito main, jalan-jalan, sepedaan, pengen jahit, chatting sama teman-teman saya, nonton film, dan blog walking, hihihi….sebenarnya waktu di indonesia sudah pernah ikut kelas di LIJ cuma sampai level 1 dan terasa sangat kurang, apalagi di sini jarang dipraktekkan (saya suka gak PD). akhirnya saya mengulang level 1. saya merasa lebih mudah belajar lagi dari 0 langsung di bawah bimbingan native speaker. lagipula dasar baca tulis juga diajarkan sekaligus di kelas yang saya ikuti ini, berbeda sekali dengan kelas di LIJ dulu yang teksnya semua dalam huruf romawi. hiragana-katakana-kanji harus kami peajari di kelas tersendiri.

selain alasan tadi, saya ikut kelas Nihongo ini dalam rangka mendapatkan surat keterangan bahwa saya punya aktivitas untuk mendaftarkan Dito ke hoikuen. kenapa masuk hoikuen? alasan utamanya supaya Dito banyak teman dan bisa bersosialisasi. saya kasihan setiap kali Dito keluar ke balkon belakang yang menghadap taman dan melihat banyak anak bermain, dia suka heboh sendiri, teriak-teriak seolah-olah cari perhatian dan pengen ikut bermain. waktu diajak belanja atau pergi ke tempat-tempat umum Dito juga suka sekali mendekati sampai mengejar anak-anak seumurannya bahkan anak-anak yang lebih besar untuk diajak main. saya dan suami berharap dengan masuk hoikuen dia bisa bersosialisasi, puas bermain dengan teman-teman sebaya dan tidak hanya mengenal kami orangtuanya. sungguh bukan kami ingin melepas tanggung jawab sebagai orang tua. saya sendiri pun sempat ragu dan tak sampai hati membayangkan harus melepas Dito masuk hoikuen, apalagi dia masih minum ASI. kalau bisa sebenarnya saya hanya pengen Dito masuk hoikuen pas hari-hari saya ikut kelas Nihongo saja. kira-kira bisa tidak ya? saya sendiri kurang tau bagaimana aturan hoikuen. yang jelas setahu saya proses untuk memasukkan anak ke hoikuen cukup panjang. mulai dari ambil formulir di kantor kecamatan, survey hoikuen, menyiapkan berkas-berkas, mengumpulkan berkas yang diperlukan, dan menunggu pengumuman apakah anak kita diterima atau tidak. semua belum pasti, ada kemungkinan Dito tidak bisa masuk hoikuen yang dituju karena bisa jadi surat keterangan bahwa saya, ibunya, punya aktivitas/kerja/sekolah kurang meyakinkan pihak kecamatan dan pihak sekolah, atau hoikuen yang dituju sudah tidak ada tempat lagi.

sebenarnya di kelas Nihongo yang saya ikuti ada beberapa ibu dan bapak yang membawa anaknya. salah satu tujuan mereka ikut kelas Nihongo pastinya sama dengan saya, supaya mereka bisa memasukkan anak mereka ke hoikuen. Dito biasa bermain bersama anak-anak mereka, tapi seringnya anak-anak terlalu ribut dan orang tua jadi terpecah konsentrasinya. kalaupun Dito tidak bisa masuk hoikuen yah sementara dia bisa bermain dengan anak-anak itu sampai tahun ajaran baru dimulai 🙂