20 weeks!

Alhamdulillah, separuh perjalanan kehamilan sudah saya lewati.

sabtu kemarin saya periksa lagi ke klinik dekat rumah. saya dan si murbei 2 sehat, pertumbuhannya juga normal sesuai umurnya, dan gerakannya sudah semakin heboh terasa di dalam sana. sering saat saya berbaring santai, saya suka berlama-lama mengamati perut saya yang “bergejolak” karena gerakannya, kadang juga si murbei terlihat “mepet” ke satu sisi perut saya jadi perut saya terlihat benjol sebelah alias tidak simetris πŸ˜€ si murbei juga sering cegukan ditandai dengan sensasi denyutan di perut yang ritmenya jelas dan teratur. sayang waktu di USG dan mau dilihat jenis kelaminnya si murbei 2 ini ga mau diajak kompromi, jadi belum bisa dipastikan lagi cowok atau cewek.

yang bikin saya kaget kemarin adalah pertambahan berat badan saya, 2.5 kg dalam 4 minggu terakhir. oh nooo….dokter bilang sebulan mendatang cuma boleh 1 kg saja. di sini memang dikontrol ketat pertambahan berat badan, takutnya bayinya nanti terlalu besar. hiks 😦 saya masih gak percaya masa sih sampai 2,5 kg. padahal saya merasa ukuran perut saya belum terlalu besar, badan saya juga belum terlalu melar. rok dan celana masih pada muat.

hmmm…sepertinya saya harus mulai diet nih, mengurangi ngemil di sela-sela jam makan. memang kemarin-kemarin saya banyak ngemil dan minum yang manis-manis. mungkin bawaan musim panas ini, males makan berat dan pengennya minum yang dingin, manis, dan seger.

kehamilan pertama saya dulu berat badan tidak terkontrol. saya banyak sekali ngemil waktu di tempat kerja. sampai-sampai saya selalu sedia stok cemilan, bergantian sama teman-teman saya untuk dinikmati bersama. makanya berat badan saya naik sampai 18 kg. Dito juga lahirnya besar, 3.8 kg. gara-gara berat lahir besar takutnya Dito kena hipoglikemi (kadar gula kurang) lalu bidan di tempat saya melahirkan menyarankan Dito diberi susu formula karena ASI belum keluar. dan saya iyakan saja karena saya kurang ilmu 😦 jadi Dito sempat merasakan susu formula selama hampir seminggu 😦 saya ga mau itu terjadi lagi, semoga kali ini berat badan aman terkendali dan kami berdua sehat selalu. amiin.

muka si murbei waktu di USG πŸ™‚

girl’s smock

masih dalam edisi baju anak-anak, kali ini saya buat smock dengan ukuran 100.Β  pola masih diambil dari buku yang sama dengan proyek saya sebelumnya yaitu smock and apron for kids.Β 

 

bahan yang saya pakai 100% cotton dari hokkoh bertema tea party dengan motif bunga-bunga cantik. pertama kali melihat saya langsung jatuh cinta dengan motifnya *juga harganya* πŸ˜€ makanya saya beli 2 dalam tone warna yang berbeda.

they’re just too pretty πŸ™‚

 

pengerjaan smock ini terhitung cepat, dari sore sampai malam…tidak perlu waktu berhari-hari seperti proyek saya yang lain.Β  meskipun sempat bermasalah dengan mesin obras saya,Β  hasil akhirnya cukup memuaskan *not to mention some wonky seams inside :P* semoga penerimanya nanti suka ^^ can’t stop giggling saat membayangkan si cantik berambut ikal itu nanti memakainya πŸ˜€

definitely in love with this one

saya benar-benar menikmati pengerjaan dua proyek terakhir saya membuat baju untuk anak-anak. semoga ini bukan hanya kesenangan sesaat, karena saya berharap bisaΒ  menjadikannya usaha suatu saat nanti. tapi masih banyak yang harus dipikirkan…seperti bagaimana meningkatkan kesabaran, ketelatenan, dan ketelitian saya dalam jahit-menjahit, biar kualitas jahitan bisa dipertanggungjawabkan, hehehe…..

girl’s blouse and jumper skirt

dari dulu saya kepengen bikin baju anak-anak. baju anak-anak itu modelnya simpel-lucu-manis, hemat bahan, dan cepat pengerjaannya. beberapa buku pola baju anak-anak sudah menumpuk di lemari tapi belum ada satupun yang saya praktekkan. usaha pertama saya dulu bikin jumpsuit buat dito gagal total, jadinya kekecilan. beberapa minggu yang lalu saya juga berencana bikin celana buat dito, tapi baru sampai tahap menggambar pola dan belum terealisasi sampai sekarang. akhirnya saya pindah ke proyek lain, baju buat filza, keponakan saya.

