jihad jilid 2

Now I’m a mom of two! *tarik nafas dalam-dalam
Saya masih suka ga percaya kalau ga lihat tempat tidur bayi di sebelah saya sudah ada penghuninya 🙂
Dito punya adik, saya punya anak perempuan!
Hufffttttt….emosi saya masih suka jungkir balik teraduk-aduk hingga detik ini. It’s too overwhelming.

Setiap kehamilan dan kelahiran punya cerita yang berbeda. Ini cerita kelahiran Oi-chan beberapa waktu yang lalu. Saya tulis di sini semata-mata sebagai pengingat buat saya. Betapa berharganya setiap detik yang saya lewati sampai saat mendengar tangisnya yang pertama.

Dan cerita saya kali ini bakalan panjang…:D

Sama seperti Dito dulu, rupanya Oi juga betah di dalam perut ibunya. Mungkin dia tau kalau di luar hawa sedang dingin. Jadi kalau Dito dulu di”paksa” keluar waktu umur kehamilan 40 minggu lewat 1 hari, Oi di”paksa” keluar waktu umur kehamilan 40 minggu lewat 6 hari. Dua-duanya melalui proses induksi, jadi kalau persalinan normal spontan si ibu “menunggu” datangnya rasa sakit karena kontraksi, saya datang ke tempat bersalin masih dengan senyum lebar untuk “menjemput” rasa sakit itu 🙂

 

Saat kehamilan 40 minggu kurang 1 hari (Jumat, 9 Desember) ternyata hasil pemeriksaan saya belum ada bukaan dan posisi kepala bayi masih tinggi. Perasaan saya antara senang dan agak khawatir juga. Senang karena besoknya (Sabtu) suami pulang dari Melbourne, jadi kemungkinan besar bisa melahirkan ditunggui suami. Tapi khawatir juga kok sampai 40 minggu belum ada tanda-tanda mau melahirkan, jangan-jangan lewat bulan kaya Dito dulu. Yah…bakalan induksi lagi deh, padahal saya kepengen merasakan proses normal senormal-normalnya. Jadilah hari Sabtu saya sama Dito masih sempat jemput suami di bandara ^^

 

Dari hasil pemeriksaan sebelumnya, dokter menjadwalkan pemeriksaan 4 hari berikutnya (Selasa, 13 Desember). Ternyata hasilnya masih sama. Akhirnya dokter menjadwalkan saya untuk diinduksi hari Kamis, 15 Desember karena saya khawatir bayinya akan semakin besar dan menyulitkan proses kelahiran.

 

Hari Kamis semua perlengkapan yang saya perlukan untuk rawat inap di klinik sudah siap. Jadwal saya berangkat ke klinik jam 3 sore. Saya sadar hari itu hari terakhir saya berstatus ibu hamil yang masih bebas kemana-mana dengan bayi yang “aman” terlindung dalam perut. Hari itu saya habiskan dengan jalan-jalan ke mall sama Dito, menikmati waktu selagi masih berasa “beranak satu” dan ga terlalu repot kalau pergi-pergi. Setelah bayi lahir, saya ga akan bisa sebebas ini lagi. Kalaupun pergi bakalan lebih ribet.

 

Pulang jalan-jalan saya masih sempat menjahit crib cover buat tempat tidur bayi sambil menunggu suami pulang. Menjelang jam 3 suami bilang kalau kemungkinan pulang lewat dari jam 3 karena ada beberapa kerjaan yang belum selesai. Hiyaaaa….ini di luar skenario!!! Saya minta tolong Mbak Ayu telpon klinik, bilang kalau saya datang agak telat nunggu suami pulang, tapi pihak klinik tetap minta saya datang secepatnya. Lha terus Dito gimana???? Buru-buru saya telepon Mbak Mala buat jemput Dito dan dibawa ke Mbak Indri biar ada teman main Ganie sama Galang. Kalau bapaknya pulang biar dijemput dan dibawa ke klinik. Mbak Mala sudah OK, Mbak Indri juga, saya buru-buru telpon taksi. Waktu nunggu taksi ternyata suami saya sampai rumah! Padahal Mbak Mala sudah sampai di bawah juga. Akhirnya skenario penitipan Dito dibatalkan dan kami berangkat ke klinik bertiga.

