one handed bag


My sewing mojo is back!
Setelah lama ga jahit hari Selasa lalu saya jahit lagi lho…
Quick n simple project, one handed bag buat Natasha, teman saya di kelas bahasa jepang. Ceritanya dia mau pindah ke Kawasaki bulan depan, jadi tas itu buat kenang-kenangan. 
Pertamanya bingung mau dikasih apa. Terus ingat kalau minggu lalu habis beli buku pola tas. Pas belanja di 100 yen shop Daiso kebetulan nemu kain yang motifnya bunga-bunga cantik. Tapi karena murah ya kualitas sebanding sama harganya, hehehe…
Berhubung saya diundang ke rumah Natasha hari Selasa siang dan malam Selasanya ga sempat jahit, akhirnya proyek dikebut. Jam 8 pagi mulai dan selesai jam  10 dengan diselingi iklan ngurus Dito & Oi.
Di bukunya, tas ini dipercantik dengan korsase. Berhubung waktunya mepet, saya buat pita di satu sisinya sebagai pemanis. Terinspirasi dari tas eva di NETTE

Advertisements

2,5 jam yang berkesan

Ya…2,5 jam yang berkesan itu saya alami hari Sabtu kemarin di klinik dokter gigi langganan, Hakata Chuo Dental Clinic di Hashimoto.

 

gambar diambil dari sini

Jadi ceritanya gigi bawah saya bagian kanan ada yang tumbuhnya ga bener. Kalau dari tengah urutan seharusnya first premolar (A), second premolar (B), dan first molar (C). Tapi karena “space”nya kurang, gigi B tumbuh di luar “jalur” alias di tengah-tengah gigi A dan C dan menghadap ke dalam. Gingsul tapi ke dalam, bayangkan….Karena ada gigi yang tumbuh di luar “jalur” akhirnya 3 sekawan si gigi A,B,dan C itu membentuk “segitiga bermuda” yang selalu memerangkap makanan ke dalamnya. Makanya dokter menyarankan dicabut saja gigi B itu.

Setelah dibius, mulailah dokter mencabut gigi B. Lama juga dokter berkutat dengan alat cabut yang mirip tang itu, eh tau-tau giginya patah. Jadi mahkotanya aja yang lepas, akarnya masih nancep di dalam. Ughh…perasaan saya udah ga enak aja.

Gigi saya dirontgen untuk melihat seberapa akar yang tertinggal dan gimana posisinya. Setelah itu dokter mulai lagi ngeluarin akar yang bandel itu. Dibor, dipotong sedikit demi sedikit dan dicongkel.  Saking kuatnya berusaha, tangan dokter yang sudah agak sepuh itu bergetar. Saya juga keder karena tegang, rahang rasanya hampir copot. Lama-lama efek bius berkurang dan kerasa banget sakitnya, makanya saya minta dibius lagi.

Meskipun sudah berusaha keras, akar gigi yang bandel itu belum juga mau lepas. Dokter senior sampai digantikan sebentar oleh dokter laki-laki yang lebih muda, tapi ga ada kemajuan berarti. Akhirnya saya dirontgen lagi, kali ini rontgen harus diulang 2 kali untuk mendapatkan hasil yang lebih jelas. Dari hasil rontgen terlihat akar yang bandel itu tinggal tersisa sedikit tapi posisinya berdempetan dengan akar gigi C dan bersilangan dengan akar gigi A, jadi susah bergerak. Dokter bilang baru kali ini ada kasus begini dan termasuk kasus yang susah. Dokter senior yang menangani saya sampai manggil 2 dokter lain yang lebih muda, laki-laki dan perempuan, untuk mendiskusikan hasil rontgen dan langkah berikutnya. Akhirnya Dokter bilang gigi A harus dicopot dulu biar akar gigi yang tersisa lebih mudah bergerak terus habis itu dipasang lagi. Hahhh??? Saya baru tau kalau gigi sehat dan ga kenapa-kenapa bisa dibongkar pasang begitu. Ya sudah saya ga punya pilihan lain, kepalang basah, gigi sudah dioprek sedemikian rupa. Saya kepingin tuntas malam itu juga.

