Toilet training

Dito sudah hampir 3 tahun, masih pakai popok sekali pakai dan belum bisa pipis sendiri di toilet. Saya sudah berencana menerapkan toilet training dari umur 2 tahun, tapi ternyata saya hamil dan setelah melahirkan disibukkan dengan ngurus baby Aoi (pembenaran, alasan utama:malas :P)

Akhirnya awal bulan lalu saya bulatkan tekad untuk toilet training Dito. Saya berharap Dito bisa lepas dari popok sekali pakai saat umur 3 tahun. Saya sudah siapkan 6 helai training pants gambar patrol car kesukaan Dito, dudukan toilet kecil, dan potty pemberian serang teman.

Awalnya saya kasih tau Dito ini namanya potty, tempat pipis dan pup. Kalau Mas Dito mau pipis/pup bilang sama ibu ya, terus cepet-cepet buka celananya dan duduk di sini. Lalu dipraktekkan meskipun ga kebelet dan ga ada yang keluar.
Selama semingguan cara ini belum berhasil. Dito selalu bilang kalau pipis/pup setelah pipis/pupnya sudah keluar *sighhh….Saya sudah coba suruh Dito duduk di potty selama beberapa saat tapi Ditonya ga betah (sayanya juga :P), giliran sudah berdiri, main lagi, eh gak lama kemudian pipis 😦 Untung training pantsnya lumayan menyerap, meskipun beberapa kali juga sempat bocor dan saya terpaksa ngepel. Itu gara-gara Dito kadang lama baru bilang kalau dia pipis/pup. Berhubung stok training pants cuma 6 jadi harus cepet-cepet dicuci dan malemnya selalu pakai popok sekali pakai.

Saya jadi mikir apa Dito belum bisa mengenali tanda-tanda kebelet ya?
Kalau mengandalkan feeling kebeletnya bakalan susah nih kayaknya…
Tapi setidaknya dia sudah tau kalau celana basah/kotor kena pup itu bikin ga nyaman dan segera lapor ibu.

Akhirnya saya coba cara lain. Pottynya disingkirin dan langsung ke toilet pakai dudukan toilet kecilnya. Kalau sebelumnya saya berharap pada feeling kebeletnya Dito, kali ini saya yang inisiatif. Tiap 2-3 jam, mau gak mau saya bawa dia ke toilet, saya tungguin dia duduk di situ selama beberapa saat sampai pipis. Tapi lagi-lagi dia ga betah dan malah cuma mainin tisu toilet sampai habis. Grrrr….beneran deh, dalam kasus begini saya banyakan ga sabarnya.

Selama hampir sebulan, terhitung dari saya beliin Dito training pants tgl 29 Mei, saya ga konsisten dalam proses toilet training ini. Kalau lagi mendung, hujan, kemungkinan training pants ga kering, sayanya lagi males, atau pas pergi, Dito tetep pakai popok sekali pakai.

Lalu keajaiban terjadi hari Jumat pagi tanggal 22 Juni kemarin. Bangun tidur, sayanya lagi rajin, langsung saya bawa Dito ke toilet. Eh, dia pipis dengan sukses! Langsung keluar gitu…padahal biasanya ditungguin lama ga keluar-keluar. Wah, saya jadi semangat. 2 jam berikutnya saya coba lagi ajak dia pipis di toilet dan keluar juga. Begitu terus tiap 2 jam dan tiap kali ke toilet pasti pipis. Jadi seharian itu Dito sukses ga pakai popok sekali pakai dan training pantsnya pun ga basah sama sekali. Yipppiiieeee…..
Malamnya sebelum tidur Dito pipis dulu, saya beranikan diri cuma makein training pants, bukan popok sekali pakai seperti biasa. Paginya begitu bangun cepet-cepet diajak pipis ke toilet. Dan malam itu sukses, pertama kalinya Dito ga pipis di celana. Alhamdulillahhh….seneng banget rasanya.

