jihad jilid 2

Now I’m a mom of two! *tarik nafas dalam-dalam
Saya masih suka ga percaya kalau ga lihat tempat tidur bayi di sebelah saya sudah ada penghuninya 🙂
Dito punya adik, saya punya anak perempuan!
Hufffttttt….emosi saya masih suka jungkir balik teraduk-aduk hingga detik ini. It’s too overwhelming.

Setiap kehamilan dan kelahiran punya cerita yang berbeda. Ini cerita kelahiran Oi-chan beberapa waktu yang lalu. Saya tulis di sini semata-mata sebagai pengingat buat saya. Betapa berharganya setiap detik yang saya lewati sampai saat mendengar tangisnya yang pertama.

Dan cerita saya kali ini bakalan panjang…:D

Sama seperti Dito dulu, rupanya Oi juga betah di dalam perut ibunya. Mungkin dia tau kalau di luar hawa sedang dingin. Jadi kalau Dito dulu di”paksa” keluar waktu umur kehamilan 40 minggu lewat 1 hari, Oi di”paksa” keluar waktu umur kehamilan 40 minggu lewat 6 hari. Dua-duanya melalui proses induksi, jadi kalau persalinan normal spontan si ibu “menunggu” datangnya rasa sakit karena kontraksi, saya datang ke tempat bersalin masih dengan senyum lebar untuk “menjemput” rasa sakit itu 🙂

 

Saat kehamilan 40 minggu kurang 1 hari (Jumat, 9 Desember) ternyata hasil pemeriksaan saya belum ada bukaan dan posisi kepala bayi masih tinggi. Perasaan saya antara senang dan agak khawatir juga. Senang karena besoknya (Sabtu) suami pulang dari Melbourne, jadi kemungkinan besar bisa melahirkan ditunggui suami. Tapi khawatir juga kok sampai 40 minggu belum ada tanda-tanda mau melahirkan, jangan-jangan lewat bulan kaya Dito dulu. Yah…bakalan induksi lagi deh, padahal saya kepengen merasakan proses normal senormal-normalnya. Jadilah hari Sabtu saya sama Dito masih sempat jemput suami di bandara ^^

 

Dari hasil pemeriksaan sebelumnya, dokter menjadwalkan pemeriksaan 4 hari berikutnya (Selasa, 13 Desember). Ternyata hasilnya masih sama. Akhirnya dokter menjadwalkan saya untuk diinduksi hari Kamis, 15 Desember karena saya khawatir bayinya akan semakin besar dan menyulitkan proses kelahiran.

 

Hari Kamis semua perlengkapan yang saya perlukan untuk rawat inap di klinik sudah siap. Jadwal saya berangkat ke klinik jam 3 sore. Saya sadar hari itu hari terakhir saya berstatus ibu hamil yang masih bebas kemana-mana dengan bayi yang “aman” terlindung dalam perut. Hari itu saya habiskan dengan jalan-jalan ke mall sama Dito, menikmati waktu selagi masih berasa “beranak satu” dan ga terlalu repot kalau pergi-pergi. Setelah bayi lahir, saya ga akan bisa sebebas ini lagi. Kalaupun pergi bakalan lebih ribet.

 

Pulang jalan-jalan saya masih sempat menjahit crib cover buat tempat tidur bayi sambil menunggu suami pulang. Menjelang jam 3 suami bilang kalau kemungkinan pulang lewat dari jam 3 karena ada beberapa kerjaan yang belum selesai. Hiyaaaa….ini di luar skenario!!! Saya minta tolong Mbak Ayu telpon klinik, bilang kalau saya datang agak telat nunggu suami pulang, tapi pihak klinik tetap minta saya datang secepatnya. Lha terus Dito gimana???? Buru-buru saya telepon Mbak Mala buat jemput Dito dan dibawa ke Mbak Indri biar ada teman main Ganie sama Galang. Kalau bapaknya pulang biar dijemput dan dibawa ke klinik. Mbak Mala sudah OK, Mbak Indri juga, saya buru-buru telpon taksi. Waktu nunggu taksi ternyata suami saya sampai rumah! Padahal Mbak Mala sudah sampai di bawah juga. Akhirnya skenario penitipan Dito dibatalkan dan kami berangkat ke klinik bertiga.