Β 

blouse dan jumper skirt buat filza ini selesai dalam 2 hari. pola blouse saya ambil dari buku pola smock and apron for kids dengan ukuran 110. bentuknya sederhana, kerah bulat dengan lipit di bagian depan dan kancing di bagian belakang. bahan yang saya pakai katun motif polkadot warna-warni sepanjang 1 meter dan ternyata masih sisa. sisanya saya pakai untuk lining jumper skirt karena kebetulan bahan untuk jumper skirt kurang. harusnya 1,5 meter, padahal saya beli cuma 1 meter.

warna aslinya gak begini

untuk jumper skirt saya pakai pola dari buku kids simple wear dengan ukuran 110. bahan yang saya pakai bermotif strip merah putih dan agak tebal. jumper skirt ini pengerjaannya agak rumit buat saya yang masih pemula. untung saja gambar step by step di bukunya jelas, karena saya 90% bekerja mengandalkan gambar mengingat penguasaan kanji dan bahasa jepang saya masih di bawah level anak SD kelas 1 πŸ˜€

terlihat warna aslinya setelah ditaruh di tatami

perpaduan warna dan motif yang yummy ^^

menjahit baju anak-anak memang menyenangkan! saya jadi berpikir suatu saat nanti kalau kemampuan menjahit saya sudah lebih canggih, saya mau bikin online shop baju-baju handmade termasuk baju anak-anak ^^ semoga terwujud, amin ya Allah….

hand, foot, and mouth disease

hand, foot, and mouth disease adalah penyakit yang biasa muncul di musim panas. penyakit ini disebabkan oleh virus dan akan sembuh dengan sendirinya dalam 3-7 hari.

musim panas kali ini dito terkena HFMD ini 2 kali. bulan lalu dan bulan ini. 2 minggu setelah sembuh dari HFMDnya yang pertama dito terkena lagi minggu lalu. gejalanya demam tinggi sampai 39 derajat lalu turun. setelah demam turun muncul bintik-bintik merah di telapak tangan, kaki, dan sekitar mulut. bintik-bintik itu sebagian berair dan yang di telapak tangan dan kaki hanya berupa ruam-ruam kemerahan. waktu terkena HFMD yang pertama dito baru saya bawa ke dokter setelah demam turun. biasanya kalau demam biasa selama dito masih mau makan, minum, dan main, saya masih bisa agak tenang. cuma waktu itu karena disertai munculnya bintik-bintik saya jadi khawatir juga. tapi ternyata dokter bilang HFMD, penyakit karena virus dan umum saat musim panas. dito tidak diberi obat apapun karena HFMD akan sembuh sendiri nantinya. dito cuma diberi obat penurun demam yang hanya boleh diberikan saat suhu tubuhnya lebih dari 38,5 derajat dan diberikan dalam jangka waktu 6 jam. ternyata benar, dito sembuh dalam waktu seminggu dan obat penurun demamnya belum terpakai sama sekali karena setelah bintik-bintik muncul suhu tubuh dito normal-normal saja.

