ibu

begitu banyak cerita dalam sebuah hubungan ibu-anak antara saya dan ibu saya. begitu banyak pelajaran hidup dan kenangan manis yang membekas di hati, meskipun tak sedikit pula rasa sakit yang tertoreh saat maksud hati tak tersampaikan dengan baik antara kami. tapi begitulah cara kami saling mencintai….

akhir-akhir ini saya sering bangun pagi dan tanpa sadar mencari sosok ibu(saya). dalam hati dan pikiran : “ibu(saya) dimana? seharusnya ada ibu(saya) di rumah ini”…setelah sadar, ternyata saat ini sayalah ibu di rumah ini.

dari pertama menghirup udara dunia alam bawah sadar saya telah merekam sosok ibu saya yang setiap pagi selalu saya cari dan saya temui pertama kali. meskipun setelah semakin besar, yang saya jumpai (hampir) tiap pagi adalah sosok ibu yang sedang menyapu di samping tempat tidur saya dengan wajah kesal dan amarah yang siap meledak karena saya malas bangun (setidaknya itu yang paling saya ingat, hehehe…). beliau sosok yang keras dan kaku, tapi kasih sayang beliau melimpah pada kami anak-anaknya.

masih jelas dalam ingatan saya bagaimana beliau telaten mengajari saya membaca, menulis, berhitung, menggambar, mewarnai, dan sering membawakan buku-buku cerita dari perpustakaan sekolah tempat beliau mengajar buat saya. tak jarang saya diajak ke sekolah dan membiarkan saya membaca sepuasnya di perpustakaan sementara beliau mengajar. karena beliaulah saya bisa membaca dan melahap setiap bacaan saat saya masih duduk di bangku TK. beliau juga selalu membawakan oleh-oleh tiap pulang mengajar, seringnya buku bacaan dan makanan.

ibu saya selalu berusaha semaksimal mungkin membahagiakan kami anak-anaknya. pernah suatu kali saya diajak bapak saya ke sekolah tempat beliau mengajar dan kami beli cemilan di kantin depan sekolah. tapi jajanan yang saya inginkan saat itu habis (snack yang saya inginkan waktu itu namanya telur gabus). sayapun menangis di tempat, bahkan saya masih menangis sampai di rumah (segitunya ya….). ibu saya sampai heran dan menanyakan sebabnya. begitu tahu kalau saya kepengen snack telur gabus itu, ibu saya tanpa pikir panjang langsung berepot-repot membuatkannya untuk saya saat itu juga dan saya senang sekali ^^

ibu saya juga cukup concern untuk urusan pelajaran agama. beliaulah yang memasukkan saya ke TPA yang bagus dengan sistem pembelajaran yang sudah maju dengan ustadz&ustadzah yang mumpuni. di TPA itu santriwan santriwati berseragam, belajar secara terjadwal, dan ada jenjang seperti sekolah. bahkan ada acara wisuda juga bagi santriwan santriwatinya. di TPA itu kami belajar mulai dari membaca huruf hijaiyah dengan buku iqra jilid 1-6, setelah lulus dan lancar membaca Alquran kemudian masuk kelas terpisah dan mulai belajar fiqih, tarikh, akidah akhlak, hadits, dan bahasa arab. sayang saya tak sampai tamat ikut kelas diniyah ini. TPA macam ini masih jarang saat itu dan letaknyapun jauh, beda kecamatan dengan tempat tinggal saya. saya harus naik sepeda dulu atau kadang diantar ibu naik motor sampai perempatan jalan besar (sekitar 3 km) untuk kemudian naik bis/angkot sampai TPA (perjalanan sekitar 15 menit). pernah suatu kali saya malas sekali ikut kelas fiqih karena saya kurang suka sama ustadznya, untuk menghindari masuk TPA saya bilang pada ibu saya kalau saya ada belajar kelompok. tapi cara ini jarang berhasil, ibu saya hampir selalu bisa memaksa saya masuk TPA dengan omelannya. ibu saya disiplin sekali urusan masuk TPA ini. ibu saya hingga saat ini belum berjilbab, tapi beliaulah yang mendukung keputusan saya untuk berjilbab tanpa banyak bertanya. yang saya tahu besoknya beliau langsung membelikan saya baju dan kaos panjang beserta jilbabnya. beliau juga khusus memesankan baju panjang 2 stel sekaligus di penjahit langganan kami sewaktu saya masuk kuliah semester 3. dan salah satu baju itu masih menjadi favorit saya hingga saya lulus dan bekerja.