 

Jam 3.30 saya tiba di klinik. Perawat mengecek perlengkapan saya dan mengambil beberapa yang diperlukan segera setelah melahirkan seperti piyama, celana nifas, handuk, dan korset. Setelah itu saya masuk ruangan di sebelah ruang bersalin (saya ga tau namanya, sebut saja ruang kontraksi) dan ganti baju bersalin, semacem daster longgar di bawah lutut dengan bukaan depan.

 

Jam 4.00 saya diberi sebutir kapsul untuk diminum. Saya ga tau untuk apa, waktu itu saya ga didampingi Mbak Ayu yang biasa bantu menterjemahkan kalau ada yang saya ga ngerti atau ingin saya sampaikan tapi saya ga bisa ngomongnya. Ya sudah…pokoknya saya minum. Sementara itu suami membawa barang-barang saya ke kamar. Oh iya…berhubung kamar privat saat itu sedang penuh, saya ditempatkan di kamar yang dipakai bersama 3 orang lainnya. Beberapa saat setelah minum obat saya diberi obat pencahar dan diantar ke toilet. Ga usah dijelaskan kelanjutanya ya…Selama di toilet itu ternyata mucus plug saya keluar. Perawat bilang “daijoubu” (it’s OK). Dari informasi yang saya baca, kalau mucus plug keluar berarti jalan lahir mulai membuka. Syukurlah…

 

Jam 4.25 dipasang alat NST (nonstress test) di perut saya untuk memantau detak jantung dan gerakan bayi. Selama dipasang alat itu saya tetap berbaring sambil ditunggui suami dan Dito.

 

menjemput rasa sakit di ruang kontraksi ditemani Dito ^^

 

Jam 5 dokter datang untuk memulai proses induksi dengan memasukkan balon ke jalan lahir. Saya masuk ruang bersalin dan duduk di “kursi panas“. Prosesnya ga lama dan tingkat “ketidaknyamanan“nya sedikit di atas pemeriksaan dalam (baca:LEBIH SAKIT!). Setelah itu saya mulai mengalami kontraksi pertama jam 5.25 dan kontraksi berikutnya berselang 20 menit.

 

Jam 6 saya diijinkan kembali ke kamar untuk makan malam. Pertamanya saya heran, lah ini habis diberi obat pencahar kenapa disuruh makan? Saya pikir-pikir lagi, saya kan masih harus mengejan nanti, pastinya butuh tenaga dong ya…makanya harus makan. Ternyata makanannya enak! Apalagi ga harus masak sendiri, tinggal makan 🙂 Menunya Jepang banget, banyak macem tapi dalam porsi kecil. Setelah makan saya diminta kembali ke ruang tunggu. Di situ saya ditemani suami dan Dito, sementara Mbak Ayu pulang setelah bantu saya menerjemahkan informasi dari klinik tentang jadwal makan, pemeriksaan, dan penggunaan fasilitas bersama.

 

menu makan malam pertama di klinik, enak….:)

 

Jam 7.30 suami pulang bawa Dito dan berencana balik lagi saat sudah dekat waktunya melahirkan. Tak lama setelahnya dokter datang untuk mengeluarkan balon. Dari jam 7.30 sampai jam 9 kontraksi datang tiap 15 menit. Selama 1,5 jam itu saya tersiksa sendirian di ruang kontraksi, bukan karena sakit, tapi karena bosan…:(

 

Jam 9 dilakukan pemeriksaan dalam, perawat bilang sudah bukaan 4.

