menunggu dan merindu

masih dalam episode menunggu…menunggu lahiran dan menunggu suami pulang dari Melbourne.

usia kandungan saya sudah masuk minggu terakhir. si murbei 2 bisa lahir kapan saja. waktu usia 38 minggu kemarin berat badannya sudah sekitar 3 kg dan seminggu kemudian meroket jadi hampir 3,3 kg. sepertinya terhitung besar untuk ukuran bayi di sini. saya pasrah saja lah…nanti lahir mau seberapa besar karena semakin hari nafsu makan saya meningkat gila-gilaan! susah ditahan. apalagi hawa mulai dingin (cari alasan). yang penting kami berdua sehat dan selamat. Amin. dari hasil periksa dalam sejauh ini jalan lahir sudah mulai melunak tapi belum ada bukaan. saya masih beraktivitas seperti biasa meskipun perut semakin sering terasa mengencang, masih jalan kemana-mana dan ikut kelas nihongo lagi setelah bolos berkali-kali. hari minggu kemarin masih sempat mengantar suami ke bandara dan seninnya bawa Dito ke dokter. kelamaan di rumah bikin bosan dan berasa banget kalau sedang “menunggu”…

dua kali hamil sepertinya ditakdirkan suami saya harus pergi ketika dekat-dekat waktu melahirkan. waktu hamil Dito dulu 3 hari setelah HPL suami harus berangkat ke Jepang untuk ujian masuk Kyuushu University. makanya setelah lewat sehari dari HPL Dito belum lahir juga, kami minta diambil tindakan induksi. Alhamdulillah kondisi jalan lahir sudah memungkinkan, kondisi Dito juga bagus dan persalinan berjalan lancar. hamil kali ini di minggu terakhir suami menghadiri conference di Melbourne dan baru akan pulang sehari sebelum usia kandungan pas 40 minggu. semoga kali ini si murbei 2 mau menunggu bapaknya sebelum lahir.

ini pertama kalinya selama di Jepang saya ditinggal berdua saja sama Dito dalam waktu yang lama. sebelumnya paling cuma sehari semalam karena suami harus lembur dan menginap di lab. terasa rumah semakin luas dan sepi. kasihan Dito…sepertinya dia sudah bisa merasakan kehilangan dan kangen bapaknya. setiap bangun pagi bapaknya yang dipanggil karena biasanya begitu bangun digendong bapaknya. saya bilang ke Dito kalau bapak lagi sekolah. itu yang selalu diingatnya…tiap kali melihat foto bapaknya atau barang-barang bapaknya dia selalu bilang “bapak…sekolah…”

yang bikin saya kepengen nangis waktu malam pertama bapaknya pergi, saat itu bertepatan dengan jadwal buang sampah. saya pamit keluar sebentar buang sampah sementara Dito asik nonton Mickey Mouse. kebetulan saya pakai jaket bapaknya. waktu buka pintu rumah Dito sudah di depan pintu sambil berteriak girang “BAPAK!!…”
dia mengira saya bapak yang baru pulang dari kampus 😦
biasanya memang suami pulang dari kampus sudah malam dan Dito hampir selalu menyambutnya di depan pintu. duh rasanya sediiihhhh…..

malam itu Dito ga tenang tidurnya. berkali-kali bangun karena hidung mampet dan batuk. lagi-lagi terasa betapa kehadiran suami sangat berarti saat seperti ini. saat hamil tua begini saya selalu mengandalkan suami bangun malam mengurus Dito kalau dia rewel saat sakit.

Pulang dari dokter hari Senin saya sama Dito lewat stasiun dan Dito pengen sekali naik kereta. wah…repot juga, ga ada tujuan mau kemana. lagipula Dito baru sakit, pengennya langsung pulang, minum obat dan istirahat. akhirnya saya bujuk dia, naik keretanya nanti nunggu Bapak pulang. akhirnya sampai sekarang tiap kali ingat kereta dia bilang “densha…tunggu Bapak”. semalam juga Dito ngelindur manggil Bapaknya…duh nelangsa rasanya (T.T) kemarin juga pas diantar ke hoikuen wajahnya ga ceria, lesu. tapi Alhamdulillah…sore waktu dijemput dia sudah ceria lagi dan asik main sama teman-temannya.

kalau begini terasa sekali betapa kehadiran suami tak akan terganti meskipun teknologi sudah memungkinkan untuk bisa berkomunikasi dengan berbagai cara. keberadaannya di tengah-tengah kami membuat kami utuh dan kuat. saya harus lebih banyak lagi bersyukur dan bersabar. Bismillah….

Advertisements

3 thoughts on “menunggu dan merindu

    • wah, gak punya pembanding sih ya…pengalaman hidup di luar negeri ketika sudah berkeluarga. jadi ya menurutku lebih nyaman setelah berkeluarga. jauh dari keluarga yang lain tapi ada anak dan suami. gak terlalu terasa sepi/kangennya. kalau ada apa-apa juga setidaknya ada yang bisa diandalkan. meskipun ada teman/tetangga, beda aja rasanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s