Jadilah gigi A dicabut. Ternyata oh ternyata akarnya itu melengkung, bukannya lurus ke bawah seperti seharusnya. Pantesan bikin masalah. Setelah itu akar yang tersisa mulai berusaha dikeluarin lagi. Kali ini saya ditangani 2 dokter, dokter senior dan dokter perempuan yang masih muda. Cukup lama mereka ngoprek gigi saya dengan telaten, dibor dan dicongkel lagi sedikit demi sedikit. Saya sampai minta bius lagi karena efek bius sebelumnya ga mempan. Sakitnya luar biasa T.T tangan dan kaki saya dingin dan kesemutan karena menahan sakit di bagian rahang dalam posisi yang sama dan lama pula. Usaha dokter akhirnya berhasil, sisa akar yang cuma secuil bisa dicabut juga diiringi tawa lega kami bertiga.

Saya pikir penderitaan sudah berakhir ketika dokter bilang “yak, selesai” tapiiiii…itu masih koma, selanjutnya dokter bilang waktunya masang lagi gigi A yang dicabut tadi. Aaaarrrggggghhhh….

Tadinya saya pikir masang gigi lagi ya udah tinggal pasang aja. Baru kemudian saya mikir ga mungkin cuma dipasang, pasti perlu perkuatan, kalau ga bisa goyang dong. Perkuatan macam apa yang bakalan dipakai ya kira-kira?
Eng ing engggggg….ternyata DIJAHIT! Allahu Akbar!!!! Saya langsung lemes lihat dokter pegang jarum mirip kail ikan dengan ekor benang warna hitam di depan mata saya. Saya melahirkan 2 kali juga dijahit sih, tapi kan saya ga lihat prosesnya di bawah sana, cuma ngerasain aja. Lha ini, ya Allah gustiiiiii….gigi kan bagian dari kepala, dekat sama mata. Melihat persiapan jahitnya mental saya sudah jatuh duluan T.T saya cuma bisa pasrah, gigi saya diperkuat dengan jahitan di gusi #sumpah, ini saya ngetiknya sambil bergidik ngeri.

Jahitnya cuma sebentar dan ga begitu sakit, tapi serem lihat jarum, benang, dan gunting berseliweran di depan mata. Biasanya jarum, benang, gunting bikin saya hepi kalau urusannya sama kain. Ini urusannya sama gusi bo’…..NOT FUN AT ALL!

Setelah selesai, dokter bersihin muka saya. Saya bangun dari kursi pesakitan dengan kepala pusing dan gigi cenut-cenut, padahal efek bius masih ada. Bibir masih berasa tebal dan saya susah kumur-kumur. Saya bilang ke dokter sepertinya saya bakal butuh painkiller yang kuat setelah ini karena masih harus naik sepeda pulang. Dokter suruh saya minum antibiotik dan painkiller 2 butir sekaligus saat itu juga. Waktu saya keluar dari ruang praktek, klinik udah sepi. Kubikel tempat praktek dokter lain kosong dan di lobi tinggal mbak-mbak resepsionis. Hoho…rupanya saya pasien terakhir malam itu. Saya lihat jam sudah jam 20.45, padahal saya mulai diperiksa jam 18.00 dan klinik itu harusnya tutup jam 20.00 di hari Sabtu.