Oh iya, selama menunggu itu saya dikenalkan sama Takahashi Sensei. Dokter perempuan yang masih muda dan cantik ini rupanya yang nanti menangani persalinan saya, bukan Shindo Sensei yang biasa memeriksa selama kehamilan ini. Waahhh…lebih rileks rasanya setelah tau kalau bakal ditangani sama dokter perempuan 🙂

 

Jam 9.15 saya ijin keluar buat sikat gigi. Lupa habis makan belum sikat gigi, takutnya sudah ga sempat lagi nanti. Saya kembali ke kamar ambil sikat gigi. Selesai sikat gigi, belum sampai depan pintu kamar tiba-tiba kebelet pipis!! dan kebeletnya ini sudah ga bisa ditahan, gimana coba rasanya harus nahan pipis sambil nahan sakit di jalan lahir? Akhirnya saya pipis di depan pintu kamar! (gross, eh?) Pipisnya ga tanggung-tanggung banyaknya. Saya panik karena ga yakin itu cuma pipis atau jangan-jangan ketuban saya pecah. Saya bingung juga gimana harus ngasih tau perawat. Jalan sepanjang selasar sampai nurse station dalam kondisi basah dan kesakitan sepertinya bukan ide bagus. Teriak-teriak apalagi…Akhirnya saya berjinjit ke sebelah tempat tidur buat mencet buzzer pemanggil perawat. Tak lama perawat datang, saat itu posisi saya sudah di depan pintu kamar lagi.

Antara panik, bingung, khawatir, dan malu, saya bilang kalau saya pipis, sudah ga bisa ditahan…berkali-kali saya minta maaf. Perawat bilang ga papa. Karena mereka khawatir dan ga yakin juga apa ketuban saya juga keluar, akhirnya buru-buru saya dibawa ke ruang kontraksi lagi. Entah bagaimana repotnya petugas cleaning service nantinya membersihkan bekas pipis saya di karpet depan kamar itu. Sempat kepikiran juga ketidaknyamanan yang bakal dialami pasien yang sekamar sama saya, juga keluarga yang menengoknya. Haduhhh…jadi merasa bersalah…tapi ya gimana juga, semua di luar kendali saya 😦

Setelah insiden pipis di tempat itu, badan saya dibersihkan dan sandal saya diganti. Dokter dan perawat berembuk apa sudah saatnya menelepon suami saya dan Mbak Ayu. Mereka tanya saya dan saya iyakan. Akhirnya perawat menelepon dan tak lama kemudian Mbak Ayu datang disusul suami saya. Sementara itu Dito dititipkan di tempat Mbak Ayu dan dijagain Pak GJK. Sesuai skenario yang sudah disusun sebelumnya in case saya melahirkan pas malam hari, Pak GJKlah yang jadi baby sitter Dito dan Lintang *bersyukur sekali punya tetangga Indonesia yang helpful*

 

Mulai jam 10.20 kontraksi berlangsung tiap 7 menit. Di sela-sela kontraksi saya masih bisa ngobrol, sesuatu yang ga bisa saya lakukan pas mau melahirkan Dito. Namanya kontraksi pasti sakit, tapi kontraksi kali ini (perasaan saya) ga sesakit waktu mau melahirkan Dito dulu.

 

Menjelang jam 00 kontraksi mulai datang tiap 5 menit. Sudah bukaan 7.

 

Jam 00.30 saya dipindah ke ruang bersalin dan duduk di “kursi panas”. Goshhhh…saya mulai deg-degan, ga bisa banyak ngomong lagi. Keder juga lihat banyak peralatan, dokter dan perawat mulai sibuk.

 

Jam 00.45 saya diinfus. Perawat agak kesulitan menemukan pembuluh darah saya. Pergelangan tangan kiri gagal. Lengan kanan gagal. Akhirnya ketemu juga di pergelangan tangan kanan. Ini perawat yang sama yang dulu juga gagal mengambil sampel darah saya. Sighhhh….Baru saya sadar kemudian kalau tempat-tempat yang gagal dimasuki jarum infus itu jadi memar-memar merah kebiruan. Hikss….:(

 

