latihan lagi

Dari kemarin sampai hari ini badan saya remuk rasanya. Gara-garanya saya sok-sokan ikut latihan kelas dewasa, padahal saya baru masuk lagi setelah sekitar 2 bulan vakum. Untungnya pelatih sabar dan memaklumi banget. Tadinya saya sudah mau nyerah aja. Jadwal kerja suami mulai semester ini tidak memungkinkan untuk bisa ikut latihan. Dito juga sudah males-malesan. Selain karena ada latihan drumband di sekolah, dia juga kurang semangat kalau bapak ibunya ga ikut. Ya sudah, saya juga ga mau maksa. Sayang banget sebenernya, karena dengan latihan bareng, dapat manfaat dari olah raga sekaligus kebersamaan keluarga.

Kemarin saya beranikan diri mulai latihan lagi sendiri tanpa suami dan Dito. Awalnya bingung, mau tetap di kelas anak-anak atau ikut kelas dewasa. Karena sempat vakum 2 bulan, pastinya saya sudah tertinggal baik secara teknik maupun stamina. Di kelas anak-anak latihannya lebih ringan, tapi saya bakal jadi yang paling tua. Malu dilihat orang tua yang pada nungguin anaknya. Loh, bukannya biasanya juga dilihatin? Iya sih, tapi kan ada barengannya, suami, dan niatnya karena nemenin anak. Berhubung sekarang sendirian, ya wis, rasa malunya menang, akhirnya saya beranikan ikut kelas dewasa.

Ternyata bener, latihan di kelas dewasa lebih berat T_T. Yaiyalahhh…. Saya sempat jatuh dan minta ijin istirahat di tengah-tengah latihan karena pusing. Hahahaha….biarin, pelatihnya juga maklum kalau saya sudah emak-emak, paling tua di antara semua yang ikut kelas dewasa. Bahkan lebih tua dari pelatihnya 😀

Beberapa teman sempat mempertanyakan. Kenapa taekwondo? Kan berat, keras. Kenapa ngoyo banget sih? Udah emak-emak juga…Sebenernya karena saya itu pengen tau aja sampai dimana kemampuan saya. Selain manfaat dari olah raganya, saya juga pengen disiplinnya. Awal-awal dulu memang berat, well, sampai sekarang juga berat sih…tapi lama-lama saya suka. Makanya sayang banget mau berhenti. Saya ga gitu ngejar sampai sabuk apa atau sampai ikut lomba *taudiri* pengennya tetep lanjut saja menikmati olah raga, semampu saya. Semoga kuat, hehehe…ganbarimasu!

 

Advertisements

a little bit blue inside

لا إلهَ إلا أنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظّالِمِيْنَ

Dear God,
You have found me here before. I know it’s nothing new to You. Or me, I suppose. I ask you, from the depth of my wounded heart, to make this one quick. Make this healing special. Make the bleeding stop quickly. Cocoon my heart and my soul to not feel the pain until it has healed. And I ask You by your loving mercy, to replace all that is lost with what will bring joy and contentment and coolness of the eyes.
Ameen.

-Yasmin Mogahed-

 

Prestasi Sabtu ini :D

Pagi ini prestasi banget buat saya. Jam 9 semua sudah pada sarapan dan mandi. Sarapannya homemade pula, hahaha….Padahal libur biasanya suka molor-molor santai-santai.

Sejak bangun tadi kami sudah bagi tugas. Suami cuci piring sama belanja. Simpel saja menunya hari ini. Ikan sama sambel. Jadi suami ga bingung belanja ini itu. Sementara saya setrika. Lagi latihan ga menunda pekerjaan ceritanya…karena biasanya sampai 2 atau 3 kali nyuci baru setrika. Ujung-ujungnya panggil simbah tetangga juga buat bantuin, hehehe….Padahal simbah udah resmi ga bantu-bantu di rumah 2 bulan ini. Cuma kalau saya lagi capek (seringnya sih males wkwkwkkk….) baru saya minta datang.

Semoga prestasi ini bisa terus saya pertahankan. Ya..sukur-sukur bisa ditingkatkan. Aamiin.

Oh iya, blog post ini bagian dari usaha saya untuk kembali menulis. Pengennya sih pendek-pendek saja, tapi kontinyu. Semoga istiqomah. Doakan saya ya.

a mother’s prayer

A Mother’s Prayer

I pray You’ll be my eyes
And watch her where she goes
And help her to be wise
Help me to let go

Every mother’s prayer
Every child knows
Lead her to a place
Guide her with Your grace
To a place where she’ll be safe

I pray she finds Your light
And holds it in her heart
As darkness falls each night
Remind her where You are

Every mother’s prayer
Every child knows
Need to find a place
Guide her with Your grace
Give her faith so she’ll be safe

Lead her to a place
Guide her with Your grace
To a place where she’ll be safe

melahirkan itu….