Sementara menunggu obat dan rincian biaya, saya kepikiran Oi di rumah. Sudah 3 jam lebih dari terakhir saya kasih ASI 😦 kebayang dia bakal nangis kelaparan terus ketiduran karena capek nangis, kasihan Oi. Saya ga nyangka bakalan lama. Sebenernya ada ASI beku di freezer, tapi saya ga sempat kasih tau suami 😦

Setelah dikasih obat dan bayar saya langsung ngebut pulang. Hufffttt….sampai rumah ternyata Oi sudah tidur. Kata suami Oi tadi nangis 😦 hiksss sediiihhh. Akhirnya setelah ganti baju dan cuci tangan saya bangunin Oi buat minum ASI. Sambil nangis  saya cerita ke suami betapa horornya kejadian di klinik tadi. Di klinik tadi saya masih bisa tahan, saya masih bisa ketawa-ketawa sama dokter. Lha gimana, dokter udah berusaha semaksimal mungkin, berusaha menjelaskan semuanya sebelum mengambil tindakan dengan bahasa inggris terbata-bata, dengan tangan gemetar karena urusan bor, congkel, cabut yang ga selesai-selesai. Saya juga harus kuat dong…berusaha (terlihat) rileks dan tenang meskipun aslinya saya ketakutan luar biasa. Mau nangis malu lah ya…kasihan juga kalau sampai nanti dokternya ga enak hati lihat saya nangis dan akhirnya ga fokus (Ge eR :P) Bisa tambah lama selesainya dan jadi panjang urusannya.

Subhanallah. Maha Suci Allah yang menciptakan setiap diri manusia unik, hingga detil-detil tersembunyi di bawah gusi.
Saya benar-benar takjub…Dia yang memberi akal pada manusia hingga dapat mempelajari dan menguasai ilmuNya, menggunakannya untuk memudahkan hidup mereka. Salah satu contohnya dalam ilmu kedokteran gigi. Betapa rumitnya susunan syaraf-syaraf di bawah gigi itu. Betapa sempurnanya perlindungan terhadap gigi, betapa kuatnya Allah menciptakan tulang yang menahan gigi jadi ga mudah lepas. Gigi diciptakan begitu kuat dan keras untuk bisa digunakan seumur hidup, bahkan masih utuh setelah orangnya meninggal. Rontgen memungkinkan kita tahu posisi akar gigi di dalam gusi, juga alat-alat perawatan gigi berbagai macam bentuk demikian banyaknya dengan fungsinya masing-masing.

Subhanallah, saya awam soal ilmu kedokteran gigi, sebegitu aja sudah bikin saya takjub. Padahal itu belum seberapa dibanding ilmuNya yang meliputi langit dan bumi. Pengalaman 2,5 jam di kursi periksa dokter gigi benar-benar membawa hikmah. Alhamdulillah sesuatu banget buat saya, termasuk horor dan traumanya 😀

Agenda berikutnya 2 minggu lagi buat nambal gigi taring sebelah kiri nih. Wish me luck!

melahirkan itu….

Melahirkan itu seperti ikut terlahir kembali
Memperbarui niat untuk menjadi insan yang lebih baik 
Seiring bertambahnya amanah yang harus diemban
Jiwa-jiwa bersih, ladang yang harus ditanami benih iman dan kebaikan

Melahirkan itu seperti kembali ke titik nol
Titik terendah sekaligus paling potensial
Saat menyadari ketidakberdayaan diri sering kali saat itulah keyakinan akan pertolongan dariNya melambung tinggi
DariNya datang ujian, dariNya pula datangnya pertolongan

Seorang ibu ikut tumbuh, belajar, dan mengasah naluri bersama anak-anaknya
Ibu adalah guru bagi anaknya, begitu pula sebaliknya
Semoga saya dan kita semua para ibu bisa jadi yang terbaik, as best as can be…

sibling

Sibling rivalry ternyata terjadi juga antara Dito dan Aoi. Kalau di awal Dito seakan cuek, meskipun dia merasa ada yang berubah karena hadirnya Oi tapi belum tahu gimana bersikap. Disuruh panggil adik ga mau, disuruh cium adik ga mau juga. Maksud hati biar dia dekat sama anggota baru di keluarganya gitu…Sedih lihatnya.