Jam 1.15 ketuban saya dipecah, saya diminta mengejan saat puncak kontraksi. Usaha pertama belum berhasil. Kontraksi berikutnya saya mengejan lagi. Kali ini hampir habis tenaga. Pengen tidur saja rasanya…sambil menunggu kontraksi dan aba-aba mengejan lagi. Mata saya hampir terpejam, tapi segera diingatkan supaya tetep melek. Dari informasi yang saya baca biar pembuluh darah di mata ga pecah saat mengejan. Saat kontraksi berikutnya datang saya mengejan lagi, kali ini masker oksigen dipasang untuk membantu pernafasan dan perawat pun turun tangan mendorong perut saya. Kaget!!! Ternyata menurut Mbak Ayu sebagai saksi, perawat itu sampai naik ke samping kursi buat menekan perut saya. Huwaaaa….sakiiiitttt!!!!

 

Jam 1.19 Oi-chan lahir! Alhamdulillah, lega rasanya mendengar suara tangisnya. Berkali-kali saya sebut asmaNya untuk mewakili perasaan saya yang sulit digambarkan saat itu. Dokter dan perawat mengucapkan selamat dan bilang bayinya gede! Pantesan kepalanya susah turun dan bayi susah keluarnya…3840 gram, 49.5 cm, normal, lengkap, dan sehat. Satu yang saya sayangkan…IMD ga berjalan sesuai yang saya harapkan. Kalau Dito dulu, begitu dipotong tali pusarnya langsung diletakkan di dada saya. Kali ini ga ada pengalih perhatian selama saya dijahit 😦

Shindo Sensei baru datang setelah bayi lahir. Setelah mengucapkan selamat beliau tetap menunggui selama luka saya dijahit.

 

Jam 1.50 jahit-menjahit selesai, badan saya dibersihkan dan dipakaikan piyama.

 

Jam 2.00 bayi diserahkan untuk disusui. Agak sedikit kecewa sebenarnya karena proses IMD ga berjalan sesuai harapan saya. tapi mau bagaimana lagi…yang penting bayi sudah lahir sehat dan selamat. Bayi langsung menyusu tanpa kesulitan meskipun ASI belum keluar. Suami mengumandangkan adzan di telinganya. Tak lupa momen itu diabadikan oleh salah satu perawat dan langsung dicetak fotonya 🙂 Sayang waktu itu saya ga pakai jilbab jadi fotonya bukan buat dipublikasikan.

 

Oi-chan beberapa saat setelah lahir

Setelah menemani saya beberapa saat, akhirnya suami pulang. Kasihan Dito kalau lama-lama ditinggal. Kasihan Pak GJK juga yang repot jaga 2 balita, padahal besoknya harus ngampus.

Jam 2 sampai jam 5 saya tetap berada di ruang bersalin untuk pemulihan. 3 jam yang sungguh menyiksa. Saya ga bisa tidur sama sekali. Badan saya masih menggigil meskipun sudah dipakaikan selimut. Kontraksi rahim yang sedang dalam proses kembali ke bentuk semula tak kalah sakitnya dengan kontraksi menjelang persalinan. Apalagi tekanan darah saya naik setelah persalinan, jadi tiap 30 menit perawat datang untuk mengecek. Sendirian, kesepian, kedinginan, dan kesakitan. Lengkap sudah…

 

Jam 5.10 saya dipindahkan ke ruang pemulihan. Di sana saya baru bisa tidur sampai jam 6.30.

 

Jam 7.30 saya diminta untuk pipis. Saking takutnya membayangkan rasanya bakalan sakit, saya bilang ke perawat kalau saya ga kebelet pipis. Tapi ternyata tetap harus pipis dan dibantu dengan kateter. Huh…sama saja sakit!

 

Jam 8.00 saya pindah ke kamar untuk sarapan. Kebetulan pagi itu salah satu kamar privat ada yang sudah kosong. Saya ditawari untuk pindah dan saya iyakan. Setelah sarapan bayi diserahkan untuk disusui. Rasanya semua sakit dan lelah terbayar sudah, melihat bayi sehat di sebelah saya.