 

Jam 3.30 saya tiba di klinik. Perawat mengecek perlengkapan saya dan mengambil beberapa yang diperlukan segera setelah melahirkan seperti piyama, celana nifas, handuk, dan korset. Setelah itu saya masuk ruangan di sebelah ruang bersalin (saya ga tau namanya, sebut saja ruang kontraksi) dan ganti baju bersalin, semacem daster longgar di bawah lutut dengan bukaan depan.

 

Jam 4.00 saya diberi sebutir kapsul untuk diminum. Saya ga tau untuk apa, waktu itu saya ga didampingi Mbak Ayu yang biasa bantu menterjemahkan kalau ada yang saya ga ngerti atau ingin saya sampaikan tapi saya ga bisa ngomongnya. Ya sudah…pokoknya saya minum. Sementara itu suami membawa barang-barang saya ke kamar. Oh iya…berhubung kamar privat saat itu sedang penuh, saya ditempatkan di kamar yang dipakai bersama 3 orang lainnya. Beberapa saat setelah minum obat saya diberi obat pencahar dan diantar ke toilet. Ga usah dijelaskan kelanjutanya ya…Selama di toilet itu ternyata mucus plug saya keluar. Perawat bilang “daijoubu” (it’s OK). Dari informasi yang saya baca, kalau mucus plug keluar berarti jalan lahir mulai membuka. Syukurlah…

 

Jam 4.25 dipasang alat NST (nonstress test) di perut saya untuk memantau detak jantung dan gerakan bayi. Selama dipasang alat itu saya tetap berbaring sambil ditunggui suami dan Dito.

 

menjemput rasa sakit di ruang kontraksi ditemani Dito ^^

 

Jam 5 dokter datang untuk memulai proses induksi dengan memasukkan balon ke jalan lahir. Saya masuk ruang bersalin dan duduk di “kursi panas“. Prosesnya ga lama dan tingkat “ketidaknyamanan“nya sedikit di atas pemeriksaan dalam (baca:LEBIH SAKIT!). Setelah itu saya mulai mengalami kontraksi pertama jam 5.25 dan kontraksi berikutnya berselang 20 menit.

 

Jam 6 saya diijinkan kembali ke kamar untuk makan malam. Pertamanya saya heran, lah ini habis diberi obat pencahar kenapa disuruh makan? Saya pikir-pikir lagi, saya kan masih harus mengejan nanti, pastinya butuh tenaga dong ya…makanya harus makan. Ternyata makanannya enak! Apalagi ga harus masak sendiri, tinggal makan 🙂 Menunya Jepang banget, banyak macem tapi dalam porsi kecil. Setelah makan saya diminta kembali ke ruang tunggu. Di situ saya ditemani suami dan Dito, sementara Mbak Ayu pulang setelah bantu saya menerjemahkan informasi dari klinik tentang jadwal makan, pemeriksaan, dan penggunaan fasilitas bersama.

 

menu makan malam pertama di klinik, enak….:)

 

Jam 7.30 suami pulang bawa Dito dan berencana balik lagi saat sudah dekat waktunya melahirkan. Tak lama setelahnya dokter datang untuk mengeluarkan balon. Dari jam 7.30 sampai jam 9 kontraksi datang tiap 15 menit. Selama 1,5 jam itu saya tersiksa sendirian di ruang kontraksi, bukan karena sakit, tapi karena bosan…:(

 

Jam 9 dilakukan pemeriksaan dalam, perawat bilang sudah bukaan 4.

Oh iya, selama menunggu itu saya dikenalkan sama Takahashi Sensei. Dokter perempuan yang masih muda dan cantik ini rupanya yang nanti menangani persalinan saya, bukan Shindo Sensei yang biasa memeriksa selama kehamilan ini. Waahhh…lebih rileks rasanya setelah tau kalau bakal ditangani sama dokter perempuan 🙂

 

Jam 9.15 saya ijin keluar buat sikat gigi. Lupa habis makan belum sikat gigi, takutnya sudah ga sempat lagi nanti. Saya kembali ke kamar ambil sikat gigi. Selesai sikat gigi, belum sampai depan pintu kamar tiba-tiba kebelet pipis!! dan kebeletnya ini sudah ga bisa ditahan, gimana coba rasanya harus nahan pipis sambil nahan sakit di jalan lahir? Akhirnya saya pipis di depan pintu kamar! (gross, eh?) Pipisnya ga tanggung-tanggung banyaknya. Saya panik karena ga yakin itu cuma pipis atau jangan-jangan ketuban saya pecah. Saya bingung juga gimana harus ngasih tau perawat. Jalan sepanjang selasar sampai nurse station dalam kondisi basah dan kesakitan sepertinya bukan ide bagus. Teriak-teriak apalagi…Akhirnya saya berjinjit ke sebelah tempat tidur buat mencet buzzer pemanggil perawat. Tak lama perawat datang, saat itu posisi saya sudah di depan pintu kamar lagi.

