kemana aja?

Eh lama juga ternyata blognya ga diupdate. Maklum, saya lagi asik ngurus bayi πŸ™‚

Bener-bener deh…kehadiran baby Aoi menyita sebagian besar waktu saya. Seluruh agenda harian saya tergantung ritmenya Oi. Sekarang ga bisa semaunya atur jadwal ini itu. Seperti yang pernah saya baca di baby center, motherhood changes us in so many ways.
2 bulan ini saya jungkir balik adaptasi dengan perubahan fisik dan mental pasca melahirkan.

Secara fisik jelas berat badan saya masih belum kembali ke kepala 4 ditambah bagian perut yang masih seperti hamil 4 bulan. Saya sih ga masalah dengan berat badan sekarang, tapi…kapan perut ini bisa kembali rata seperti talenan ya? Haduhhh….butuh niat kuat dan usaha ekstra nih buat olah raga.
Alhamdulillah begitu pulang ke rumah ASI sudah lancar, sufor dari klinik dianggurin πŸ˜›
Selama awal full ASI saya masih mengalami kontraksi ringan pasca melahirkan. Biasanya ga sampai mengganggu aktivitas harian, tapi pernah sekali sakiiiittt sampai saya ga bisa ngapa-ngapain. Mana saya ga punya persediaan pain killer 😦 Suami buru-buru ke klinik buat minta pain killer. Saking hati-hatinya mereka ga mau kasih obat kalau saya ga datang sendiri. Mungkin takutnya ada yang gawat dengan kondisi saya, infeksi atau gimana. Lahhh…saya aja ga bisa bangun dari tempat tidur saking sakitnya, gimana mau turun dari lantai 5 terus berangkat ke klinik? Hufffttt….kasihan suami, panik. Tapi Alhamdulillah setelah istirahat tiduran satu jam sakitnya berangsur-angsur hilang. Untung setelah itu ga ada lagi keluhan serupa.

Secara mental, sebulan pertama bisa dibilang saya stres berat. Awal-awal sih Oi banyakan waktunya buat tidur. Saya jadi bisa istirahat dan beresin pekerjaan rumah. Merasa terbantu banget punya tetangga superbaik, selama 3 hari berturut-turut ga perlu masak karena mereka kirim makanan ke rumah πŸ™‚
Mbak Mala ngirim nasi kuning komplit, Mbak Enny ngirim opor ayam, Mbak Dian Ardy ngirim sup daging. Waahhhh….enak-enak pokoknya ^^

Kira-kira lewat seminggu hari-hari berat mulai menghadang. Mungkin Oi mulai sadar kalau dunia luar perlu dinikmati, waktunya ga cuma buat tidur dan minum ASI. Biasanya habis minum ASI langsung tidur, ini masih melek, maunya digendong dan diayun-ayun baru bisa tidur lagi. Frekuensi gumoh juga meningkat meskipun sudah disendawakam tiap habis minum.
Kira-kira jadwal harian saya:
Bangun
Masak
Iklan lewat (Oi bangun dan minta minum)
Kalau masak belum selesai, lanjut masak
Makanan siap, suami dan Dito sarapan sementara saya ngasih ASI kadang sambil disuapin sama suami saking saya sudah lapar banget
Mandiin Oi
Kasih ASI lagi atau kalau Oi sudah kenyang tinggal nunggu dia tidur
Kalau Oi sudah tidur, baru bisa nyuci, bersih-bersih, dsb. Itupun dengan iklan yang sering lewat. Dito pengen ini itu, Oi bangun minta minum lagi, gendong, ayun-ayun, ganti popok, ganti baju karena gumoh. Giliran Oi sudah lelap, Dito mulai teriak-teriak, loncat-loncat di kasur minta perhatian saya. Oi bangun lagi.
Sore biasanya saya masak buat makan malam. Tapi seringnya sih ga sempat. Suami pulang saya sudah terkapar, bahkan beberapa kali saya ga makan malam. Suami sering masak makan malam sendiri. Kalau saya masih sanggup bangun waktu nyusuin Oi lagi-lagi suami yang nyuapin saya πŸ˜›
Malam hari saya masih harus bangun 2-3 kali, menyusui dan ganti popok Oi.

Tiap hari pola yang sama berulang. Dunia saya hiruk pikuk kalang kabut dan hanya tenang saat mereka berdua tidur bersamaan. Biasanya saya buru-buru mandi, menikmati guyuran air hangat barang 10 menit untuk relaksasi dan menjaga kewarasan serta kesadaran saya. Setelah mandi kalau anak-anak masih tidur saya kadang ikut tidur untuk merecharge energi. Ehmmm…seringnya sih suka tergoda pengen nonton film, baca buku, blogwalking, ga jadi tidur deh hehehe….

Betapa beruntung saya punya suami jempolan yang masih mau diajak berbagi kerjaan rumah setelah seharian di kampus berkutat dengan kerjaannya. Suami saya mau loh cuci piring, belanja, ganti popok, masak sekaligus nyuapin saya, gantiin gendong Oi, bangun buat ambilin minum malam-malam (ibu menyusui harus banyak minum!). He’s the best!

Ternyata begini rasanya punya 2 anak masih kecil-kecil, ga ada asisten, ga ada keluarga yang bantuin.
Berjuta rasanya.
Capek….tapi puas.
Semua terkendali, ga perlu kompromi dengan orang lain selain suami. Kami bebas memilih dan menentukan apa yang kami anggap baik dalam merawat dan membesarkan anak kami. Lebih sedikit intervensi yang berarti kesempatan buat saya belajar jadi ibu dari awal lagi ON MY OWN. Everything runs how i want it to be.

Memasuki bulan ke dua Alhamdulillah semua jauh lebih ringan dan mudah. Oi tidurnya lebih gampang. Asal perut kenyang, popoknya bersih, biasanya tenang dan bisa ditinggal-tinggal. Saya punya waktu lebih longgar buat istirahat, beberes rumah, dan menemani Dito main.
Semoga saya bisa terus belajar jadi ibu dan istri yang baik, as best as can be…

Advertisements

One thought on “kemana aja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s