 

Welcome to the world baby Aoi! best wishes for u…

 

Oi-chan umur 1 hari

Advertisements

menunggu dan merindu

masih dalam episode menunggu…menunggu lahiran dan menunggu suami pulang dari Melbourne.

usia kandungan saya sudah masuk minggu terakhir. si murbei 2 bisa lahir kapan saja. waktu usia 38 minggu kemarin berat badannya sudah sekitar 3 kg dan seminggu kemudian meroket jadi hampir 3,3 kg. sepertinya terhitung besar untuk ukuran bayi di sini. saya pasrah saja lah…nanti lahir mau seberapa besar karena semakin hari nafsu makan saya meningkat gila-gilaan! susah ditahan. apalagi hawa mulai dingin (cari alasan). yang penting kami berdua sehat dan selamat. Amin. dari hasil periksa dalam sejauh ini jalan lahir sudah mulai melunak tapi belum ada bukaan. saya masih beraktivitas seperti biasa meskipun perut semakin sering terasa mengencang, masih jalan kemana-mana dan ikut kelas nihongo lagi setelah bolos berkali-kali. hari minggu kemarin masih sempat mengantar suami ke bandara dan seninnya bawa Dito ke dokter. kelamaan di rumah bikin bosan dan berasa banget kalau sedang “menunggu”…

dua kali hamil sepertinya ditakdirkan suami saya harus pergi ketika dekat-dekat waktu melahirkan. waktu hamil Dito dulu 3 hari setelah HPL suami harus berangkat ke Jepang untuk ujian masuk Kyuushu University. makanya setelah lewat sehari dari HPL Dito belum lahir juga, kami minta diambil tindakan induksi. Alhamdulillah kondisi jalan lahir sudah memungkinkan, kondisi Dito juga bagus dan persalinan berjalan lancar. hamil kali ini di minggu terakhir suami menghadiri conference di Melbourne dan baru akan pulang sehari sebelum usia kandungan pas 40 minggu. semoga kali ini si murbei 2 mau menunggu bapaknya sebelum lahir.

ini pertama kalinya selama di Jepang saya ditinggal berdua saja sama Dito dalam waktu yang lama. sebelumnya paling cuma sehari semalam karena suami harus lembur dan menginap di lab. terasa rumah semakin luas dan sepi. kasihan Dito…sepertinya dia sudah bisa merasakan kehilangan dan kangen bapaknya. setiap bangun pagi bapaknya yang dipanggil karena biasanya begitu bangun digendong bapaknya. saya bilang ke Dito kalau bapak lagi sekolah. itu yang selalu diingatnya…tiap kali melihat foto bapaknya atau barang-barang bapaknya dia selalu bilang “bapak…sekolah…”

yang bikin saya kepengen nangis waktu malam pertama bapaknya pergi, saat itu bertepatan dengan jadwal buang sampah. saya pamit keluar sebentar buang sampah sementara Dito asik nonton Mickey Mouse. kebetulan saya pakai jaket bapaknya. waktu buka pintu rumah Dito sudah di depan pintu sambil berteriak girang “BAPAK!!…”
dia mengira saya bapak yang baru pulang dari kampus 😦
biasanya memang suami pulang dari kampus sudah malam dan Dito hampir selalu menyambutnya di depan pintu. duh rasanya sediiihhhh…..

malam itu Dito ga tenang tidurnya. berkali-kali bangun karena hidung mampet dan batuk. lagi-lagi terasa betapa kehadiran suami sangat berarti saat seperti ini. saat hamil tua begini saya selalu mengandalkan suami bangun malam mengurus Dito kalau dia rewel saat sakit.

