the last summer in Japan

Huhuhuuu…lama saya gak nulis dan update blog. Karena akhir September nanti saya sekeluarga harus balik ke Indonesia, banyak PR yang harus diselesaikan di samping kerjaan rumah yang rasanya gak ada habisnya.

Saat ini di Jepang sedang musim panas. Cuaca yang panas dan gerah berpengaruh sama mood dan kesigapan saya bergerak mengerjakan segala sesuatu. Rasanya maleeeesss banget, ritme juga melambat, sedangkan hari-hari rasanya begitu cepat. Belum kelar semua kerjaan rumah eh tau-tau sudah sore aja…Mana sekarang Oi sudah mulai merangkak dan rambatan, pengawasan harus ekstra, ga bisa disambi-sambi.

Berhubung kemungkinan ini musim panas terakhir saya di Jepang, saya berusaha menikmati semaksimal mungkin. Musim panas identik dengan suika (semangka), kakigori (es serut), hanabi (kembang api), dan yukata (semacam kimono pendek dan tipis buat musim panas). Di musim panas, semangka mudah didapat. Cocok lah ya…panas-panas enaknya makan semangka yang manis dan banyak airnya. Es serut juga banyak dijual dimana-mana. Terutama pas ada matsuri (festival). Natsu matsuri (festival musim panas) biasanya diadakan di masing-masing wilayah. Wilayah Iki Danchi tempat saya tinggal mengadakannya di Iki chuo-koen. Biasanya ada atraksi, penampilan nyanyian dan tarian dari warga setempat. Ada juga stand makanan dan minuman. Sayang tahun ini saya ga ikut karena jadwalnya bentrok dengan acara buka bersama.

slurrrpppp…..

Selama musim panas juga banyak pertunjukan kembang api. Yang paling besar di Fukuoka-shi sepertinya di Ohorikoen. Kami berkesempatan nonton tanggal 1 Agustus kemarin. Waaaahhh rame banget, orang berjubel. Kembang apinya juga spektakuler. Ada sekitar 6000 kembang api diluncurkan dari pukul 20.00-21.45. Puas banget nontonnya meskipun sempat ada insiden kami terjepit saat bergerak menuju tempat yang viewnya lebih bagus. Kami terjepit berdesakan di kerumunan yang padat dan suasananya panas. Oi sempat rewel dan Dito ga mau turun dari strollernya, padahal susah cari jalan kalau pakai stroller. Untung akhirnya kami bisa keluar dari kerumunan dan dapat tempat yang lega untuk bisa melihat dan memotret kembang api.

hanabi di Ohori-koen

 

Beberapa hari kemudian ada lagi hanabi di pantai Imajuku, lumayan dekat dari rumah. Meskipun kembang api yang diluncurkan tak sebanyak yang di Ohorikoen, kami sangat terhibur. Terutama Dito, seneng banget nonton hanabi. Pertamanya waktu di Ohorikoen dia ketakutan dengan suara ledakan kembang api yang menggelegar, sempat ga mau lihat. Di pantai Imajuku orangnya ga terlalu rame, nontonnya sambil duduk di tepi pantai, dan pas bulannya penuh malam itu. Indah…
Pulangnya kami beli es serut. Si penjual menawarkan harga hanya 100 yen dari harga asli 300 yen bagi pembeli yang menang jan-ken-pon (batu-kertas-gunting) lawan si penjual. Saya menang lho….jadi cuma bayar 100 yen aja hehehe….

hanabi di pantai Imajuku

 

Oh iya, orang-orang yang nonton hanabi banyak yang pakai yukata, terutama muda-mudi dan anak-anak. Orang dewasa juga ada tapi ga begitu banyak. Yukata yang dipakai warna-warni, bagus. Sayang saya ga punya yukata, jadi ga pakai. Lagipula bakalan susah pakai yukata sambil gendong Oi, belum lagi nanti kalau menyusui. Beberapa waktu yang lalu saya sudah berkesempatan nyobain pakai yukata waktu festival tanabata di fuku-fuku plaza tempat saya belajar bahasa Jepang. Gerahhhh…padahal itu cuma 1 lapis lho. Gimana kalau pakai kimono ya?


bareng Mbak Mala

Tanabata matsuri, bareng teman dan sensei di Fuku-fuku Nihongo Class

gambar kakigori diambil dari sini

foto hanabi diambil pakai kamera iPhone4,  sebenernya bawa DSLR tapi belum mahir pakainya jadi hasilnya ya….begitulah….
foto Tanabata di Fuku-fuku Plaza diambil pakai kamera Mbak Mala. makasih ya Mbak ^^