Mas Dito belajar life skill

Sejak minggu kemarin Dito ngoyak-oyak saya untuk ngajarin nyuci piring. Sebagai ibu yang berpendapat bahwa laki-laki mengerjakan tugas domestik (yang seringnya diasosiasikan dengan tugas para wanita) itu bukanlah hal yang tabu, pastinya saya seneng dong ya anak saya punya kesadaran untuk belajar life skill tanpa perlu disuruh-suruh.

Meskipun begitu, rencana belajar cuci piring sempat tertunda berkali-kali. Apalagi alasannya kalau bukan kemalasan saya. Belum apa-apa sudah kebayang gimana mawutnya kalau Dito yang cuci piring. Busa dan cipratan air dimana-mana, takut ga bersih, takut masih ada sabun, takut licin dan pecah. Arrghhh….jadi saya masih nanti-nanti tiap kali Dito menawarkan diri nyuci piring. Padahal sebenarnya tinggal ngajari, ngasih contoh, dan ngawasi aja sih. Tentu dengan kesadaran penuh bahwa hasilnya kemungkinan besar belum bisa seperti kalau saya kerjain sendiri. Tapi ngalahin kemalasan itu berat sodara-sodara.

Akhirnya momen cuci piring pertama Dito malah pas saya ga di rumah. Jumat sore saya ke salon sama Oi, pas pulang di depan pintu Dito sudah ngasih tau kalau ada kejutan di dapur. Saya udah kadung ngarep kalau suami masak sesuatu yang istimewa. Ealah ternyata saya dipameri kalau cucian piring sudah beres. “Aku lho yang nyuci” kata Dito dengan bangga. “Wow, Mas Dito hebat…makasih ya, Mas” kata saya sambil lihat hasilnya. Gelas dan piring yang harusnya diletakkan terbalik hanya ditumpuk begitu saja. Jelas bakal lama kering airnya. Tapi gapapa deh…usahanya sudah sangat patut diapresiasi.

Siang tadi Dito juga bantu saya cuci piring, bedanya tadi saya kasih tau caranya dulu dan saya awasi sampai selesai. Ah, bujang saya ringan tangan sekali…rasanya hati saya jadi mengembang berkali-kali lipat 🙂

Selain cuci piring, Dito juga belajar setrika. Jumat pagi kemarin ceritanya saya sedang bersiap setrika seragam anak-anak. Sensasi rasa hangat baju yang baru disetrika jadi motivasi mereka buru-buru mandi. Kebetulan saya nyambi nyiapin sarapan juga, sampai saya lupa kalau setrika sudah panas dan siap dipakai. Sampai Dito keluar kamar mandi, baju belum jadi disetrika. Dito bilang pengen belajar setrika sendiri. Ya udah, mumpung anaknya mau karepe dewe ya akhirnya saya ajari. Dari posisi baju di meja setrika, bagaimana menjalankan setrika, dari mana dulu lalu ke mana. Karena baju mau langsung dipakai jadi lebih gampang, ga perlu ngajari ngelipet baju (sebisa mungkin saya hindari dulu, ribet bo’ hehehe…apalagi saya agak perfksionis urusan lipet-lipet baju ini). Tak lupa yang paling penting adalah faktor keselamatan, karena setrika itu panas, saya sudah wanti-wanti agar badan dan tangan jangan terlalu dekat dengan setrika.

Saya sempat nungguin dan lihat hasilnya Dito setrika celana. Relatif lebih mudah sih daripada baju, jadi Dito lancar ngerjainnya. Habis ngasih contoh gimana setrika baju, saya tinggal sebentar ngecek masakan. Begitu sarapan siap, Dito ternyata juga udah selesai setrika dan udah pakai seragam. Sementara saya gantian setrika seragam Oi.

Waktu sarapan, Dito bilang kalau perutnya sakit. Saya tanya,”Mas Dito mau pup?”. “Engga…” jawabnya sambil buka seragamnya dan memperlihatkan segaris warna cokelat kemerahan di perutnya. Dengan santai Dito bilang “Aku tadi kena setrika”. Meskipun Dito ngomongnya tenang tapi justru saya jadi sedih banget…hiks “Sakit banget, Mas?” tanya saya sambil mengamati lukanya. “Agak sakit” jawab Dito. Sepertinya Dito terlalu deket sama meja setrika, karena tinggi meja setrika pas seperutnya. Waktu itu dia masih bertelanjang dada cuma pakai celana seragam. Di satu sisi saya merasa bersalah ga ngawasin Dito waktu praktek setrika pertama sampai selesai. Di sisi lain saya bersyukur lukanya hanya segaris tipis dan saya rasa cukup memberi pelajaran buat Dito untuk lebih hati-hati lagi lain kali.

Sungguh, melepas anak-anak untuk mencoba melakukan hal-hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya atau melepas mereka di lingkungan yang baru itu beraaattt (jadi ingat sebentar lagi melepas Dito masuk SD, hiksss….). Tapi sebagai ibu saya sadar, saya harus kuatkan hati dan belajar menaruh kepercayaan ke mereka. Iya, mereka mampu dan mereka butuh kesempatan untuk membuktikannya. Tugas saya ngasih bekal lalu mengawal sambil terus support dan berdoa untuk mereka. Karena hanya Dia tempat memohon perlindungan, saat mata kita tak bisa melihat apa yang mereka alami, saat telinga kita tak bisa mendengar apa yang mereka ingin ungkapkan, dan saat raga kita tak ada di dekat mereka untuk menguatkan.

I pray You’ll be my eyes
And watch her where she goes
And help her to be wise
Help me to let go

Every mother’s prayer
Every child knows
Lead her to a place
Guide her with Your grace
To a place where she’ll be safe

I pray she finds Your light
And holds it in her heart
As darkness falls each night
Remind her where You are

Every mother’s prayer
Every child knows
Need to find a place
Guide her with Your grace
Give her faith so she’ll be safe

Lead her to a place
Guide her with Your grace
To a place where she’ll be safe

-A mother’s prayer by Celine Dion-

Kenapa jadi sentimental begini ya. Dari belajar life skill ujung-ujungnya lagu…Maafkan saya  *elapairmata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s