Pulang dari dokter hari Senin saya sama Dito lewat stasiun dan Dito pengen sekali naik kereta. wah…repot juga, ga ada tujuan mau kemana. lagipula Dito baru sakit, pengennya langsung pulang, minum obat dan istirahat. akhirnya saya bujuk dia, naik keretanya nanti nunggu Bapak pulang. akhirnya sampai sekarang tiap kali ingat kereta dia bilang “densha…tunggu Bapak”. semalam juga Dito ngelindur manggil Bapaknya…duh nelangsa rasanya (T.T) kemarin juga pas diantar ke hoikuen wajahnya ga ceria, lesu. tapi Alhamdulillah…sore waktu dijemput dia sudah ceria lagi dan asik main sama teman-temannya.

kalau begini terasa sekali betapa kehadiran suami tak akan terganti meskipun teknologi sudah memungkinkan untuk bisa berkomunikasi dengan berbagai cara. keberadaannya di tengah-tengah kami membuat kami utuh dan kuat. saya harus lebih banyak lagi bersyukur dan bersabar. Bismillah….

37 weeks and a waiting game

usia kandungan saya sekarang sudah lewat 37 minggu, hampir 38 minggu…semua ketidaknyamanan di trimester terakhir sudah saya rasakan. dari sakit pinggang bagian bawah, frekuensi pipis yang meningkat, kram, kontraksi palsu, gampang lelah…

periksa terakhir si murbei 2 beratnya sudah sekitar 2800 gram. tapi kepalanya belum juga turun ke pelvis. menilik riwayat kehamilan saya sebelumnya, dokter bilang mungkin si murbei 2 ini bakal gede juga. 2800 gram di usia 37 minggu itu kata dokter terlalu besar. berat segitu mestinya untuk usia kehamilan 38 minggu. mungkin untuk ukuran di sini terlalu besar, tapi kalau saya lihat di chartnya baby center segitu masih normal-normal saja.

beberapa minggu ke depan bakalan jadi waiting game nih…murbei bisa lahir kapan saja. rasanya antara cemas, khawatir, takut, senang, terharu…campur aduk, sampai kadang bikin mood saya jungkir balik gak karuan. tau-tau nangis sendiri…terus tiba-tiba jadi super excited, kadang jadi maleeeessss mau ngapa-ngapain apalagi hawa sudah semakin dingin, tapi terus tiba-tiba jadi semangat beberes ini itu. berasa adaaaa aja yang perlu dibereskan sebelum si murbei 2 lahir.

ya Allah, Gusti…..jujur saya sudah gak sabar ketemu si murbei 2 yang sudah hampir 9 bulan ada di rahim saya ini. beri saya kekuatan untuk melewati skenarioMu selanjutnya. Amin.

36 weeks


wah…ga kerasa, kehamilan saya sudah melewati usia 36 minggu. kurang lebih 4 minggu lagi si murbei 2 akan meramaikan rumah kami ^^

sudah lama juga ternyata saya gak update blog. update kondisi kehamilan di usia 32 dan 34 minggu juga terlewat. jadi saya gabung aja di tulisan kali ini.

di usia 32 minggu si murbei 2 perkiraan beratnya sudah 1738 gram. waktu diintip lewat monitor USG dia lagi ngenyot jempolnya, hihihihi….kawaiii….
mulai 32 minggu ini saya sudah ga bisa naik sepeda lagi. dokter bilang abunai…jadi saya manut saja. mungkin karena perut semakin besar, takutnya susah menjaga keseimbangan ya. apalagi selama hamil ini sudah 2 kali saya jatuh dari sepeda (tapi saya gak bilang sama dokternya, hehehe….). semoga gak kenapa-kenapa.
saya yang biasanya sepedaan buat belanja, antar jemput dito, ke halte bis, atau sekedar “ndolanke” dito, sekarang mau gak mau jadi banyak jalan. lebih capek sih, tapi dengan begitu berharap nanti bisa memperlancar proses melahirkan. amin.

di usia 32 minggu ini manuver si murbei 2 di dalam perut semakin heboh, ga siang ga malem. nanti setelah keluar dan tumbuh makin besar seaktif itu juga gak ya? 🙂

di usia 34 minggu berat si mubei 2 sudah sekitar 2062 gram, dalam kondisi sehat, tetap aktif, dan pertumbuhan sesuai dengan umur kehamilan. sewaktu periksa rutin 34 minggu ini, sekalian saya tanyakan juga bagaimana prosedur melahirkan di klinik tempat saya periksa nanti. bagaimana kebijakan mengenai IMD, pemberian ASI, survey ruangan, dan berapa besar kira-kira biaya yang diperlukan untuk persalinan normal.