HFMD yang kedua ini yang saya rasa agak berat. seminggu yang lalu, hari senin, sepulang dari hoikuen badan dito agak hangat. besoknya demam turun dan muncul banyak sariawan di bibir bawah bagian dalam, ada sekitar 5. dan di kiri-kanan mulut bagian dalam masing-masing 1. di bibir bawah bagian luar juga ada 2 bintik merah berair. sedangkan di tangan dan kakinya hanya sedikit dan baru muncul hari rabunya. saya langsung bawa dito ke dokter dan ternyata HFMD 😦 saya pikir dito gak bakalan kena lagi. dokter bilang terkena lebih dari sekali itu juga biasa 😦 dan sama seperti kunjungan bulan lalu, dito tidak diberi obat sama sekali. tinggal menunggu saja sembuh dengan sendirinya 4-5 hari ke depan. kali ini dito benar-benar rewel. bisa dibayangkan sih tidak nyamannya…orang dewasa yang kena sariawan 1 biji saja badan rasanya meriang, apalagi anak kecil seperti dito dengan sariawan berjejer begitu 😦 duh…kasihan sekali dito. nafsu makan turun drastis gara-gara trauma tiap kali sariawannya terkena makanan. sering kali mengeluh “itai” (sakit)…benar-benar gak tega 😦 karena tidak makan dito jadi banyak sekali minumnya, susu, jus, air putih, tapi ASI malah jarang minta. yang berat lagi, dito jadi manja sekali, karena tidak nyaman dengan kondisi badannya dia berusaha mencari kenyamanan dengan sering minta gendong dan dipeluk. haduhhhh…saya capek dibuatnya. karena sariawan juga, produksi air liur dito jadi bertambah. susahnya, dia ogah pakai bib atau saputangan yang saya pasang di dadanya. baru beberapa jam bajunya bagian depan sudah basah dan terpaksa harus diganti. akhirnya saya punya ide untuk memasang dulu sapuntangannya di baju yang akan dia pakai sebelum dipakaikan. meskipun dito tetap berusaha melepasnya, setidaknya perlawanannya jauh berkurang dan akhirnya dito menyerah πŸ˜€

Alhamdulillah hari ini dito sudah jauh membaik. dari kemarin dito sudah bisa makan nasi sedikit-sedikit. pagi ini pun dia mau makan nasi goreng favoritnya. tapi sewaktu mau ditinggal di hoikuen pagi ini, tumben dito menangis…mungkin karena hari jumat kemarin dia libur karena masih sakit, perlu membiasakan diri lagi atau mungkin juga karena pagi ini bapak ikut mengantar? dito memang lebih manja sama bapak, karena bapak yang lebih suka gendong dan cenderung menuruti semua keinginannya πŸ˜€
semoga cukup 2 kali saja dito kena HFMD dan semoga sehat seterusnya. amin.

hari pertama Dito masuk hoikuen

hari pertama Dito masuk hoikuen kemarin Alhamdulillah semua berjalan lancar. saya bangun jam 4.30 (tumben) dan ga tidur lagi. saya terlalu nervous menghadapi hari pertama ini, padahal Ditonya tenang-tenang saja. lebay memang….cuma 4 jam aja lho nanti ditinggalnya.

saya cek lagi semua persiapannya, peralatan selama nanti di hoikuen : baju ganti, popok, training pants, lap tangan, lap makan, celemek makan, lap sehabis cebok, handuk sedang dan handuk besar buat selimut dan alas tidur siang, baju yang mau dipakai waktu berangkat, kaos kai, sepatu, semua beres. semua sudah saya beri label nama malam sebelumnya. semua saya masukkan ke tas besar bermotif kereta yang dipilih sendiri oleh Dito dan baru saya selesaikan beberapa hari yang lalu.

setelah semua persiapan Dito beres, saya buru-buru masak dan beres-beres rumah sekaligus menyiapkan keperluan saya untuk kelas nihongo. saya kepengen semua lancar hari ini dan persiapan selesai sebelum jam 9, karena saya harus ke nokata dulu untuk memperpanjang kartu bis saya. akhirnya kami siap sebelum jam 9. saya ke nokata sementara Dito sama bapaknya duluan berangkat ke hoikuen. ternyata saya selesai dari nokata pas jam 9. sambil menunggu jam 9.15 kami berhenti di pinggir sungai melihat ikan, kura-kura, dan bebek sambil mengingatkan Dito sekali lagi bahwa hari ini dia mulai masuk hoikuen, bermain bersama teman-teman dan sensei-sensei untuk kemudian ibu jemput sepulang dari kelas nihongo.

