Maaf…

Kemarin ada kejadian yang bikin saya nyesellll sekaligus jadi pelajaran buat saya. Saya sudah gagal fokus pada hal yang jauh lebih penting. Ceritanya sore itu saya ada arisan RT, Oi saya ajak. Dito lebih memilih nonton TV di rumah. Pulang arisan Dito menyambut saya di depan pagar sambil cerita kalau tadi ayamnya masuk rumah dan buang kotoran di dekat meja makan. Dito berinisiatif menyiram kotoran ayam keluar dan mengeringkan lantai yang basah dengan keset. Saya berterimakasih dan memuji Dito atas apa yang sudah dilakukan. Saya benar-benar bangga atas inisiatifnya dan kemauannya untuk mengalahkan rasa jijiknya (iya, Dito itu jijikan). Tapi begitu saya masuk ke rumah, bukannya ngecek gimana hasil kerjaan Dito bersihin lantai, mata saya teralihkan ke jemuran yang berantakan. Baju-baju setengah kering bercampur baju kering di atas kasur. Sebagian baju ada yang teronggok di atas mesin cuci. Saya tanya Dito apa yang terjadi. Ternyata Dito berinisiatif memasukkan baju-baju yang sedang dijemur ke dalam rumah karena hari sudah mulai gelap. Dito tidak memilah apakah bajunya sudah kering atau belum. Selama proses itu, ada beberapa baju setengah kering yang jatuh dan kotor lagi dan dia taruh di atas mesin cuci. Langsung terbayang bagaimana saya ngucek baju-baju itu paginya sebelum dimasukkan mesin cuci  dalam kondisi badan masih remuk redam setelah latihan. Rasanya pekerjaan saya sia-sia. Padahal ya ga semua baju kotor lagi. Saya keseeellll banget dan saya pun menangis… Tumpahlah kekesalan saya, sambil menangis saya bilang ke Dito kenapa ga pilah-pilah dulu jemurannya. Ibu sudah capek-capek nguceknya. Badan Ibu masih capek dan masih harus ngucek lagi baju yang jatuh dan kotor. Dito cuma bengong liat saya…Oi juga terlihat bingung, sampai dia mendekat dan nanya, Ibu kenapa nangis? Saya diam dan masuk kamar. Saya puaskan nangis dan baru berhenti waktu mau sholat. Waktu saya wudhu, Dito mengetuk pintu kamar mandi dan meminta maaf. Tapi saya masih kesal. Saya diamkan Dito. Jahat banget ya…

Selesai sholat saya marah-marah curhat  sama suami yang baru pulang kenduri. Saya tumpahkan kekesalan sambil nangis bombay. Setelah lega, sepertinya otak saya mulai jernih kembali. Terlintas lagi rekaman kejadian tadi dan kejadian-kejadian sebelumnya. Betapa Dito itu anak yang perhatian dan ringan tangan. Menawari dan mengambilkan minum buat saya, nyiapin makan buat adiknya kalau saya lagi repot, dan masih banyak lagi. Dito hanyalah anak berumur 6 tahun yang ingin membantu. Bukankah itu yang selalu saya harapkan? Jadi kenapa saya ga fokus saja kesitu? Dito sudah berusaha. Kalaupun hasilnya beda dan belum sesuai standar saya, itu bukan salah Dito. Itu PR buat saya untuk mengajari dan memberinya contoh.

Akhirnya saat menjelang tidur, saya minta maaf ke Dito. Astaghfirullaah…maafkan Ibu ya, Nak. Ibu sudah gagal fokus pada kebaikanmu dan membiarkan kekesalan menguasai yang membuat Ibu mengabaikan permintaan maafmu. Sungguh, Ibu yang seharusnya meminta maaf lebih dulu. Semoga lain kali Ibu bisa lebih sabar dan fokus pada hal-hal yang lebih penting. Terima kasih sudah jadi anak yang begitu baik, perhatian,  dan ringan tangan. Kita sama-sama belajar ya…

Advertisements

One thought on “Maaf…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s