berikut kira-kira garis besar birth plan yang kami sampaikan ke pihak klinik waktu ngobrol-ngobrol kemarin.
mengenai IMD, Alhamdulillah bisa dilaksanakan sesuai permintaan si ibu. suami juga bisa ikut menunggui saat persalinan. untuk pemberian ASI, ternyata mereka biasa memberikan susu formula. tapi tetap si ibu bisa mengajukan keberatan jika ingin bayinya hanya diberi ASI. saya gak mau bayi saya dikasih susu formula, kecuali kalau memang saat itu ASI saya belum keluar (seperti waktu Dito lahir dulu). tak lupa juga permintaan khusus mengenai makanan yang bisa saya konsumsi. untuk amannya saya hanya minta menu sayuran dan seafood.

setelah menjawab beberapa pertanyaan mengenai riwayat melahirkan anak pertama dulu, pihak klinik lalu membawa kami tur melihat ruang tunggu selama kontraksi yang bersebelahan dengan ruang bersalin, ruang observasi bayi, dan ruang rawat inap.
jangka waktu rawat inap persalinan normal adalah 4 hari. hari pertama dihitung dari keesokannya setelah melahirkan. ada 2 pilihan ruang rawat inap. satu ruangan kapasitas 4 orang yang dipakai bersama dengan kamar mandi di luar atau kamar tersendiri dengan kamar mandi di dalam. defaultnya sih si ibu akan ditempatkan di ruang bersama kecuali saat itu ruang bersama penuh maka akan ditempatkan di kamar tersendiri. pihak klinik tidak membolehkan kepindahan dari ruang bersama ke kamar tersendiri di tengah-tengah masa rawat inap. untuk ruang bersama tidak dikenakan biaya tambahan sedangkan untuk kamar tersendiri dikenakan tambahan biaya 4000 yen sehari. setelah berembuk sama suami, saya memilih kamar tersendiri untuk masa rawat inap nanti.

mengenai keperluan untuk ibu dan bayi selama proses melahirkan dan masa setelah melahirkan, klinik sudah menyediakan dalam satu paket dasar perawatan seperti breast pad, pembalut nifas, perawatan pusar bayi, cotton bud, kasa, dan sebagainya. ibu cukup menyiapkan piyama tidur dengan bukaan depan untuk memudahkan menyusui, sandal, gelas, handuk, toiletries, korset/setagen, dan celana dalam pasca melahirkan. sedangkan untuk bayinya 1 set baju ganti buat dipakai saat pulang dan beberapa lembar sapu tangan gauze. ahhhh…melegakan….oh iya, klinik juga menawarkan massage dengan aromatherapy untuk ibu pasca melahirkan tanpa kena biaya tambahan yang tentu saja saya iyakan dengan senang hati, hehehehe…..

mengenai birth plan sepertinya sudah cukup jelas bagi kami maupun pihak klinik. hanya saja ada satu hal yang masih jadi ganjalan buat saya dan suami. pihak klinik tidak mengijinkan Dito ikut menginap bersama saya. memang kebijakan di sini tidak mengijinkan keluarga menginap, saya gak ada masalah dengan itu. tapi……ini soal Dito…..

jadi ceritanya suami saya bakalan ada conference di Australia dari tanggal 4-10 Desember. padahal HPL saya juga sekitar tanggal itu. kalau saya melahirkan pas suami saya gak di sini, Dito gimana?
siang hari Dito bisa saya titipkan ke tetangga, teman-teman Indonesia di sini. lah malemnya? dari lahir Dito belum pernah sekalipun pisah tidur dari saya. saya khawatir dia bakalan rewel dan merepotkan tetangga saya yang nanti bakalan dititipi 😦
coba ya pihak klinik mau mengijinkan Dito tidur sama saya malamnya….