jam 9.10 kami masuk hoikuen, mengantar Dito ke kelasnya (kelompok 1-2 tahun) dan menaruh semua perlengkapan Dito di tempatnya masing-masing yang diberitahukan oleh salah seorang sensei. setelah itu saya diminta mengisi lembar informasi mengenai : jam berapa Dito diantar hari ini, sudah sarapan atau belum, sudah pup atau belum (kalau sudah, bagaimana pupnya tadi lembek atau padat), jam berapa nanti dijemput, dan siapa yang menjemput. selesai mengisi lembar informasi itu, baru kami bisa meninggalkan Dito untuk beraktivitas.
saat kami tinggal Dito tenang sekali dan tidak menangis. mungkin karena sudah terbiasa di daycare Fuku-fuku Plaza, apalagi di Ayumirai hoikuen lebih banyak lagi temannya. waktu itu jadwal taiso (senam), anak-anak menggerakkan badannya sesuai arahan sensei dan mengikuti musik, lalu berlari berkeliling aula. Dito ikut berlari-lari kecil sambil digandeng senseinya. kami pun berpamitan dan meninggalkannya dengan tenang.

kali ini saya ambil rute berangkat ke kelas nihongo berbeda dari biasanya (bis 505 dari iki chugakko). sepeda saya taruh di parkiran toricho bersama suami saya, dia menunggu bis ke Ito Campus di halte toricho itu sementara saya berjalan dulu ke halte ishimaru 3 chome menunggu bis 506 ke tenjin. ada bagusnya juga saya ambil rute yang beda dari biasanya ini, saya bisa sampai kelas tepat waktu (biasanya seslalu terlambat, hehehe….). bahkan saya yang pertama datang setelah Matsushita sensei πŸ˜€

jam 13.15 jadwalnya Dito saya jemput. kelas nihongo saya selesai jam 12. tapi saya terlambat ikut bis yang jam 12.01 (bisnya juga terlambat sebenarnya) dan akhirnya ikut bis jam 12.11. saya perkirakan sampai tenjin kurang dari jam 12.30 dan masih bisa ikut bis 12.34 yang 506 atau bis yang ke Ito Campus pada jam yang sama. tapi ternyata sejak dari pintu keluar tol, jalanan macet sekali. semua kendaraan merayap pelan. aduh…saya sempat stres dan bolak balik melihat jam (yang bikin saya semakin stres). saya baru bisa turun di depan kantor pos tenjin jam 12.38 (telat hampir 10 menit dari jadwal). begitu turun saya lari menyeberang, Thank God…2 penyeberangan yang harus saya lewati lampunya pas menyala hijau terus. sampai di halte tenjin kita saya atur nafas…sambil membatin dalam hati, meminta maaf ke si murbei 2 dalam perut, pasti dia kaget diajak lari-lari begitu, berharap semoga ga kenapa-kenapa. saya sudah hopeless bisa ikut bis 506 atau bis ke Ito Campus jam 12.34, karena saat itu sudah jam 12.43. saya hanya berharap bis 505 yang jam 12.44 tepat waktu. untungnya tak lama bis ke Ito Campus datang (untungnya bis ini terlambat 9 menit, mungkin karena kemacetan di tenjin area), sayapun naik dan terpaksa berdiri karena bisnya penuh. sampai di toricho pas jam 13.00 lalu saya mengambil sepeda di parkiran dan mengayuhnya menuju hoikuen.

saya masuk kelas dengan pelan karena waktu itu jam tidur siangnya anak-anak. semua anak tidur kecuali Dito dan satu temannya. begitu melihat saya Dito langsung berlari dan teriak memanggil “ibu…ibu…” sambil tertawa-tawa. saya peluk Dito sambil berbisik “sssttt…teman-teman lagi pada tidur” dan Dito pun menurut. dalam diam dia mengikuti saya untuk mengisi lembar informasi dan menerima penjelasan dari senseinya bagaimana aktivitas Dito seharian ini. sensei juga menyertakan lembar catatan aktivitas itu untuk dibawa pulang. setelah membereskan perlengkapan Dito kami pun berpamitan.

sebelum keluar, saya bereskan pembayaran hari itu di loket kantor. sementara itu Dito mengambil sendiri sepatunya di rak. saya kaget, ternyata dia masih ingat di rak sebelah mana saya menaruhnya tadi pagi di antara sekian banyak sepatu anak-anak yang lain πŸ™‚ senseinya juga sempat kaget. wah…satu lagi kemampuan Dito yang membuat saya takjub.
setlah semua beres kamipun pulang.