Progressnya sejauh ini :
1. Dito selalu pakai training pants di rumah dan popok sekali pakai kalau di luar rumah
2. Pipis tiap 2 jam sekali, sebelum tidur dan segera setelah bangun tidur, berlaku juga selama pergi (ibu harus ingat kapan terakhir dia pipis). Masih kecolongan pipis di celana, tapi bisa dihitung jari, banyakan sukses pipis di toilet
3. Masih belum bisa mengenali feeling kebelet pup, jadi masih pup di celana/popok

Alhamdulillah sudah ada kemajuan meskipun belum sepenuhnya berhasil. Semoga saya dan Dito bisa menyelesaikan PR berikutnya sampai benar-benar berhasil lepas dari popok sekali pakai 🙂

Advertisements

breastfeeding friendly tunic

Bulan lalu pas saya jalan ke Konoha mall, seperti biasa selalu mampir ke Tokai craftheart. Eh, nemu kain yang lagi diskon. 100% cotton motif bunga-bunga sudah dalam potongan 2 meter. Harga aslinya 1260 JPY, tapi dengan kartu anggota jadi 780 JPY. Tergodalah saya…ada 2 kain dengan motif yang sama tapi beda warna, satu biru satu oranye. Bingung, saya tanya suami bagusnya yang mana. Suami bilang yang biru, tapi kok yang oranye bagus juga. Akhirnya suami menyarankan beli saja dua-duanya, saya ga nolak dong hehehe….

Berhubung saya masih menyusui Oi, rencananya kain-kain itu mau saya buat baju yang breastfeeding friendly. Tapi saya lihat di majalah kok kayaknya ribet bikin bukaan kiri kanan. Terus saya googling model baju menyusui yang kira-kira gampang. Nemu istilah modesty panel, bagian penutup yang membuat aktivitas menyusui jadi lebih tersamar dan lebih nyaman. Sebenarnya baju-baju saya hampir semua breastfeeding friendly, dengan kancing depan tapi tanpa modesty panel. Jadi waktu menyusui sebagian payudara bagian atas pasti terbuka. Masih tertutup jilbab sih, tapi agak khawatir juga kalau kelihatan saat menyusui di tempat umum.

Akhirnya saya buat model tunic dengan bukaan lebar dan modesty panel. Hasilnya sebenarnya kurang memuaskan.
1. Kainnya mepeeettt…motongnya harus direka-reka biar pas
2. Bagian lengan aneh bentuknya, terlalu sempit, ga proporsional. Gara-gara saya ga mantep, mulanya mau dibikin lengan kerut, tapi kok ribet, males…Akhirnya lengan panjang biasa, tinggal heming pinggirnya. Tapi karena pola awalnya buat lengan kerut, saya kurangi lebarnya. Eh, motongnya kebanyakan. Aneh deh…
3. Modesty panel pakai kain yang agak melar karena kain motifnya ga cukup. Salah besar! Jadinya melar banget dan drapey. Ga rapi, ga simetris (kelihatan di fotonya)
4. Mestinya bagian belakang cukup 1 panel, ga perlu 2 panel atas bawah + kerut, karena jadinya lebaaarr…pantesnya buat ibu hamil.

Ah…sebel! Tapi mau merombak malesss. Ya sudah, semoga proyek berikut dengan kain satunya lebih sukses. Aamiin.

Dito sudah besar :)

Postingan kali ini khusus buat nyeritain si Mas Dito yang sudah gede, sudah punya adik, dan tambah pinter.

Sewajarnya anak-anak, ada kalanya Dito manis, ada kalanya bikin jengkel. Kalau lagi manis, yaaa manis banget… Nemeni adiknya kalau saya lagi sibuk beberes atau masak, mau mengambilkan dan membuang popok adiknya, nurut kalau dibilangin, menghujani saya dengan pelukan dan ciuman, membereskan mainan sendiri, nyenengin lah pokoknya.
Tapi kalau lagi kumat manjanya huffftttt….seharian isinya merengek. Minta apa-apa sambil merengek, kalau punya kemauan harus saat itu juga, ga mau ngalah sama adiknya. Ya gitu deh, bikin capek.

