puppu…

dito : “puppu..puppu..” sambil menunjuk-nunjuk pantatnya.
saya : “mas dito pup?
dito : “haik”
saya buru-buru gendong ke toilet. tapi apa daya…waktu saya buka popoknya ternyata “sedang dalam proses” 😦
aduh, le…mbok ya lain kali timingnya yang tepat…ngasih tau jangan mendadak gitu.

seminggu terakhir ini dito sudah bisa kasih kode kalau mau pup. cuma ya itu tadi…kalau gak sayanya yang kurang cepet ya dito yang timingnya gak sip. ayo…semangat ya, le…kita pasti bisa!

bapak

di waktu kecil saya adalah salah satu anak yang beruntung. saya terlahir di sebuah keluarga yang sederhana. dibilang berkecukupan, ga juga. saya pernah ikut merasakan prihatin bersama orang tua saya. kedua orang tua saya guru, tapi bapak saya nyambi bertani. saya ikut membantu saat masa tanam tembakau di sawah, mulai menanam bibit, menyiram, memunguti ulat, sampai memanen. saya masih ingat sekali, untuk menyiram tembakau bapak saya harus memikul 2 “blek” (semacam ember untuk mengangkut air terbuat dari seng dan mempunyai penampang segiempat) dengan pikulan bambu dari sumur ke sawah kami. meskipun jaraknya hanya beberapa puluh meter tapi bolak-balik pasti melelahkan juga. karena pagi sampai siang bapak mengajar, bapak saya kadang mengerjakannya di malam hari. bapak saya benar-benar bekerja keras. saat tembakau sudah mulai tumbuh agak tinggi, ulat pun bermunculan. saya yang kebagian tugas memunguti ulat di sela-sela daun tembakau. ulat tembakau ini berwarna hijau dan tidak berbulu. biarpun begitu tetap saja saya geli dan jijik. karenanya bapak “mempersenjatai” saya dengan tang dan sebuah ember kecil berisi minyak tanah. keberadaan ulat tembakau bisa diidentifikasi dari keberadaan kotoran ulat di sela-sela daun dan daun-daun sekitar yang bolong-bolong. begitu ketemu saya tinggal catut pakai tang lalu masukkan ke ember. lama-lama ulat itupun mati. hiiiiii….sadis ya.
setelah tembakau dipanen ada satu tahapan yang saya juga ikut bantu-bantu yaitu bagian congok. congok adalah istilah untuk menata lembaran daun tembakau pada tusuk dari batang bambu sebelum dijemur. congok ini sungguh melelahkan karena bisa berlangsung sampai dini hari. satu hal yang saya benci, lapisan lengket daun tembakau yang menempel dan menumpuk di tangan saat congok, dan supaya mudah membersihkannya tangan digosok pakai minyak tanah, saya tidak suka baunya. semua kegiatan dalam rangka membantu bapak saya itu saya lakukan dengan senang hati karena saya menganggap itu bagian dari bermain. kini saya menganggapnya sebagai sebuah kenangan manis dan saya beruntung sempat mengecap pengalaman itu.

meskipun saya sempat mengalami masa dimana kami, terutama orang tua saya, harus bekerja keras untuk membangun pondasi yang kuat bagi kesejahteraan keluarga, saya tak pernah merasa kekurangan. bahkan saya merasa cenderung dimanjakan. terutama dalam hal perhatian dan kasih sayang. saya sungguh beruntung punya bapak seperti bapak saya, yang membuat masa kecil saya tak terlupakan. meskipun saya anak perempuan, bapak saya mengenalkan saya pada permainan yang biasanya dilakukan anak laki-laki, yang membuat masa kecil saya penuh petualangan.

