37 weeks and a waiting game

usia kandungan saya sekarang sudah lewat 37 minggu, hampir 38 minggu…semua ketidaknyamanan di trimester terakhir sudah saya rasakan. dari sakit pinggang bagian bawah, frekuensi pipis yang meningkat, kram, kontraksi palsu, gampang lelah…

periksa terakhir si murbei 2 beratnya sudah sekitar 2800 gram. tapi kepalanya belum juga turun ke pelvis. menilik riwayat kehamilan saya sebelumnya, dokter bilang mungkin si murbei 2 ini bakal gede juga. 2800 gram di usia 37 minggu itu kata dokter terlalu besar. berat segitu mestinya untuk usia kehamilan 38 minggu. mungkin untuk ukuran di sini terlalu besar, tapi kalau saya lihat di chartnya baby center segitu masih normal-normal saja.

beberapa minggu ke depan bakalan jadi waiting game nih…murbei bisa lahir kapan saja. rasanya antara cemas, khawatir, takut, senang, terharu…campur aduk, sampai kadang bikin mood saya jungkir balik gak karuan. tau-tau nangis sendiri…terus tiba-tiba jadi super excited, kadang jadi maleeeessss mau ngapa-ngapain apalagi hawa sudah semakin dingin, tapi terus tiba-tiba jadi semangat beberes ini itu. berasa adaaaa aja yang perlu dibereskan sebelum si murbei 2 lahir.

ya Allah, Gusti…..jujur saya sudah gak sabar ketemu si murbei 2 yang sudah hampir 9 bulan ada di rahim saya ini. beri saya kekuatan untuk melewati skenarioMu selanjutnya. Amin.

sewing update

kondisi fisik saya akhir-akhir ini semakin payah saja. perut yang semakin besar membatasi gerak saya. susah pindah posisi sewaktu tidur atau dari posisi duduk ke berdiri, susah pakai sepatu dan kaos kaki…dan yang jelas gampang capek! mobilitas dan aktivitas semakin melambat.

banyaknya persiapan menjelang kelahiran anak ke dua ini membuat saya hampir gak sempat lagi menjahit. saya gak punya meja khusus jahit, jadi mesin jahitnya ditaruh di meja pendek dan saya lesehan kalau menjahit. perut besar membuat saya gak bisa lama-lama duduk lesehan.

proyek jahit menjahit yang bisa saya kerjakan dalam sebulan terakhir ini cuma ganti sarung futon Dito dan menyelesaikan baju Uma yang terbengkalai berbulan-bulan lamanya. *Uma maafkan sayaaa….
sebenarnya masih ada quilt yang rencananya buat menyambut kelahiran adik Dito, tapi sepertinya saya menyerah saja. entah kapan selesainya….malessss dan boseeeeennn ngerjainnya. rencana bikin bumper buat box bayi, diaper bag, dan nursing apron juga entah kapan terlaksana. yahhh sudahlah…saya gak mau ngoyo, meskipun ada sedikit rasa gimana gitu kalau mesin jahit saya nganggur.

ini futon refashion yang sebenarnya udah selesai bulan lalu. awalnya futon Dito ini warisan dari Mas Kio, berhubung covernya sudah kusam akhirnya saya ganti. yang milih motif kainnya ini Dito sendiri lho…ehmmm, dengan sedikit manipulasi dari ibu tentunya, hehehehe…..
jadi ceritanya Dito saya ajak ke toko kain. ada kain warna krem bermotif truk dan alat-alat berat kecil-kecil yang Dito suka, tapi harganya agak mahal. akhirnya saya tunjukkan satu lagi kain bertema pantai yang lebih meriah warnanya dan tentu saja lebih murah harganya. saya minta Dito memilih dan akhirnya dia memilih yang kedua. horeeee…!!!
berhubung saya salah perhitungan, kain yang saya beli ternyata kurang. jadinya saya sambung kain polos warna biru di kedua sisi futon. selain itu lebar futon juga saya kurangi dengan memotong busa di dalamnya 5 cm di salah satu sisi. hasilnya tidak terlalu mengecewakan meskipun juga bisa dibilang tidak terlalu rapi 😛

 