Antara panik, bingung, khawatir, dan malu, saya bilang kalau saya pipis, sudah ga bisa ditahan…berkali-kali saya minta maaf. Perawat bilang ga papa. Karena mereka khawatir dan ga yakin juga apa ketuban saya juga keluar, akhirnya buru-buru saya dibawa ke ruang kontraksi lagi. Entah bagaimana repotnya petugas cleaning service nantinya membersihkan bekas pipis saya di karpet depan kamar itu. Sempat kepikiran juga ketidaknyamanan yang bakal dialami pasien yang sekamar sama saya, juga keluarga yang menengoknya. Haduhhh…jadi merasa bersalah…tapi ya gimana juga, semua di luar kendali saya 😦

Setelah insiden pipis di tempat itu, badan saya dibersihkan dan sandal saya diganti. Dokter dan perawat berembuk apa sudah saatnya menelepon suami saya dan Mbak Ayu. Mereka tanya saya dan saya iyakan. Akhirnya perawat menelepon dan tak lama kemudian Mbak Ayu datang disusul suami saya. Sementara itu Dito dititipkan di tempat Mbak Ayu dan dijagain Pak GJK. Sesuai skenario yang sudah disusun sebelumnya in case saya melahirkan pas malam hari, Pak GJKlah yang jadi baby sitter Dito dan Lintang *bersyukur sekali punya tetangga Indonesia yang helpful*

 

Mulai jam 10.20 kontraksi berlangsung tiap 7 menit. Di sela-sela kontraksi saya masih bisa ngobrol, sesuatu yang ga bisa saya lakukan pas mau melahirkan Dito. Namanya kontraksi pasti sakit, tapi kontraksi kali ini (perasaan saya) ga sesakit waktu mau melahirkan Dito dulu.

 

Menjelang jam 00 kontraksi mulai datang tiap 5 menit. Sudah bukaan 7.

 

Jam 00.30 saya dipindah ke ruang bersalin dan duduk di “kursi panas”. Goshhhh…saya mulai deg-degan, ga bisa banyak ngomong lagi. Keder juga lihat banyak peralatan, dokter dan perawat mulai sibuk.

 

Jam 00.45 saya diinfus. Perawat agak kesulitan menemukan pembuluh darah saya. Pergelangan tangan kiri gagal. Lengan kanan gagal. Akhirnya ketemu juga di pergelangan tangan kanan. Ini perawat yang sama yang dulu juga gagal mengambil sampel darah saya. Sighhhh….Baru saya sadar kemudian kalau tempat-tempat yang gagal dimasuki jarum infus itu jadi memar-memar merah kebiruan. Hikss….:(

 

Jam 1.15 ketuban saya dipecah, saya diminta mengejan saat puncak kontraksi. Usaha pertama belum berhasil. Kontraksi berikutnya saya mengejan lagi. Kali ini hampir habis tenaga. Pengen tidur saja rasanya…sambil menunggu kontraksi dan aba-aba mengejan lagi. Mata saya hampir terpejam, tapi segera diingatkan supaya tetep melek. Dari informasi yang saya baca biar pembuluh darah di mata ga pecah saat mengejan. Saat kontraksi berikutnya datang saya mengejan lagi, kali ini masker oksigen dipasang untuk membantu pernafasan dan perawat pun turun tangan mendorong perut saya. Kaget!!! Ternyata menurut Mbak Ayu sebagai saksi, perawat itu sampai naik ke samping kursi buat menekan perut saya. Huwaaaa….sakiiiitttt!!!!

 

Jam 1.19 Oi-chan lahir! Alhamdulillah, lega rasanya mendengar suara tangisnya. Berkali-kali saya sebut asmaNya untuk mewakili perasaan saya yang sulit digambarkan saat itu. Dokter dan perawat mengucapkan selamat dan bilang bayinya gede! Pantesan kepalanya susah turun dan bayi susah keluarnya…3840 gram, 49.5 cm, normal, lengkap, dan sehat. Satu yang saya sayangkan…IMD ga berjalan sesuai yang saya harapkan. Kalau Dito dulu, begitu dipotong tali pusarnya langsung diletakkan di dada saya. Kali ini ga ada pengalih perhatian selama saya dijahit 😦

Shindo Sensei baru datang setelah bayi lahir. Setelah mengucapkan selamat beliau tetap menunggui selama luka saya dijahit.