bapak saya aktif di pramuka. bapak selalu mengajak saya setiap kali mengunjungi acara perkemahan. bapak hobi memancing dan kadang mengajak dan mengajari saya memancing di waduk dengan menyewa perahu. selain itu saya juga pernah diajak mencari wader dan udang di sungai. suatu kali saya pernah diajak mencari jangkrik malam-malam di sawah. bapak juga mengajari saya menembak pakai senapan angin dengan kaleng sebagai sasaran tembaknya. yang mengharukan (dan saya kepingin menangis tiap kali mengingatnya) saat saya sakit, bapak membuatkan layang-layang superbesar berbentuk garuda bertuliskan nama saya DIAN :D. saking besarnya, benangnya bukan lagi benang layang-layang biasa, tapi tali yang biasa untuk jemuran dalam diameter yang lebih kecil. menerbangkan dan menurunkannyapun bapak harus memakai sarung tangan supaya tali itu tidak membuat lecet. layang-layang itu mengundang decak kagum anak-anak lain dan para tetangga. baru di malam hari layang-layang itu diturunkan oleh bapak. bapak jugalah yang mengajari saya naik sepeda. sebelumnya, acara membeli sepeda inipun tak lepas dari petualangan. toko sepeda yang dituju jauh dari rumah kami. umumnya kesana naik angkutan umum. tapi bapak mengajak saya jalan kaki lewat sawah, bukan jalan raya yang biasa dilewati kendaraan. kalau diingat-ingat jarak itu sangat jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. tapi saya tidak ingat kalau waktu itu merasa capek. atau mungkin capek saya langsung hilang terobati oleh sepeda baru itu? 😀
bapak saya juga terampil sekali bertukang. beberapa perabot di rumah kami seperti kursi, meja, dan lemari bapak sendiri yang membuatnya. bapak juga membuatkan saya rumah-rumahan di halaman belakang. rumah-rumahan dengan rangka batang kayu, dinding dari kantong sak bekas wadah pupuk, dan atap dari daun kelapa. tak terkira gembiranya saya waktu itu. bapak saya juga mahir memotong rambut. dari kecil rambut saya dan adik-adik dipotong sendiri oleh bapak. bapak telaten sekali memotong ujung-ujung rambut saya yang panjang dan bercabang. seingat saya, pertama kali saya potong rambut di salon adalah waktu saya sudah duduk di bangku SMP.

tak hanya itu…saat saya beranjak dewasa dan ada masalah, bapak saya ikut menangis (iya…menangis!) ketika saya tersakiti dan terpuruk, lalu menghibur dan menguatkan saya. bapak saya memanjakan tapi juga melatih mandiri dan kerja keras.

Dari ‘Aisyah r.ha. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak
perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”
sungguh bapak saya telah menyenangkan hati anak perempuannya dengan segala upaya. Semoga Allah ridha dengan segala usaha beliau.

tiba-tiba kangen teramat sangat pada bapak. hiks…sensitif sekali akhir-akhir ini *mbrebes mili*

murbei 10 minggu


8 weeks. so tiny! 15.5 mm from crown to rump



10 weeks, 28.5 mm from crown to rump.

wah, si murbei jilid 2 sudah masuk 11 minggu. terakhir “ngintip” sabtu minggu lalu sudah terlihat tangan dan kakinya. subhanallah…lucu sekali melihatnya bergerak-gerak ^^ berat badan saya belum ada kenaikan sampai 10 minggu kemarin, malah turun dari 2 minggu sebelumnya. 2 hari sebelum pemeriksaan 10 minggu itu mual muntah saya memang lebih parah, makan siang sampai makan malam tidak ada yang bertahan. saya juga sering kesemutan waktu bangun di pagi hari. dokter cuma menyarankan saya banyak minum. sebelumnya saya sudah sering mendengar cerita banyak orang kalau treatment untuk ibu hamil di jepang beda dengan ibu hamil di indonesia. akhirnya saya mengalami sendiri. dulu di indonesia dari pertama periksa kehamilan saya sudah di”bekali” berbagai macam suplemen dari dokter dan bidan, terutama asam folat. semakin besar kehamilan ada tablet kalsium dan kapsul berisi berbagai macam zat gizi untuk ibu hamil dan janin yang dikandung. mertua saya juga menyarankan saya minum susu ibu hamil. padahal saya ga doyan dan akhirnya minum susu dancow dan susu UHT :D. waktu saya mual muntah saya diresepkan mediamer yang tetap saja tidak ada efeknya buat saya. sedangkan di sini…sampai saat ini saya belum di”bekali” suplemen ataupun obat apapun oleh dokter. di sini juga tidak ada susu ibu hamil. jadi ibu hamil memang benar-benar mengandalkan asupan nutrisi dari apa yang dimakannya. meskipun mual muntah tetap harus berusaha bagaimana caranya supaya ada makanan yang masuk. sedikit-sedikit tapi sering, begitu muntah coba makan lagi. sangat teoritis…tapi ya memang begitu. tidak boleh menyerah…demi si buah hati.

