iPhone case

proudly present hasil jikken saya kemarin malam 🙂

saya putuskan bikin sendiri iPhone case ini pakai kain sisa karena di toko harganya sekitar 2000an (uangnya mending buat makan :D). pertamanya saya bingung mau model seperti apa. saya pengen yang seperti di toko-toko itu, kaku/keras, berbahan leather/fabric dan pakai magnetic snap, tapi saya gak yakin saya bisa bikinnya. bentuk yang kaku itu sepertinya hanya bisa didapat dengan menyelipkan chipboard didalamnya. padahal saya butuh proyek yang gampang, cepat, dan murah pastinya. akhirnya saya kepikiran bikin tempat yang nyaman dan empuk. sepertinya yang ini lebih gampang, tinggal menyelipkan batting di antara lapisan luar dan lining, sedangkan penutupnya bisa pakai risleting, kancing, atau velcro. karena saya punya pengalaman tidak sukses dengan velcro, pilihan itu langsung saya coret. pakai kancing juga lebih ribet, akhirnya saya putuskan pakai risleting meskipun proses pemasangannya lebih susah.
proses dimulai dengan membuat pola, sederhana saja…ngeblat dari bentuk iPhone saya terus dilebihkan beberapa cm. setelah itu pola dipindah ke kain. oh iya…kain yang saya pakai ini sisa dari seat cover (sevenberry fabric) dan yang biru dari sisa kain buat baju teman saya. setelah kain siap akhirnya masuk ke proses konstruksi *duh bahasanya*
nah di sini saya mulai pusing…sudah bentuknya kecil, sudutnya melengkung, terdiri dari 3 lapis bahan, dan melibatkan risleting! saya sempat utak atik dan beberapa kali unstitch *bahasa kerennya mendedel*. sebenarnya bentuknya biasa saja, mungkin yang bikin susah karena ada liningnya. bikin sesuatu yang ada liningnya itu (sejauh pengalaman selama ini) pasti melibatkan proses membalik, jadi dijahit dari bagian dalam dan disisakan lubang untuk membalik, lalu terakhir menutup lubang itu dengan blind stitch (biasanya jahit pakai tangan). tapi karena malas dan tak sabar melihat hasilnya, di langkah terakhir saya pakai mesin jahit 😀 sebelum dibalik benda ini benar-benar tak berbentuk, jahitan dan raw edgesnya semrawut, tapi setelah dibalik taadaaaaa…..jadinya tidak mengecewakan, setidaknya menurut saya, hehehe…

what i’ve made

2 similar pillow cases (one of them had been given to my friend).
i made it in cute safari pattern fabric and mustard colored fabric. it’s 90cm x 45cm and very simple, i didn’t use any zipper and made an overlap opening instead.

card holder
after digging my fabric scrap stash i finally made this superquick project for my friend. there are some wonky seams but i think it’s still OK 😛

patchwork for a dress
since i don’t have a serger i make this patchwork using a flat felled seam. the result this far : not as bulky as i thought, pretty nice from the outside but not a pleasant view inside T_T

plis deh…

beberapa hari yang lalu dalam perjalanan pulang dari kelas nihongo, waktu saya dan teman saya menunggu untuk menyeberang jalan tiba-tiba kami didatangi seorang wanita, ibu-ibu, ditilik dari wajahnya sepertinya bukan orang jepang. si ibu itu bertanya apakah kami dari indonesia dan saya iyakan. lalu si ibu menyodorkan leaflet berbahasa indonesia berisi semacam ajaran kepercayaan tertentu yang sudah saya kenal…tentu saja, karena ini bukan pertama kalinya saya didatangi orang-orang macam itu. saya langsung bilang bahwa saya seorang muslim dan saya tidak tertarik dengan apa yang dia bawa. lalu si ibu bilang terimakasih dan pergi.
sambil menyeberang saya bilang ke teman saya, sepertinya si ibu itu sudah mengamati kami sebelumnya. terbukti dari leaflet berbahasa indonesia yang sepertinya sudah siap sedia untuk ditunjukkan pada kami. saya tak habis pikir, apa si ibu itu tidak melihat kami berjilbab? apa si ibu itu tidak tahu kalau kami muslim?
mungkin si ibu itu tidak tahu, tapi masa iya sih? dalam ajaran kepercayaan si ibu itu pasti sedikit banyak bersentuhan dengan ajaran islam yang saya anut. atau mungkin si ibu itu tahu tapi tetap mencoba…namanya juga usaha, mungkin begitu pikirnya.

