ignorance

ketidakpedulian kalau menyangkut diri sendiri sampai batas tertentu mungkin tidak terlalu menjadi masalah, tapi kalau sudah menyangkut orang lain dan kepentingan umum sepertinya akan jadi masalah.

ada beberapa hal yang mengganjal di hati saya beberapa waktu terakhir. kalau diceritakan sampai detail sepertinya bakalan panjang ceritanya. ya sudah saya singkat saja, selain juga untuk menjaga perasaan pihak-pihak yang mungkin nanti bakalan tersinggung. pertama soal waktu, saya ini orang yang masih amburadul manajemen waktunya, tapi suka sebel sendiri kalau menghadiri acara yang gak tepat waktu dan akhirnya molor juga selesainya. sekali lagi, kalau urusannya cuma sama diri saya sendiri ya suka-suka saya mau mengatur waktunya. tapi kalau melibatkan banyak orang, apalagi berurusan dengan pemakaian fasilitas publik, hmmm…du du du sya..la..la….
kemudian soal kebersihan. duh ini saya bener-bener ga tau apakah sayanya saja yang terlalu berlebihan atau gimana. masalahnya ini menyangkut orang lain dan pemakaian fasilitas publik. namanya juga fasilitas publik, tempat umum, siapa saja boleh menggunakan. saya rasa siapapun penggunanya pasti menginginkan tempat yang bersih dan terjaga kebersihannya. toilet umum yang kotor dan bau, taman yang banyak kotoran anjing berceceran, sampah berserakan, saya yakin tidak membuat nyaman para penggunanya. dengan asumsi para pengguna menginginkan kondisi terbaik dari fasilitas publik sudah jadi hal yang lumrah kalau mereka juga diharapkan berpartisipasi dalam menjaganya. siapa sih yang mau “ditinggali” kotoran di toilet yang akan dipakainya? *dalam hati pasti misuh-misuh, jorok banget nih orang* siapa sih yang mau “ditinggali” sampah bekas partynya orang lain? siapa juga yang mau (gak sengaja) menginjak kotoran anjing (orang lain)? *menginjak kotoran anjing sendiri saja juga pasti ogah* dari sinilah saya suka ngelus dada kalau bertemu hal-hal seperti yang saya sebutkan di atas. setidaknya mulai dari diri sendiri saja deh. misalnya di sebuah acara makan-makan yang melibatkan bnyak orang. bisa dipastikan banyak sampah. kalau saja setiap orang bertanggungjawab atas sampahnya sendiri-sendiri (dan juga sampah anak-anaknya bagi yang punya anak) dengan membuangnya ke tempat sampah yang disediakan, mungkin akan lebih nyaman buat semua *terutama buat orang yang suka komplain macam saya*. ini terutama untuk acara yang tidak mengkhususkan adanya tim kebersihan. kadang mata saya sepet dan tangan gatel kalau di acara rame-rame orang sembarangan ninggal bekas makan minumnya padahal tahu ada tempat sampah. atau mereka berpikir toh nanti juga bakalan dibersihkan, oleh siapa itu bukan urusan mereka *mungkin oleh orang-orang yang matanya suka sepet atau tangannya suka gatel seperti saya*. bukan, bukan saya mengeluh kalau memang saya akhirnya juga harus membersihkan sampah orang lain karena pada dasarnya saya suka melihat semuanya beres, bersih, enak lah pokoknya. saya juga berpikir hal baik yang saya lakukan suatu saat akan berbuah baik ke diri saya. dan Allah Maha Melihat saudara-saudara….siapa tahu saya dihindarkan dari “menjumpai” toilet yang lupa disiram atau dihindarkan dari menginjak kotoran anjing, hehehe……coba ya setiap orang punya kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan, demi diri sendiri dan orang lain. eh…kesadaran saja tanpa diwujudkan sama juga bohong ding.

hmmm….lagi-lagi saya berpikir, ini sayanya saja yang terlalu gimana gitu….sok serius, sok bener, sok pembersih, atau sok sok lainnya….ataukah memang beberapa orang yang kebetulan saya temui itu tipe yang kurang peduli?
saya sampai curhat sama suami saya, kok bisa ya mereka itu begitu. mestinya kan bisa mereka itu begini begini terus begitu. kalau begini kan jadinya begitu….yang akhirnya dijawab suami saya dengan santai, ya setiap orang kan beda. itu kan menurutmu, menurut standarmu, bisa jadi menurut orang lain ga seperti itu. baiklah….saya tahu kalau saya terlalu menuruti hati untuk setiap “kegelisahan” macam itu bisa-bisa saya stres sendiri *soalnya suami saya ga asik diajak stres bareng* akhirnya saya meyakinkan diri bahwa setiap orang sudah mengetahui nilai-nilai baik dalam hidup, termasuk mungkin urusan waktu dan kebersihan, yang ukuran penting tidaknya lagi-lagi tergantung masing-masing individu. urusan mau atau tidak melaksanakan nilai-nilai baik itu pada akhirnya juga menjadi keputusan masing-masing individu. hahhhhhh…..kadang saya kepengen bisa ga usah mempersoalkan hal-hal “kecil” seperti ini, tapi kok susah ya?
sampai di sini saya coba mengingat-ingat, saya pernah juga ga ya bersikap seperti yang saya keluhkan itu? pasti pernah, saya sadari atau tidak…Astaghfirullah, semoga mulai sekarang saya ga cuma bisa ngedumel dalam hati melihat sikap orang lain tapi saya juga bisa terus menjaga sikap saya. karena kadang kita menerapkan standar tinggi untuk menilai sikap orang lain tapi giliran ke diri kita sendiri kita “ga segitunya”. semoga Allah mengampuni saya dan membantu saya untuk selalu memperbaiki diri karena celah bagi manusia untuk tergelincir itu banyak sekali. Amiin ya Rabb….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s