Back to Jogja

I’m back!
Ternyata saya sudah menelantarkan blog ini lama sekali ya.

Sudah hampir 6 bulan saya balik Indonesia, tinggal lagi di Jogja, Pondok Mertua Indah tepatnya 😛
Pffffiuuuhhhhh…..gegar budaya melanda dan itu alasan utama saya males ngapa-ngapain termasuk mengupdate blog ini.

Enaknya mulai dari mana ya?

Mungkin flashback dulu perjalanan pulang kami dari Fukuoka.
Beberapa hari menjelang kepulangan ternyata kami masih disibukkan dengan ngurus ini itu. Padahal kami masih punya beberapa agenda terakhir termasuk bersantai setelah packing dan buang-buang barang yang sangat melelahkan. Alhasil kami semua tidak dalam kondisi fit saat mau perjalanan jauh. Dito-Oi sudah meler, saya dan suami juga ga enak badan.

Oi masuk koper :P

Oi masuk koper 😛

Packing hanya bisa kami lakukan saat anak-anak sudah tidur, karena kalau mereka bangun mereka juga bakalan ikut “bantu-bantu”. Sungguh sulit memilah mana yang harus dibawa dan mana yang harus ditinggal. Barang bawaan harus seminimal mungkin mengingat kami bawa 2 balita dan perjalanan 7 jam dengan transit 3 jam. Akhirnya setelah beberapa kali pack-unpack, 4 koper siap diangkut. Pheeewwwww…..

4 koper siap angkut

4 koper siap angkut

Hari H, pagi-pagi saya degdegan. Semua perasaan campur aduk jadi satu. Sedih pasti. Melihat ruangan kosong melompong, rasanya seperti ada yang tercabut dari dada. Ruangan yang menaungi kami, yang menyimpan kenangan keluarga kecil kami selama 2,5 tahun terakhir. Canda, tawa, tangis, duka… Entah kapan kami bisa melihatnya lagi.

kamar paling besar di rumah, tempat tidur kami berempat

kamar paling besar di rumah, tempat tidur kami berempat

lab tempat saya bereksperimen :P

lab tempat saya bereksperimen 😛

tempat kami nonton TV dan bermain bersama

tempat kami nonton TV dan bermain bersama

Pagi itu anak-anak telat bangun. Mau membangunkan kok ga tega rasanya. Ya sudah…untungnya masih ada waktu buat siap-siap setelah mereka bangun. Khawatir juga perjalanan jauh bawa 2 balita dengan kondisi ga fit.

Setelah anak-anak bangun, futon siap dibuang bersama alat-alat mandi dan sisa barang yang sudah ga terpakai. Sekalian turun buang barang, suami beli sarapan di kombini. Sarapan terakhir kami di Iki Danchi menunya onigiri 🙂

Sementara kami bersiap sambil sarapan, Mas Ferian dan Mbak Astri datang buat say goodbye dan bantuin angkat barang turun (dan masih direpoti titip ini itu setelah kami berada di Jogja :P, terima kasih banyak ya….*membungkuk dalam-dalam*) Setelah memastikan tak ada barang tertinggal sekali lagi, kami turun. Ah, kalau ingat saat terakhir itu sediiihhh rasanya, pengen mewek lagi T_T

bersama kak Rohana, pak Ferian, mbak Astri

bersama kak Rohana, pak Ferian, mbak Astri

Kami berangkat ke bandara diantar Badaru-san dan Kak Rohana sekeluarga. Di tempat parkir kami sempat berfoto bersama ketua di gedung 54 tempat tinggal kami, aduh siapa ya namanya…saya lupa. Selesai berfoto kami berangkat. Alhamdulillah perjalanan lancar lewat jalan tol.

Kami sampai di bandara dan disambut beberapa teman Indonesia yang mengantar kepulangan kami. Perjalanan pulang ini kami bareng keluarga Pak Heru. Alhamdulillah ada teman selama perjalanan. Check in cukup lancar. Kami didahulukan karena bawa balita. Setelah ditimbang ternyata kami kelebihan bagasi, terpaksa deh bayar kelebihannya. Mau gimana lagi, 4 koper itu sudah yang essential, ga ada yang bisa ditinggal lagi 😀 Setelah check in kami sempat foto bersama, peluk-peluk, cipika-cipiki, teriring doa dan rencana untuk bisa ketemu lagi di Indonesia nanti.

bareng mb emi

bareng bu fase

Pengecekan di imigrasi lancar. Kami sempat tertahan di pengecekan barang masuk kabin. Gara-gara krim buat stretchmark *ups… yang melebihi batas 100ml kami harus bongkar tas. Dan akhirnya tetep krim itu harus direlakan untuk ditinggal 😦 Hufft…bikin lama!