Melahirkan itu seperti ikut terlahir kembali
Memperbarui niat untuk menjadi insan yang lebih baik 
Seiring bertambahnya amanah yang harus diemban
Jiwa-jiwa bersih, ladang yang harus ditanami benih iman dan kebaikan

Melahirkan itu seperti kembali ke titik nol
Titik terendah sekaligus paling potensial
Saat menyadari ketidakberdayaan diri sering kali saat itulah keyakinan akan pertolongan dariNya melambung tinggi
DariNya datang ujian, dariNya pula datangnya pertolongan

Seorang ibu ikut tumbuh, belajar, dan mengasah naluri bersama anak-anaknya
Ibu adalah guru bagi anaknya, begitu pula sebaliknya
Semoga saya dan kita semua para ibu bisa jadi yang terbaik, as best as can be…

menunggu dan merindu

masih dalam episode menunggu…menunggu lahiran dan menunggu suami pulang dari Melbourne.

usia kandungan saya sudah masuk minggu terakhir. si murbei 2 bisa lahir kapan saja. waktu usia 38 minggu kemarin berat badannya sudah sekitar 3 kg dan seminggu kemudian meroket jadi hampir 3,3 kg. sepertinya terhitung besar untuk ukuran bayi di sini. saya pasrah saja lah…nanti lahir mau seberapa besar karena semakin hari nafsu makan saya meningkat gila-gilaan! susah ditahan. apalagi hawa mulai dingin (cari alasan). yang penting kami berdua sehat dan selamat. Amin. dari hasil periksa dalam sejauh ini jalan lahir sudah mulai melunak tapi belum ada bukaan. saya masih beraktivitas seperti biasa meskipun perut semakin sering terasa mengencang, masih jalan kemana-mana dan ikut kelas nihongo lagi setelah bolos berkali-kali. hari minggu kemarin masih sempat mengantar suami ke bandara dan seninnya bawa Dito ke dokter. kelamaan di rumah bikin bosan dan berasa banget kalau sedang “menunggu”…

dua kali hamil sepertinya ditakdirkan suami saya harus pergi ketika dekat-dekat waktu melahirkan. waktu hamil Dito dulu 3 hari setelah HPL suami harus berangkat ke Jepang untuk ujian masuk Kyuushu University. makanya setelah lewat sehari dari HPL Dito belum lahir juga, kami minta diambil tindakan induksi. Alhamdulillah kondisi jalan lahir sudah memungkinkan, kondisi Dito juga bagus dan persalinan berjalan lancar. hamil kali ini di minggu terakhir suami menghadiri conference di Melbourne dan baru akan pulang sehari sebelum usia kandungan pas 40 minggu. semoga kali ini si murbei 2 mau menunggu bapaknya sebelum lahir.

ini pertama kalinya selama di Jepang saya ditinggal berdua saja sama Dito dalam waktu yang lama. sebelumnya paling cuma sehari semalam karena suami harus lembur dan menginap di lab. terasa rumah semakin luas dan sepi. kasihan Dito…sepertinya dia sudah bisa merasakan kehilangan dan kangen bapaknya. setiap bangun pagi bapaknya yang dipanggil karena biasanya begitu bangun digendong bapaknya. saya bilang ke Dito kalau bapak lagi sekolah. itu yang selalu diingatnya…tiap kali melihat foto bapaknya atau barang-barang bapaknya dia selalu bilang “bapak…sekolah…”

yang bikin saya kepengen nangis waktu malam pertama bapaknya pergi, saat itu bertepatan dengan jadwal buang sampah. saya pamit keluar sebentar buang sampah sementara Dito asik nonton Mickey Mouse. kebetulan saya pakai jaket bapaknya. waktu buka pintu rumah Dito sudah di depan pintu sambil berteriak girang “BAPAK!!…”
dia mengira saya bapak yang baru pulang dari kampus 😦
biasanya memang suami pulang dari kampus sudah malam dan Dito hampir selalu menyambutnya di depan pintu. duh rasanya sediiihhhh…..

malam itu Dito ga tenang tidurnya. berkali-kali bangun karena hidung mampet dan batuk. lagi-lagi terasa betapa kehadiran suami sangat berarti saat seperti ini. saat hamil tua begini saya selalu mengandalkan suami bangun malam mengurus Dito kalau dia rewel saat sakit.