 

proyek kedua yang baru selesai kemarin malam adalah bajunya Uma teman saya yang lagi hamil juga. modelnya simpel saja, terusan dengan model jumper dengan kerut di bawah dada dan tali di belakang. sempat khawatir kain kurang karena saya salah ukuran waktu bikin bagian atasnya. jadi saya bikin lagi bagian atas dengan ukuran yang lebih besar. selain itu karena Uma sendiri posturnya tinggi, sedang hamil pula, jadi seluruh lebar kain terpakai buat bikin bagian roknya. lega deh akhirnya jadi juga….lunas hutang saya, hehehe….dari kemarin khawatir gak kepegang, sayanya keburu lahiran dan Uma juga perutnya semakin besar, keburu mau dipakai bajunya. semoga pas dan bisa mengakomodasi perutnya yang akan semakin membesar nanti ^^

36 weeks


wah…ga kerasa, kehamilan saya sudah melewati usia 36 minggu. kurang lebih 4 minggu lagi si murbei 2 akan meramaikan rumah kami ^^

sudah lama juga ternyata saya gak update blog. update kondisi kehamilan di usia 32 dan 34 minggu juga terlewat. jadi saya gabung aja di tulisan kali ini.

di usia 32 minggu si murbei 2 perkiraan beratnya sudah 1738 gram. waktu diintip lewat monitor USG dia lagi ngenyot jempolnya, hihihihi….kawaiii….
mulai 32 minggu ini saya sudah ga bisa naik sepeda lagi. dokter bilang abunai…jadi saya manut saja. mungkin karena perut semakin besar, takutnya susah menjaga keseimbangan ya. apalagi selama hamil ini sudah 2 kali saya jatuh dari sepeda (tapi saya gak bilang sama dokternya, hehehe….). semoga gak kenapa-kenapa.
saya yang biasanya sepedaan buat belanja, antar jemput dito, ke halte bis, atau sekedar “ndolanke” dito, sekarang mau gak mau jadi banyak jalan. lebih capek sih, tapi dengan begitu berharap nanti bisa memperlancar proses melahirkan. amin.

di usia 32 minggu ini manuver si murbei 2 di dalam perut semakin heboh, ga siang ga malem. nanti setelah keluar dan tumbuh makin besar seaktif itu juga gak ya? 🙂

di usia 34 minggu berat si mubei 2 sudah sekitar 2062 gram, dalam kondisi sehat, tetap aktif, dan pertumbuhan sesuai dengan umur kehamilan. sewaktu periksa rutin 34 minggu ini, sekalian saya tanyakan juga bagaimana prosedur melahirkan di klinik tempat saya periksa nanti. bagaimana kebijakan mengenai IMD, pemberian ASI, survey ruangan, dan berapa besar kira-kira biaya yang diperlukan untuk persalinan normal.

berikut kira-kira garis besar birth plan yang kami sampaikan ke pihak klinik waktu ngobrol-ngobrol kemarin.
mengenai IMD, Alhamdulillah bisa dilaksanakan sesuai permintaan si ibu. suami juga bisa ikut menunggui saat persalinan. untuk pemberian ASI, ternyata mereka biasa memberikan susu formula. tapi tetap si ibu bisa mengajukan keberatan jika ingin bayinya hanya diberi ASI. saya gak mau bayi saya dikasih susu formula, kecuali kalau memang saat itu ASI saya belum keluar (seperti waktu Dito lahir dulu). tak lupa juga permintaan khusus mengenai makanan yang bisa saya konsumsi. untuk amannya saya hanya minta menu sayuran dan seafood.

setelah menjawab beberapa pertanyaan mengenai riwayat melahirkan anak pertama dulu, pihak klinik lalu membawa kami tur melihat ruang tunggu selama kontraksi yang bersebelahan dengan ruang bersalin, ruang observasi bayi, dan ruang rawat inap.
jangka waktu rawat inap persalinan normal adalah 4 hari. hari pertama dihitung dari keesokannya setelah melahirkan. ada 2 pilihan ruang rawat inap. satu ruangan kapasitas 4 orang yang dipakai bersama dengan kamar mandi di luar atau kamar tersendiri dengan kamar mandi di dalam. defaultnya sih si ibu akan ditempatkan di ruang bersama kecuali saat itu ruang bersama penuh maka akan ditempatkan di kamar tersendiri. pihak klinik tidak membolehkan kepindahan dari ruang bersama ke kamar tersendiri di tengah-tengah masa rawat inap. untuk ruang bersama tidak dikenakan biaya tambahan sedangkan untuk kamar tersendiri dikenakan tambahan biaya 4000 yen sehari. setelah berembuk sama suami, saya memilih kamar tersendiri untuk masa rawat inap nanti.