Akhirnya kami masuk ruang tunggu pesawat. Alhamdulillah sampai saat itu anak-anak ga rewel. Oi bobok dan Dito senang ada Kenzie, putranya Pak Heru yang seumuran 🙂 Pas masuk pesawat Dito juga excited banget ^^

transit

Bismillah, pesawat take off. Saat melihat Fukuoka di bawah kami, saat itulah air mata saya tak terbendung. Sedih luar biasa. Fukuoka sudah jadi rumah kami. Di sana Oi lahir. Semoga suatu saat kami bisa ke sana lagi.

Penerbangan sampai Incheon memakan waktu kurang dari 1,5 jam. Leganya…anak-anak tenang. Oi bangun ga pake nangis. Saya dan suami bisa menikmati brunch dengan tenang. Kami transit di Incheon selama 3 jam untuk kemudian melanjutkan penerbangan 6 jam ke Jakarta.

Mas Dito dan Mas Kenzie, transit @Incheon Int'l Airport

Mas Dito dan Mas Kenzie, transit @Incheon Int’l Airport

Mas Dito dan Mas Kenzie, transit @Incheon Int'l Airport

Mas Dito dan Mas Kenzie, transit @Incheon Int’l Airport

Transit 3 jam cukup menyenangkan. Saya kebagian jaga anak-anak sementara suami bawa Oi jalan-jalan. Kami juga ketemu banyak orang Indonesia (ya iyalah…tujuan Jakarta gitu loh). Sempat kenalan dan ngobrol juga dengan Ibu Puji yang lama tinggal di Kyoto dan bersuamikan seorang Nihonjin.

@ Incheon Int'l Airport, menunggu penerbangan ke Jakarta

@ Incheon Int’l Airport, menunggu penerbangan ke Jakarta

Setelah 3 jam tiba waktunya kami berangkat lagi. Ketidaknyamanan pertama muncul. Kursi kami tidak dalam satu deret. 2 di depan dan 1 di belakang dekat jendela. Kami putuskan kursi depan saya tempati bersebelahan sama Dito sementara suami di belakang kami. Sebelah saya bapak-bapak. Melihat kami terpisah begitu, si bapak berbaik hati pindah di deret sebelah yang kebetulan kosong. Alhamdulillah…

Penerbangan 6 jam ke Jakarta sungguh melelahkan. Terutama karena Oi mulai rewel. Saya dan suami terpaksa bergantian menggendong jalan-jalan sepanjang selasar. Susahnya kalau turbulence, kami harus tetap duduk sementara Oi nangis. ASI kadang ga mempan, Oi tetap ga nyaman saat disusui. Mungkin karena hidungnya mampet, selain itu karena selama ini dia selalu menyusu sambil tiduran. Akhirnya saya posisikan diri sedemikian rupa supaya Oi bisa dalam posisi berbaring seperti di kasur saat menyusu. Kebayang kan…bagaimana susahnya. Bassinet yang sudah kami pesan buat Oi pun ga berfungsi karena Oi langsung bangun begitu ditaruh di situ. Jadilah saya dan suami gantian memangku Oi. Bahkan saya makan dengan Oi tidur di dekapan saya.

Alhamdulillah Dito ga terlalu rewel. Hanya sempat beberapa kali pengen turun 😀 Selebihnya dia mau kompromi, bisa menikmati perjalanannya dengan nonton film, makan, dan sempat tertidur 🙂

Tadaimaaaa….

Melihat kelip lampu ibukota di bawah kami, rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sebentar lagi kami menjejakkan kaki di bumi pertiwi. Bahagia bertemu keluarga tercinta. 6 jam yang melelahkan berakhir ketika kami mendarat di Bandara Soekarno Hatta.

Begitu keluar dari pesawat…tidak teratur, semrawut, kotor, jujur itu yang pertama saya tangkap. Lalu saya jadi malu. Jangan-jangan ini juga yang ditangkap pertama kali oleh orang asing ketika masuk negeri tercinta ini? Mata saya mulai melihat segala hal dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Wah, otak saya perlu dikalibrasi atau saya akan terus menggerutu dan menyumpah dalam hati.

Pengecekan di imigrasi dan pengambilan barang bawaan berlangsung lancar. Kami juga ga perlu nunggu lama dijemput pihak hotel tempat kami menginap sebelum berangkat esok paginya ke Jogja. Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel begitu banyak hal mengganjal di benak saya. Ah ini kok begini, itu kok begitu…ini begini ya, itu begitu ya…ah….mungkin ini yang namanya reverse culture shock itu. Sungguh tidak enak.