Mulai April lalu Dito sudah ga masuk Ayumirai hoikuen. Kelas sudah penuh karena prioritas buat anak-anak yang orang tuanya dua-duanya bekerja. Ga ada tempat lagi buat yang temporer seperti Dito. Sayapun memutuskan berhenti ikut kelas nihongo di Kashiihama kaikan. Karena jauh, bakalan repot bawa Dito dan Oi. Saya cuma nerusin kelas yang di Fuku-fuku tiap hari Selasa yang ada child carenya. Lumayan, saya bisa tetep belajar sementara Dito dan Oi juga bisa main sama sensei dan anak-anak lain. Itung-itung refreshing seminggu sekali buat kami bertiga.

Karena Dito sudah ga masuk hoikuen, otomatis dia seharian sama saya di rumah. Mainnya ya itu-itu saja, ketemunya ya saya lagi saya lagi. Jadinya Dito bosen, terus bikin ulah. Mungkin juga karena energinya berlebih dan tidak tersalurkan. Saya harus sering ngajak dia main di luar. Kalau sore kami ke koen di Nokata. Sebenarnya ada koen belakang rumah yang selalu rame kalau sore. Banyak anak-anak dan ibu-ibu Jepang ngumpul. Tapi saya rada jiper mau ngajak Dito main ke situ. Kalau saya lagi capek atau males keluar, Dito suka main sendiri di balkon belakang. Teriak-teriak panggil-panggil anak-anak yang main di koen, tomodachi–tomodachi…!! Mungkin ibu-ibu yang ngumpul di koen itu pada mikir anak ini kasian banget gak punya temen, gak pernah diajak ibunya main apa ya? Aduhhh….jadi ga enak hati 😦

Entah Ditonya yang memang kesepian gak punya teman atau memang dasarnya supel, tiap kali ketemu anak-anak lain dia selalu over excited, pengen nimbrung aja. Kadang mereka bisa main bareng, kadang berantem rebutan mainan. Meskipun tak jarang anak-anak yang lebih gede kelihatan gak suka kalau Dito nimbrung. Tapi dulu pernah ketemu anak seumuran SMP gitu di Nokata, suka banget sama Dito. Diajak main, gabung sama anak-anak kecil lainnya. si kakak ini kayaknya ngemong banget, anak-anak kecil seumuran Dito pada ngerubutin, padahal cowok lho…

Awal April saya cari info hoikuen dekat rumah yang bisa nerima Dito dengan sistem temporary seperti di Ayumirai dulu. Supaya Dito bisa main dan punya temen. Ternyata ada, namanya Kabocha Batake Hoikusho. Privat child care yang proses masuknya gak ribet seperti public child care. Masuknya pun kapan saja, asal ada tempat, ga harus nunggu tahun ajaran baru. Lokasinya di Ishimaru 3 chome. Dari rumah naik sepeda kira-kira 15 menit. Tempatnya kecil, kaya rumah biasa dan kapasitasnya hanya 40 anak. Akhirnya saya sama suami sepakat memasukkan Dito ke Kabocha Batake seminggu sekali tiap hari Rabu dari jam 9 sampai jam 1 siang. Di child care ini saya harus nyiapin bento buat Dito karena mereka ga bisa nyiapin makan siang halal buat Dito.

Sementara Dito di child care, rencananya saya mau ikut kelas nihongo di Nishi Shimin Center di Meinohama. Waktu saya ke sana, ternyata ada child care buat anak-anak sementara ibunya belajar. Asiiikkk….akhirnya jadwal Dito main di Kabocha Batake diganti hari Kamis.

Sampai saat ini Dito seneng banget “sekolah dolanan” (sekolah main-bahasanya Dito) di Kabocha Batake. Dito juga seneng banget diajak ibu belajar nihongo karena dia bisa main sementara ibu masuk kelas hehehe…

tote bags

Proyek ini juga sudah lama jadi tapi saya males mau motret dan upload di blog.
tote bag ini berukuran 30cmx40cm, material cotton+padded cotton, reversible, dengan elastic+covered button closure.
sempat agak bingung milih warna solid buat handle tote bag ini, motif dan warnanya rame. tapi akhirnya pilih satu warna yang match (navy blue) sama satu yang kontras (mustard yellow). saya paling suka yang mustard yellow 🙂
Oh iya, yang red emoticon+navy stripes SOLD Alhamdulillah…