seperti umumnya ibu yang memiliki anak perempuan, ibu saya sudah memberikan pelajaran dasar kerumahtanggan seperti bersih-bersih rumah, mencuci, memasak, dan sebagainya sejak saya masih kecil. meskipun waktu itu kami memiliki asisten rumah tangga, saya sebagai anak perempuan tetap kebagian jatah bersih-bersih rumah bersama salah satu bulik saya, adik bungsu bapak, yang tinggal di rumah kami. dulu saya suka asal dan ogah-ogahan melaksanakan tugas saya, pemalas sekali pokoknya, dan sering diomeli ibu karenanya. salah satu hal yang sering disertakan dalam omelan ibu saya waktu itu adalah bagaimana nanti kalau saya tinggal di rumah orang lain atau hidup di rumah mertua, apa jadinya kalau tetap malas-malasan seperti ini? betapa memalukan, kata ibu saya. waktu itu saya tidak pernah berpikir sampai ke situ sampai pada akhirnya saya benar-benar tinggal di rumah mertua setelah saya menikah. tentu saja sikap saya itu “terpaksa” harus berubah waktu saya hidup sebagai anak kos dan saat ini saya jadi agak strict soal bersih-bersih rumah..:). pelajaran dan omelan dari ibu saya baru saya rasakan benar-benar efeknya setelah saya jauh dari beliau.

hobi saya menjahit juga tak jauh dari pengaruh ibu saya. beliau punya mesin jahit singer (sayang sekarang sudah dihibahkan ke entah siapa) dan pernah menjahit beberapa baju saya waktu kecil. beliau juga suka merajut, membuat kruisteek (cross stitch), membuat bunga-bungaan dari rafia, dan beberapa hasta karya lainnya. saya ingat sekali dulu kami serumah masing-masing punya syal rajutan ibu. sebagian hiasan dinding dan barang-barang di rumah adalah buatan tangan beliau.

namun seiring berjalannya waktu kami jadi lebih sering berselisih paham. semata-mata karena beliau teramat mencintai saya dan selalu menginginkan yang terbaik buat saya menurut versi beliau. sedangkan saya, anak egois yang baru melek dan belum banyak tahu tentang dunia. tak mau didikte dan lebih suka memberontak demi mengalami sendiri “rasa sakit saat jatuh” meskipun sebelumnya sudah diperingatkan.

kini banyak hal yang membuat saya semakin mengerti bagaimana perasaan seorang ibu setelah saya mengalaminya sendiri. betapa saya dulu sering sekali menggerutu bahkan balik marah tiap kali ibu menegur atau memarahi saya kalau saya berbuat salah. sungguh perjuangan berat menjadi seorang ibu…ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, ibu adalah tiang negara, yang suatu saat akan diminta pertanggungjawaban atas amanah yang diembannya. ibu saya, seperti halnya ibu-ibu yang lain, pasti mengusahakan yg terbaik untuk anaknya. hanya kadang anaknya belum bisa memahami hal itu dan menganggap berbagai teguran dan bentuk kemarahan sebagai ancaman baginya.

yang jelas beliau adalah sosok yang sangat berpengaruh buat saya. sebagian darahnya mengalir dalam tubuh saya dan saya tumbuh dalam aura keibuannya yang saya yakin menuntun saya dalam proses menjadi seorang wanita dewasa dan seorang ibu. saya ingat waktu itu, sesaat setelah saya melahirkan dan proses IMD selesai, ibu saya masuk ke ruang bersalin dan menggendong dito anak saya yang sudah bersih terbungkus selimut, saat itulah baru pecah tangis saya. saya menangis tersedu-sedu…perasaan saya saat itu sulit digambarkan. mungkin seperti perasaan setelah “napak tilas” perjuangan ibu saya, sekaligus awal keberadaan saya di dunia ini.

ah…Ibu…meskipun dalam beberapa hal saya kurang suka cara beliau tapi saya tetap mencintai beliau semampu saya, dengan cara saya. saya mungkin belum bisa membahagiakan beliau, tapi saya selalu meminta pada Tuhan dalam setiap doa saya semoga ibu saya selalu dilimpahi kasih sayang olehNya, dikaruniai kesehatan dan dimuliakan hidupnya dunia akhirat.

Ibu, terimakasih telah melahirkanku ke dunia, merawat dan mendidikku dengan penuh kesabaran, ketelatenan, dan kasih sayang serta cinta yang berlimpah.
Selamat Hari Ibu.

bertepatan dengan Hari Ibu, akhirnya saya publish juga draft yang sudah lama tersimpan ini. meskipun kecil sekali kemungkinan ibu saya membacanya, semoga tulisan ini bisa sedikit menghangatkan hati beliau dan mengobati kangen…