Pulang dari dokter hari Senin saya sama Dito lewat stasiun dan Dito pengen sekali naik kereta. wah…repot juga, ga ada tujuan mau kemana. lagipula Dito baru sakit, pengennya langsung pulang, minum obat dan istirahat. akhirnya saya bujuk dia, naik keretanya nanti nunggu Bapak pulang. akhirnya sampai sekarang tiap kali ingat kereta dia bilang “densha…tunggu Bapak”. semalam juga Dito ngelindur manggil Bapaknya…duh nelangsa rasanya (T.T) kemarin juga pas diantar ke hoikuen wajahnya ga ceria, lesu. tapi Alhamdulillah…sore waktu dijemput dia sudah ceria lagi dan asik main sama teman-temannya.

kalau begini terasa sekali betapa kehadiran suami tak akan terganti meskipun teknologi sudah memungkinkan untuk bisa berkomunikasi dengan berbagai cara. keberadaannya di tengah-tengah kami membuat kami utuh dan kuat. saya harus lebih banyak lagi bersyukur dan bersabar. Bismillah….

patah hati

sudah 4 hari ini Dito berhasil gak mimik sama sekali, bahkan saat menjelang tidur. kali ini usaha saya bisa dibilang berhasil. sebelum-sebelumnya suka gak tega melihat dia nangis minta mimik dan akhirnya saya yang menyerah 😦 kali ini benar-benar harus ditega-tegain, meskipun saya sedih sekali.

jadi setiap kali Dito minta mimik, saya bilang ke Dito “ASI sudah gak keluar (nyatanya memang begitu), Mas Dito sudah besar, anak pintar, sudah sekolah, teman-teman di sekolah gak ada yang mimik ibunya…Mas Dito harus berhenti juga mimiknya. Mas Dito kan sudah jadi kakak, sebentar lagi punya adik. mimiknya nanti gantian buat adik, akachan masih kecil, belum bisa maem dan mimik macem-macem kaya Mas Dito, jadi cuma bisa mimik ibu. Mas Dito belajar ya dari sekarang…ayo Mas Dito pasti bisa, ganbatte ne…” kata-kata semacam itu saya ulang terus menerus tiap kali dia minta mimik. sesekali dia merengek, nangis, bahkan ngamuk-ngamuk sambil berusaha membuka baju saya. kalau sudah begitu biasanya saya serahkan ke bapaknya buat digendong sebentar sampai agak tenang, baru nanti saya ajak ngomong lagi.

sungguh saya gak tega, pengen nangis rasanya…melihat sorot matanya yang terlihat kecewa. seolah-olah bilang “kenapa Bu? Dito cuma pengen mimik, kemarin boleh kenapa sekarang gak boleh?” apalagi saat menjelang tidur, saat dia sudah capek merengek dan menangis tanpa hasil, dia cuma memandang saya…mendengarkan saya ngoceh mengulang-ulang kata yang sama untuk memberikan pengertian padanya. sampai akhirnya dia menyerah, tertidur sambil memeluk leher saya.

that moment was really heartbreaking…T_T
*nulisnya juga sambil mewek…*

saat terbangun malam-malam Dito juga masih suka minta mimik seperti biasanya. saya usap-usap punggungnya, tepuk-tepuk pahanya, dan cium kepalanya sambil saya bisikkan selalu mantra-mantra andalan sampai akhirnya tertidur lagi. kalaupun gak mau langsung tidur atau pakai nangis dulu, bapaknya yang gendong sampai tertidur lagi.

gak mudah untuk menyapih Dito, bagi saya, Dito, maupun bapaknya. kami harus benar-benar bekerja sama. dari awal saya sudah berniat gak akan pakai yang pait-pait atau tipu-tipu yang lain seperti yang disarankan simbah-simbahnya (yang bikin saya emosi jiwa dan saya sempat males nelpon mereka). saya gak tega dan saya sudah bilang gak mau pakai cara begitu. saya pengennya Dito ngerti kenapa dia harus berhenti mimik, jadi saya selalu kasih tau dia mantra-mantra andalan sebagai sugesti positif. berharap dengan begitu dia ngerti alasannya dan gak merasa sakit hati karena dibohongi.

saat ini saya benar-benar merasa patah hati…rasanya seperti putus cinta. kehilangan momen indah saat menyusui Dito, sesuatu yang sudah begitu melekat di hati, suatu rutinitas yang membahagiakan buat kami berdua.

semoga acara menyapih ini berhasil seterusnya dan membawa kenangan yang indah serta ikatan yang semakin kuat untuk kami sekeluarga. Amin.