Dito yang tidak ikut tidur siang bersama teman-temannya sepertinya mulai mengantuk. dalam perjalanan dia bilang minta mimik dan minta dikeloni. akhirnya sampai di rumah dia benar-benar tidur setelah minum ASI sambil dikeloni πŸ˜€
sementara Dito tidur saya iseng membaca dan berusaha menerjemahkan catatan dari senseinya hari ini. kira-kira isinya seperti ini :
hari ini Dito
– makannya habis separuh
– tidak pup
– suhu badannya 37.2
– tidak ada luka fisik
– tidak menangis
– tertarik pada semua hal
– bilang “shuppatsu” dan “bye-bye” waktu mau pergi
– bisa salaman sama temannya
– senin depan ibu diminta membawa sebuah buku untuk mencatat hal-hal berkaitan sama Dito selama di hoikuen.

hari pertama ini bisa dibilang semua berjalan lancar. Dito sungguh membanggakan. saya rasa dia cepat sekali beradaptasi, ceria, kuat, mau dan bisa belajar mandiri. saya sampai terharu…T_T semoga hari-hari berikutnya juga lancar semuanya. amin.

aduh…sayang sekai saya malah lupa motret Dito di hari pertamanya di hoikuen T_T

16 weeks

Alhamdulillah, si murbei 2 sehat dan saya sudah mulai merasakan gerakannya. beberapa kali dia cegukan πŸ™‚ senangnya bisa merasakan lagi sensasi itu…
dari pemeriksaan USG kemarin sabtu, diameter kepala si murbei 2 sudah 3,52 cm da dokter bilang kemungkinan jenis kelaminnya laki-laki. kalau memang benar berarti saya bakal jadi yang paling cantik serumah πŸ˜€
keluhan selama trimester pertama kemarin sudah hilang dan saya merasa fit seminggu terakhir ini. meskipun berat badan saya terus menyusut tapi sepertinya tidak terlau berpengaruh ke perkembangan si murbei 2. perut saya sekarang juga mulai terlihat membuncit *sedikit*, tapi baju, rok, celana, semua masih muat πŸ˜€ semoga setelah semua keluhan hilang berat badan saya bisa naik.

eksperimen bersama : es cendol

fukuoka mulai panas seminggu terakhir ini. dan panas-panas begini saya selalu terbayang segarnya es kelapa muda, es cendol/dawet, es teler, dan teman-temannya yang tentu saja susah didapat di fukuoka. setelah sebelumnya saya janjian sama Uma, teman saya sesama ibu hamil, kami sepakat hari kamis kami mau belajar bikin es cendol. resepnya didapat Uma dari sini. sepertinya tidak terlalu sulit dan bahan-bahannya juga mudah didapat.

jadilah hari kamis kemarin kami bertiga (saya, Uma yang juga lagi hamil muda, sama Mbak Mala yang lagi kepingin hamil juga) berkumpul di rumah saya dan bereksperimen bersama. saus gula dan santannya sudah saya buat sebelumnya, jadi tinggal bikin cendolnya dan ini bagian yang paling ribet. berhubung keterbatasan alat berupa wadah berlubang untuk mencetak cendolnya, kami pakai sodet berlubang yang ternyata kekecilan. ini membuat proses mencetak cendolnya jadi lama, apalagi waktu itu saya dengan pedenya memutuskan untuk membuatnya 3 kali lipat porsi yang ada di resep. maksud saya biar bisa dibagi-bagi buat tetangga dan dibawa pulang buat suami masing-masing. akhirnya Mbak Mala mengusulkan untuk mencabik-cabik *duh…bahasanya* adonan dalam air saja, meskipun bentuknya nanti jadi tidak beraturan yang penting berasa cendol, hehehehe….akhirnya setelah kami bertiga bergantian mencetak cendol dengan penuh perjuangan, akhirnya cendolnya jadi juga πŸ˜€
berhubung tidak ada nangka, Uma membawa kelapa muda kalengan sebagai pelengkap. setelah semua siap kami racik sendiri-sendiri es cendolnya dan menikmatinya bersama. soal rasa jangan ditanya, tapi puassss deh bikinnya *dan minumnya tentu saja*….^^

oh iya, sebagai pelengkap acara ngobrol-ngobrol menikmati es cendol, saya juga bikin tahu bakso dan rujak dengan bahan seadanya. nyammm…:)