 

Jam 1.50 jahit-menjahit selesai, badan saya dibersihkan dan dipakaikan piyama.

 

Jam 2.00 bayi diserahkan untuk disusui. Agak sedikit kecewa sebenarnya karena proses IMD ga berjalan sesuai harapan saya. tapi mau bagaimana lagi…yang penting bayi sudah lahir sehat dan selamat. Bayi langsung menyusu tanpa kesulitan meskipun ASI belum keluar. Suami mengumandangkan adzan di telinganya. Tak lupa momen itu diabadikan oleh salah satu perawat dan langsung dicetak fotonya 🙂 Sayang waktu itu saya ga pakai jilbab jadi fotonya bukan buat dipublikasikan.

 

Oi-chan beberapa saat setelah lahir

Setelah menemani saya beberapa saat, akhirnya suami pulang. Kasihan Dito kalau lama-lama ditinggal. Kasihan Pak GJK juga yang repot jaga 2 balita, padahal besoknya harus ngampus.

Jam 2 sampai jam 5 saya tetap berada di ruang bersalin untuk pemulihan. 3 jam yang sungguh menyiksa. Saya ga bisa tidur sama sekali. Badan saya masih menggigil meskipun sudah dipakaikan selimut. Kontraksi rahim yang sedang dalam proses kembali ke bentuk semula tak kalah sakitnya dengan kontraksi menjelang persalinan. Apalagi tekanan darah saya naik setelah persalinan, jadi tiap 30 menit perawat datang untuk mengecek. Sendirian, kesepian, kedinginan, dan kesakitan. Lengkap sudah…

 

Jam 5.10 saya dipindahkan ke ruang pemulihan. Di sana saya baru bisa tidur sampai jam 6.30.

 

Jam 7.30 saya diminta untuk pipis. Saking takutnya membayangkan rasanya bakalan sakit, saya bilang ke perawat kalau saya ga kebelet pipis. Tapi ternyata tetap harus pipis dan dibantu dengan kateter. Huh…sama saja sakit!

 

Jam 8.00 saya pindah ke kamar untuk sarapan. Kebetulan pagi itu salah satu kamar privat ada yang sudah kosong. Saya ditawari untuk pindah dan saya iyakan. Setelah sarapan bayi diserahkan untuk disusui. Rasanya semua sakit dan lelah terbayar sudah, melihat bayi sehat di sebelah saya.

 

Welcome to the world baby Aoi! best wishes for u…

 

Oi-chan umur 1 hari

Welcome baby Aoi!

Alhamdulillah…telah lahir si murbei jilid 2 yang ditunggu-tunggu pada hari Jumat, 16 Desember 2011 pukul 01.19 JST melalui proses induksi di usia kehamilan 40 minggu 6 hari. Bayi perempuan dengan berat 3840 gram dan panjang 49.5 cm itu kami beri nama Asmaranti Aoi Nugroho.

Asmaranti, buah cinta kami berdua
Aoi, hmmm…simply because we love Aoi, simple and sounds sweet 🙂
tapi kalau mau dihubung-hubungkan Aoi bisa berarti biru dalam bahasa Jepang, kebetulan nama tengah anak pertama Seto yang berarti putih dalam bahasa Jawa. Jadi dua-duanya nama warna.
Kata suami saya, di Thailand setiap hari dilambangkan dengan warna yang berbeda, kebetulan hari Jumat, hari kelahiran Aoi, dilambangkan warna biru.
Selain itu ternyata Aoi merupakan nama Jepang dari bunga Alcea/Hollyhock yang daunnya dipakai sebagai lambang clan Tokugawa #pentinggapenting
Nugroho dari nama belakang bapaknya.
jadilah nama Asmaranti Aoi Nugroho dengan nama panggilan Oi-chan, dozo yoroshiku onegaishimasu ^^

Semoga Oi-chan menjadi anak sholihah, penyejuk mata dan hati kami orang tuanya, sehat dan cerdas jasmani dan ruhaninya, serta membawa kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Amin.


semoga Oi-chan cantik lahir dan batinnya, secantik bunga aoi
gambar diambil dari sini