dengan kehamilan kedua ini saya jadi punya perbandingan. kehamilan kedua ini saya rasakan lebih kuat dibanding kehamilan pertama dulu. mungkin karena saya sudah pernah merasakan sebelumnya. gejala umum ibu hamil seperti mual dan muntah tetap saya alami dengan intensitas yang lebih rendah daripada kehamilan pertama dulu. kehamilan kali ini saya masih bisa mengurus anak dan suami, masak, dan beberes rumah (tentu saja dengan standar yang disesuaikan dengan kondisi fisik saya) tanpa bantuan mertua maupun asisten rumah tangga seperti di jogja dulu. keadaan yang membuat saya mau tidak mau harus bisa. untungnya suami saya sangat membantu selama ini, suami saya tipe pria yang tidak segan turun tangan di dapur, mencuci piring, kadang memasak. dan alhamdulillah sejauh ini kami bisa…

tidak seperti kehamilan pertama dulu yang saya bisa mabok setiap saat, kehamilan kali ini mual muntah saya “baru” dimulai siang hari dan semakin parah saat malam hari. ada untungnya sih…pagi hari sampai siang saya bisa full masak, beberes rumah, dan ikut kelas nihongo. siang sampai malam istirahat, leyeh-leyeh sambil nemeni dito main dan nunggu suami pulang :D. oh iya, bedanya lagi sama kehamilan pertama dulu yang tanpa mimisan, seminggu terakhir ini saya mimisan. bukan mimisan yang sampai keluar hidung tapi mimisannya beku. dari artikel yang saya baca sih normal terjadi pada ibu hamil. selain itu saya sering pusing, berkunang-kunang. mungkin tekanan darah saya turun. atau jangan-jangan karena kemarin saya sempat diambil darah buat dicek macam-macam penyakit itu? saya sih ga begitu memperhatikan, tapi sekilas sepertinya cukup banyak yang di ambil. ada 3 tabung kecil, hiiiiiiiiii…..sepertinya harus dikonsultasikan sama dokter minggu depan.

soal ngidam mengidam, dulu saya ngidam tomyum (padahal sebelum hamil saya gak doyan), sekarang saya ngidam makanan indonesia, mulai rendang, tongseng, sate ayam (gara-gara lewat warung yakitori)…pokoknya selalu terbayang apa yang ga ada di sini. akhirnya terpaksa saya masak sendiri, bermodal nekat dan contek resep sana-sini. yah…lumayan lah daripada ga keturutan, nelangsa rasanya 😦 saya juga sempat minta adik saya mengirim rendang kering, buah mangga, dan kedondong yang alhamdulillah semua sampai dengan selamat 🙂 dan Gusti Allah sungguh sayang sama saya, lewat status FB salah satu teman saya, saya jadi bisa ketemu daun singkong lagi setelah setahun lebih! meskipun harganya mahal dan harus pesan nun jauh di okubo sana lewat internet. senangnyaaaaa…..saya bisa puas makan daun singkong selama hampir 5 hari, hehehee….

semoga mabok hamil saya cuma sampai trimester pertama saja. amin. tak sabar menunggu minggu depan untuk “ngintip” si murbei jilid 2 lagi. semoga sehat selalu ya…