Tapi lama-lama Dito mulai ngerti kalau bayi ini yang bikin ibunya larang dia ngomong keras-keras kalau si bayi baru tidur, nyuruh dia main sendiri dulu kalau si bayi baru minum ASI, oh…ternyata bayi ini yang ambil jatah ASInya, gitu mungkin pikirnya. Jadilah Dito mulai bikin ulah. Semakin dilarang semakin menjadi. Ga bisa diajak negosiasi. Keras kepalanya luar biasa dan jadi lebih manja. Pernah sekali saya baru gendong Oi, Dito teriak-teriak marah minta gendong juga ke kamar. Negosiasi gagal dan akhirnya saya gendong mereka berdua daripada saya stres dengar teriakannya. Bisa-bisa tetangga pada protes. Ada kalanya Dito hanya mau apa-apa sama saya padahal biasanya sama bapaknya.

Akhir-akhir ini Dito mulai sadar kalau adiknya ini makhluk lucu yang bisa ketawa-ketawa kalau diajak ngomong. Dito jadi gemes. Pertama dipegang kakinya sambil bilang “kaki”, “chichai ashi” terus pegang tangan, towel-towel pipi….nah yang bahaya kalau sudah gemes banget dia suka peluk dan cium tapi karena Dito belum bisa mengontrol kekuatannya, biasanya adiknya nangis.

Kadang Dito juga bikin saya terharu. Saat adiknya tidur, itu kesempatan buat one-on-one time saya sama Dito. Entah itu bacain buku cerita, nonton kartun bareng, bikin kue bareng, pokoknya perhatian ibu full buat Dito. Kalau adiknya tiba-tiba nangis dan saya bilang kalau adik butuh ibu, dengan ringan hati dia bilang iya. Kadang kalau saya ga segera datengin adiknya, Dito suka bilang dengan nada memerintah “ibu…akachan nangis” dan itu diulang-ulang sampai saya datengin adiknya 🙂

Semoga mereka rukun sampai dewasa nanti.

kemana aja?

Eh lama juga ternyata blognya ga diupdate. Maklum, saya lagi asik ngurus bayi 🙂

Bener-bener deh…kehadiran baby Aoi menyita sebagian besar waktu saya. Seluruh agenda harian saya tergantung ritmenya Oi. Sekarang ga bisa semaunya atur jadwal ini itu. Seperti yang pernah saya baca di baby center, motherhood changes us in so many ways.
2 bulan ini saya jungkir balik adaptasi dengan perubahan fisik dan mental pasca melahirkan.

Secara fisik jelas berat badan saya masih belum kembali ke kepala 4 ditambah bagian perut yang masih seperti hamil 4 bulan. Saya sih ga masalah dengan berat badan sekarang, tapi…kapan perut ini bisa kembali rata seperti talenan ya? Haduhhh….butuh niat kuat dan usaha ekstra nih buat olah raga.
Alhamdulillah begitu pulang ke rumah ASI sudah lancar, sufor dari klinik dianggurin 😛
Selama awal full ASI saya masih mengalami kontraksi ringan pasca melahirkan. Biasanya ga sampai mengganggu aktivitas harian, tapi pernah sekali sakiiiittt sampai saya ga bisa ngapa-ngapain. Mana saya ga punya persediaan pain killer 😦 Suami buru-buru ke klinik buat minta pain killer. Saking hati-hatinya mereka ga mau kasih obat kalau saya ga datang sendiri. Mungkin takutnya ada yang gawat dengan kondisi saya, infeksi atau gimana. Lahhh…saya aja ga bisa bangun dari tempat tidur saking sakitnya, gimana mau turun dari lantai 5 terus berangkat ke klinik? Hufffttt….kasihan suami, panik. Tapi Alhamdulillah setelah istirahat tiduran satu jam sakitnya berangsur-angsur hilang. Untung setelah itu ga ada lagi keluhan serupa.