kira-kira dalam tasnya ada leaflet dalam berapa bahasa ya? 😀

dito, 18 bulan

dito yang dulu waktu masih di dalam kandungan sering kami panggil murbei sekarang sudah hampir 18 bulan, 1,5 tahun! time does fly…
makannya masih susah (tapi tidak pernah menolak sushi dan udon ^^) dan pertambahan berat badannya seret, di usianya yang hampir 18 bulan BB 9800 gr dan TB 78,7 cm, terlihat kurus memang. tapi Alhamdulillah dito cukup aktif, motorik halus maupun motorik kasarnya berkembang pesat.
dito sudah lancar berjalan dan suka naik tangga/memanjat untuk menjangkau tempat-tempat yang lebih tinggi. cukup bikin saya khawatir, karena dengan naik ke kursi yang biasa saya pakai untuk mengambil barang-barang di atas lemari, dito sudah bisa menjangkau ke kitchen sink, menjangkau piring, gelas, dan makanan di meja, dan main air sendiri di wastafel. ada kejadian lucu sewaktu dito main air di wastafel, kotak tempat cucian kotor yang dipakai sebagai panjatan tergeser menjauh, jadi dito dalam posisi bergelantungan di bibir wastafel dan kepengen turun. untung dito cukup kuat pegangannya, jadi tidak sampai jatuh sampai saya datang dan menurunkannya dari wastafel 🙂 sewaktu main di taman belakang rumah dito juga sudah berani naik tangga perosotan sampai ke atas tanpa dibantu, hanya bapak yang menjaganya dari belakang.

beberapa minggu yang lalu dito mulai suka corat-coret pakai spidol. kami tak menyangka dito sudah bisa memegang spidol dengan benar seperti umumnya orang dewasa memegang alat tulis. memang pertamanya belum bisa tapi setelah beberapa kali mencoret dito mulai memposisikan jari-jarinya dengan benar, mungkin dito merasa kurang nyaman dengan cara memegang spidol yang asal-asalan. karena tidak puas dengan media kertas yang kami sediakan, sekarang hasil coretan dito sudah terabadikan di tatami, kaca pintu dapur, pintu laci dapur, pintu, meja makan, dan lantai dapur 🙂

dito suka sekali dilibatkan dalam aktivitas saya seperti bersih-bersih dan menjemur baju. dito suka ikut mendorong vacuum cleaner ke penjuru ruangan dan menyerahkan hanger satu per satu waktu saya mau menjemur baju. meskipun sebenarnya malah bikin rusuh dan pekerjaan jadi lama selesainya 😀 seperti kemarin, dito ikut bikin candil dari tepung ketan dan tepung beras, dito sangat excited bermain dengan tekstur adonan yang empuk dan membuat bulatan candil dengan menebarkannya di lantai dapur, akhirnya pekerjaan saya bertambah dengan membersihkan lantai dapur. capek memang…tapi dito terlihat gembira dan saya pun jadi ikut gembira ^^
hal yang paling membesarkan hati kami akhir-akhir ini adalah kemampuan dito untuk memahami beberapa permintaan seperti mengambilkan sesuatu, menyalakan tv, dan menutup pintu. selain itu dito sudah terbiasa dengan rutinitas sebelum tidur seperti cuci muka, cuci tangan dan kaki, sikat gigi, dan berdoa. setiap kali saya bilang hamigaki (sikat gigi) dito akan minta gendong sambil menunjuk ke arah wastafel dimana dito biasa melakukan ritual sebelum tidurnya, bahkan kadang dito pergi sendiri ke wastafel. setelah acara bersih-bersih itu dito lalu ke tempat jemuran handuk dan mengeringkan sendiri tangan dan mukanya pakai handuk. sebelum tidur dito dibiasakan berdoa, jadi biasanya setelah berbaring dan berselimut, saya bilang berdoa yuk…dan dito akan menengadahkan kedua tangannya posisi berdoa sambil ngedumel tidak jelas sementara saya membacakan doanya sampai selesai dan kami bilang amin bersama-sama sambil mengusapkan telapak tangan ke muka 🙂
sungguh membahagiakan melihatnya…
PR saya berikutnya adalah toilet training, Bismillah…semoga berhasil!