mengenai keperluan untuk ibu dan bayi selama proses melahirkan dan masa setelah melahirkan, klinik sudah menyediakan dalam satu paket dasar perawatan seperti breast pad, pembalut nifas, perawatan pusar bayi, cotton bud, kasa, dan sebagainya. ibu cukup menyiapkan piyama tidur dengan bukaan depan untuk memudahkan menyusui, sandal, gelas, handuk, toiletries, korset/setagen, dan celana dalam pasca melahirkan. sedangkan untuk bayinya 1 set baju ganti buat dipakai saat pulang dan beberapa lembar sapu tangan gauze. ahhhh…melegakan….oh iya, klinik juga menawarkan massage dengan aromatherapy untuk ibu pasca melahirkan tanpa kena biaya tambahan yang tentu saja saya iyakan dengan senang hati, hehehehe…..

mengenai birth plan sepertinya sudah cukup jelas bagi kami maupun pihak klinik. hanya saja ada satu hal yang masih jadi ganjalan buat saya dan suami. pihak klinik tidak mengijinkan Dito ikut menginap bersama saya. memang kebijakan di sini tidak mengijinkan keluarga menginap, saya gak ada masalah dengan itu. tapi……ini soal Dito…..

jadi ceritanya suami saya bakalan ada conference di Australia dari tanggal 4-10 Desember. padahal HPL saya juga sekitar tanggal itu. kalau saya melahirkan pas suami saya gak di sini, Dito gimana?
siang hari Dito bisa saya titipkan ke tetangga, teman-teman Indonesia di sini. lah malemnya? dari lahir Dito belum pernah sekalipun pisah tidur dari saya. saya khawatir dia bakalan rewel dan merepotkan tetangga saya yang nanti bakalan dititipi 😦
coba ya pihak klinik mau mengijinkan Dito tidur sama saya malamnya….

hiksss…yah mestinya saya pasrah saja gimana nanti. Allah yang mengatur semuanya. kami ga tau persis kapan si murbei 2 bakalan lahir. bisa saja lebih cepat atau malah telat. yang bisa kami usahakan saat ini hanya berencana untuk berbagai kemungkinan. kami percaya pasti ada jalan.

kemarin sabtu saat periksa kehamilan 36 minggu, si murbei 2 beratnya sudah sekitar 2599 gram. kepalanya sudah di bawah tapi belum begitu turun ke pelvis. dokter bilang lahir kapan saja gak ada masalah. saya juga di tes darah. tes darah ke tiga selama kehamilan ini. tapi yang kemarin itu yang paling serem. perawat ga bisa menemukan pembuluh darah saya, tangan kiri maupun kanan. padahal sudah dicoblos dua-duanya…hikssss….saya ga berani lihat. cenut-senut rasanya….akhirnya si mbak perawat menyerah dan digantikan perawat kedua yang akhirnya bisa mengambil sampel darah saya. tapiiiii….setelah keluar dari ruangan dan saya ngobrol sama Mbak Ayu yang biasa nganter saya, ehhh lha kok darahnya masih keluar, rembes di lengan baju saya. untung ga terlalu banyak dan segera berhenti. tapi tetap saja serem lihatnya.

dari hasil tes itu dokter bilang darah saya encer, bisa pengaruh obat atau kurang zat besi. saya diminta banyak makan makanan mengandung zat besi. yang saya tangkap kemarin sih disebutkan horenso (bayam) salah satunya. baiklahhhhh….memang akhir-akhir ini saya jarang makan sayur. males masak….

oh iya, mulai 36 minggu ini pemeriksaan kehamilan dilakukan seminggu sekali dan saya diminta datang lebih pagi. tambahan lagi, tiap kali periksa akan selalu diadakan pemeriksaan dalam yang membuat saya ga nyaman itu. haduhhhhh….jadi saya harus siapkan mental saya tiap kali mau periksa nih 😦

semoga si murbei 2 sehat selalu, lahir normal dan lancar, kami berdua diberikan kekuatan dan kemudahan melewati prosesnya. Amin.