Secara mental, sebulan pertama bisa dibilang saya stres berat. Awal-awal sih Oi banyakan waktunya buat tidur. Saya jadi bisa istirahat dan beresin pekerjaan rumah. Merasa terbantu banget punya tetangga superbaik, selama 3 hari berturut-turut ga perlu masak karena mereka kirim makanan ke rumah 🙂
Mbak Mala ngirim nasi kuning komplit, Mbak Enny ngirim opor ayam, Mbak Dian Ardy ngirim sup daging. Waahhhh….enak-enak pokoknya ^^

Kira-kira lewat seminggu hari-hari berat mulai menghadang. Mungkin Oi mulai sadar kalau dunia luar perlu dinikmati, waktunya ga cuma buat tidur dan minum ASI. Biasanya habis minum ASI langsung tidur, ini masih melek, maunya digendong dan diayun-ayun baru bisa tidur lagi. Frekuensi gumoh juga meningkat meskipun sudah disendawakam tiap habis minum.
Kira-kira jadwal harian saya:
Bangun
Masak
Iklan lewat (Oi bangun dan minta minum)
Kalau masak belum selesai, lanjut masak
Makanan siap, suami dan Dito sarapan sementara saya ngasih ASI kadang sambil disuapin sama suami saking saya sudah lapar banget
Mandiin Oi
Kasih ASI lagi atau kalau Oi sudah kenyang tinggal nunggu dia tidur
Kalau Oi sudah tidur, baru bisa nyuci, bersih-bersih, dsb. Itupun dengan iklan yang sering lewat. Dito pengen ini itu, Oi bangun minta minum lagi, gendong, ayun-ayun, ganti popok, ganti baju karena gumoh. Giliran Oi sudah lelap, Dito mulai teriak-teriak, loncat-loncat di kasur minta perhatian saya. Oi bangun lagi.
Sore biasanya saya masak buat makan malam. Tapi seringnya sih ga sempat. Suami pulang saya sudah terkapar, bahkan beberapa kali saya ga makan malam. Suami sering masak makan malam sendiri. Kalau saya masih sanggup bangun waktu nyusuin Oi lagi-lagi suami yang nyuapin saya 😛
Malam hari saya masih harus bangun 2-3 kali, menyusui dan ganti popok Oi.

Tiap hari pola yang sama berulang. Dunia saya hiruk pikuk kalang kabut dan hanya tenang saat mereka berdua tidur bersamaan. Biasanya saya buru-buru mandi, menikmati guyuran air hangat barang 10 menit untuk relaksasi dan menjaga kewarasan serta kesadaran saya. Setelah mandi kalau anak-anak masih tidur saya kadang ikut tidur untuk merecharge energi. Ehmmm…seringnya sih suka tergoda pengen nonton film, baca buku, blogwalking, ga jadi tidur deh hehehe….

Betapa beruntung saya punya suami jempolan yang masih mau diajak berbagi kerjaan rumah setelah seharian di kampus berkutat dengan kerjaannya. Suami saya mau loh cuci piring, belanja, ganti popok, masak sekaligus nyuapin saya, gantiin gendong Oi, bangun buat ambilin minum malam-malam (ibu menyusui harus banyak minum!). He’s the best!

Ternyata begini rasanya punya 2 anak masih kecil-kecil, ga ada asisten, ga ada keluarga yang bantuin.
Berjuta rasanya.
Capek….tapi puas.
Semua terkendali, ga perlu kompromi dengan orang lain selain suami. Kami bebas memilih dan menentukan apa yang kami anggap baik dalam merawat dan membesarkan anak kami. Lebih sedikit intervensi yang berarti kesempatan buat saya belajar jadi ibu dari awal lagi ON MY OWN. Everything runs how i want it to be.

Memasuki bulan ke dua Alhamdulillah semua jauh lebih ringan dan mudah. Oi tidurnya lebih gampang. Asal perut kenyang, popoknya bersih, biasanya tenang dan bisa ditinggal-tinggal. Saya punya waktu lebih longgar buat istirahat, beberes rumah, dan menemani Dito main.
Semoga saya bisa terus belajar jadi ibu dan istri yang baik, as best as can be…