bapak

di waktu kecil saya adalah salah satu anak yang beruntung. saya terlahir di sebuah keluarga yang sederhana. dibilang berkecukupan, ga juga. saya pernah ikut merasakan prihatin bersama orang tua saya. kedua orang tua saya guru, tapi bapak saya nyambi bertani. saya ikut membantu saat masa tanam tembakau di sawah, mulai menanam bibit, menyiram, memunguti ulat, sampai memanen. saya masih ingat sekali, untuk menyiram tembakau bapak saya harus memikul 2 “blek” (semacam ember untuk mengangkut air terbuat dari seng dan mempunyai penampang segiempat) dengan pikulan bambu dari sumur ke sawah kami. meskipun jaraknya hanya beberapa puluh meter tapi bolak-balik pasti melelahkan juga. karena pagi sampai siang bapak mengajar, bapak saya kadang mengerjakannya di malam hari. bapak saya benar-benar bekerja keras. saat tembakau sudah mulai tumbuh agak tinggi, ulat pun bermunculan. saya yang kebagian tugas memunguti ulat di sela-sela daun tembakau. ulat tembakau ini berwarna hijau dan tidak berbulu. biarpun begitu tetap saja saya geli dan jijik. karenanya bapak “mempersenjatai” saya dengan tang dan sebuah ember kecil berisi minyak tanah. keberadaan ulat tembakau bisa diidentifikasi dari keberadaan kotoran ulat di sela-sela daun dan daun-daun sekitar yang bolong-bolong. begitu ketemu saya tinggal catut pakai tang lalu masukkan ke ember. lama-lama ulat itupun mati. hiiiiii….sadis ya.
setelah tembakau dipanen ada satu tahapan yang saya juga ikut bantu-bantu yaitu bagian congok. congok adalah istilah untuk menata lembaran daun tembakau pada tusuk dari batang bambu sebelum dijemur. congok ini sungguh melelahkan karena bisa berlangsung sampai dini hari. satu hal yang saya benci, lapisan lengket daun tembakau yang menempel dan menumpuk di tangan saat congok, dan supaya mudah membersihkannya tangan digosok pakai minyak tanah, saya tidak suka baunya. semua kegiatan dalam rangka membantu bapak saya itu saya lakukan dengan senang hati karena saya menganggap itu bagian dari bermain. kini saya menganggapnya sebagai sebuah kenangan manis dan saya beruntung sempat mengecap pengalaman itu.

meskipun saya sempat mengalami masa dimana kami, terutama orang tua saya, harus bekerja keras untuk membangun pondasi yang kuat bagi kesejahteraan keluarga, saya tak pernah merasa kekurangan. bahkan saya merasa cenderung dimanjakan. terutama dalam hal perhatian dan kasih sayang. saya sungguh beruntung punya bapak seperti bapak saya, yang membuat masa kecil saya tak terlupakan. meskipun saya anak perempuan, bapak saya mengenalkan saya pada permainan yang biasanya dilakukan anak laki-laki, yang membuat masa kecil saya penuh petualangan.

bapak saya aktif di pramuka. bapak selalu mengajak saya setiap kali mengunjungi acara perkemahan. bapak hobi memancing dan kadang mengajak dan mengajari saya memancing di waduk dengan menyewa perahu. selain itu saya juga pernah diajak mencari wader dan udang di sungai. suatu kali saya pernah diajak mencari jangkrik malam-malam di sawah. bapak juga mengajari saya menembak pakai senapan angin dengan kaleng sebagai sasaran tembaknya. yang mengharukan (dan saya kepingin menangis tiap kali mengingatnya) saat saya sakit, bapak membuatkan layang-layang superbesar berbentuk garuda bertuliskan nama saya DIAN :D. saking besarnya, benangnya bukan lagi benang layang-layang biasa, tapi tali yang biasa untuk jemuran dalam diameter yang lebih kecil. menerbangkan dan menurunkannyapun bapak harus memakai sarung tangan supaya tali itu tidak membuat lecet. layang-layang itu mengundang decak kagum anak-anak lain dan para tetangga. baru di malam hari layang-layang itu diturunkan oleh bapak. bapak jugalah yang mengajari saya naik sepeda. sebelumnya, acara membeli sepeda inipun tak lepas dari petualangan. toko sepeda yang dituju jauh dari rumah kami. umumnya kesana naik angkutan umum. tapi bapak mengajak saya jalan kaki lewat sawah, bukan jalan raya yang biasa dilewati kendaraan. kalau diingat-ingat jarak itu sangat jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. tapi saya tidak ingat kalau waktu itu merasa capek. atau mungkin capek saya langsung hilang terobati oleh sepeda baru itu? 😀
bapak saya juga terampil sekali bertukang. beberapa perabot di rumah kami seperti kursi, meja, dan lemari bapak sendiri yang membuatnya. bapak juga membuatkan saya rumah-rumahan di halaman belakang. rumah-rumahan dengan rangka batang kayu, dinding dari kantong sak bekas wadah pupuk, dan atap dari daun kelapa. tak terkira gembiranya saya waktu itu. bapak saya juga mahir memotong rambut. dari kecil rambut saya dan adik-adik dipotong sendiri oleh bapak. bapak telaten sekali memotong ujung-ujung rambut saya yang panjang dan bercabang. seingat saya, pertama kali saya potong rambut di salon adalah waktu saya sudah duduk di bangku SMP.

tak hanya itu…saat saya beranjak dewasa dan ada masalah, bapak saya ikut menangis (iya…menangis!) ketika saya tersakiti dan terpuruk, lalu menghibur dan menguatkan saya. bapak saya memanjakan tapi juga melatih mandiri dan kerja keras.

Dari ‘Aisyah r.ha. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak
perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”
sungguh bapak saya telah menyenangkan hati anak perempuannya dengan segala upaya. Semoga Allah ridha dengan segala usaha beliau.

tiba-tiba kangen teramat sangat pada bapak. hiks…sensitif sekali akhir-akhir ini *mbrebes mili*

Advertisements

4 thoughts on “bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s