Sesampainya di hotel kami mandi dan langsung tidur. Nikmatnya berbaring setelah duduk lama di pesawat 🙂
Kami dibangunkan suara adzan subuh. Haru menyeruak dalam dada. Akhirnya kami mendengar lagi suara adzan bergema di awal pagi. Bukan adzan dari handphone maupun komputer. Sesuatu banget rasanya…

Ada kejadian lucu waktu kami check out dari hotel. Karena kami naik pesawat jam 7.15, kami rencanakan ikut mobil antar jemput jam 5 pagi. Akhirnya tega ga tega kami bangunkan Dito dan Oi untuk siap-siap. Sampai di lobi kami duduk menunggu mobil siap. Tapi sebentar…sebentar…kok jam di lobi menunjuk angka 3 ya? Di luar juga langit masih gelap banget. Saya cek jam di hp dan jam tangan suami, udah jam 5 kok. Saya bisik-bisik ke suami, ini jamnya ngaco deh, masa sih lobi hotel kok penunjuk waktunya gak tepat gini. Hampir saja saya berdiri mau ngingetin mas resepsionisnya kalau jamnya salah lalu saya urungkan. Saya baru ingat, ini Indonesia dan jam kami masih menunjukkan waktu Jepang. Ughhh…..jadi kami kecepetan 2 jam dong??? Trus kami harus nunggu lagi sambil terkantuk-kantuk di lobi??? Noooo….

Akhirnya saya bilang ke mas resepsionis boleh gak kami balik ke kamar lagi karena ternyata kami kecepetan. Alhamdulillah boleh 🙂
Kami balik kamar dan sempat tidur-tidur ayam sebentar. Saya juga sempat mikir…berarti tadi itu adzan awal ya? belum subuh? padahal saya sudah sholat, hehehe….akhirnya pas adzan subuh beneran saya sholat lagi 🙂

Penerbangan ke Jogja terlambat hampir satu jam. Sementara menunggu saya perhatikan sekeliling. Ehem…..begitu banyak hal yang terasa mengganjal di mata saya. Petugas kebersihan yang ogah-ogahan mengepel lantai sambil ngetik sesuatu di hpnya. Pemandangan seperti ini sepertinya ga akan bisa saya temu di Jepang. Lalu ada serombongan ibu-ibu berseragam batik yang heboh dan menor. Ibu-ibu berjilbab berlapis-lapis berbelit-belit dengan hiasan berjuntai-juntai kayak mau kondangan. Ouchhhh…..mata saya! Sekali lagi saya ingatkan diri saya, saya sudah balik ke Indonesia tercinta. Ini negeri saya. Saya harus mulai membiasakan diri lagi.

Satu jam penerbangan ke Jogja berjalan lancar, anak-anak sangat kooperatif. Jam 9 kami mendarat di bandara Adi Sucipto. Kami tidak sempat mengabari keluarga sesampainya di Jakarta kemarin, tapi kami jauh hari sudah bilang kalau kami naik pesawat jam 7.15 tanggal 1 Oktober. Orang tua saya sepertinya ga bisa jemput, bapak saya bilang ada acara hari itu. Belum lagi perjalanan yang harus ditempuh dari Ngawi. Saya sempat hopeless bisa segera bertemu bapak ibu dan adik-adik. Mungkin cuma adik saya yang di Jogja yang bisa jemput. Tapi eh tapi….begitu keluar ternyata keluarga saya sudah menunggu! Waktu itu rasanya ga bisa diungkapkan. Bapak, ibu, adik-adik…hampir 3 tahun kami ga ketemu. Selanjutnya ga usah diceritakan lah ya, mirip kejadian di film-film itu deh kalau keluarga yang lama ga ketemu terus ketemu di bandara 😉

Karena mobil ga muat, saya dan anak-anak ikut mobil bapak. Sementara suami dan adik laki-laki saya naik taksi bersama barang bawaan kami dan adik perempuan saya naik motor. Kami pulang ke rumah mertua. Sepanjang perjalanan bapak ibu saya sibuk memperhatikan Dito dan Oi. Betapa senang mereka akhirnya bisa melihat cucu-cucunya. Waktu itu Dito masih belum banyak ngomong dan beberapa kata yang terlontar masih dalam bahasa Jepang. Saya jadi penerjemah deh.

Sampai di rumah mertua kami disambut…biasa saja 🙂 Dito dan Oi tetap jadi pusat perhatian semua orang 🙂
Dan berikutnya, rasa tersiksa karewna culture shock saya benar-benar dimulai. But that will be another story…

Alhamdulillah satu episode hidup di negeri timur jauh mendampingi suami belajar dan mengurus anak-anak telah terlewati. Selanjutnya episode baru di negeri sendiri akan dimulai.

Advertisements