hiksss…yah mestinya saya pasrah saja gimana nanti. Allah yang mengatur semuanya. kami ga tau persis kapan si murbei 2 bakalan lahir. bisa saja lebih cepat atau malah telat. yang bisa kami usahakan saat ini hanya berencana untuk berbagai kemungkinan. kami percaya pasti ada jalan.

kemarin sabtu saat periksa kehamilan 36 minggu, si murbei 2 beratnya sudah sekitar 2599 gram. kepalanya sudah di bawah tapi belum begitu turun ke pelvis. dokter bilang lahir kapan saja gak ada masalah. saya juga di tes darah. tes darah ke tiga selama kehamilan ini. tapi yang kemarin itu yang paling serem. perawat ga bisa menemukan pembuluh darah saya, tangan kiri maupun kanan. padahal sudah dicoblos dua-duanya…hikssss….saya ga berani lihat. cenut-senut rasanya….akhirnya si mbak perawat menyerah dan digantikan perawat kedua yang akhirnya bisa mengambil sampel darah saya. tapiiiii….setelah keluar dari ruangan dan saya ngobrol sama Mbak Ayu yang biasa nganter saya, ehhh lha kok darahnya masih keluar, rembes di lengan baju saya. untung ga terlalu banyak dan segera berhenti. tapi tetap saja serem lihatnya.

dari hasil tes itu dokter bilang darah saya encer, bisa pengaruh obat atau kurang zat besi. saya diminta banyak makan makanan mengandung zat besi. yang saya tangkap kemarin sih disebutkan horenso (bayam) salah satunya. baiklahhhhh….memang akhir-akhir ini saya jarang makan sayur. males masak….

oh iya, mulai 36 minggu ini pemeriksaan kehamilan dilakukan seminggu sekali dan saya diminta datang lebih pagi. tambahan lagi, tiap kali periksa akan selalu diadakan pemeriksaan dalam yang membuat saya ga nyaman itu. haduhhhhh….jadi saya harus siapkan mental saya tiap kali mau periksa nih 😦

semoga si murbei 2 sehat selalu, lahir normal dan lancar, kami berdua diberikan kekuatan dan kemudahan melewati prosesnya. Amin.

30 weeks pregnancy dan cabut gigi

sabtu tanggal 1 kemarin saya periksa rutin kehamilan saya. Alhamdulillah saya dan si murbei 2 sehat. kenaikan BB saya 1,2 kg dalam 2 minggu dan gak disinggung sama dokternya (lega deh….). perkiraan BB si murbei sudah 1438gram, dengan diameter lingkar kepala 7.54 cm, diameter lingkar perut 8.81 cm (melintang) 5.94 cm (membujur), dan panjang tulang kaki 5.47 cm.

perut saya semakin buncit, gerakan si murbei 2 semakin heboh, gerakannya kadang tiba-tiba dan kenceng, terasa sampai rusuk dan kalau gerakannya ke arah bawah bikin saya kebelet pipis. mau gak mau jadi sering pipis sekarang. sampai tahap ini saya sudah mulai gak enak tidur, posisi serba salah, kadang bangun-bangun badan tambah pegel. ini berakibat ke mood saya yang jungkir balik gak karuan. yang kena pastilah suami saya hihihi….(maaf ya, Mas)

pulang dari dokter kandungan sudah siang, kami langsung makan siang di sebuah restoran keluarga. sudah kenyang, kamipun lanjut nyicil belanja keperluan saya dan si murbei 2 saat lahiran nanti. setelah beberapa item terbeli kami berencana langsung pulang. tapi ternyata sudah jam 15.30 dan saya baru ingat kalau saya dan suami ada janji ke dokter gigi. akhirnya kami putuskan langsung ke klinik dokter gigi langganan itu.

sebetulnya sudah lama saya kepengen perawatan gigi menyeluruh, tapi selalu tertunda karena malas dan pikir-pikir biaya. mengingat suami saya juga sedang dalam perawatan. sekali perawatan biayanya sekitar 1000-1500 yen (setelah terpotong asuransi) tergantung jenis penanganannya dan perawatan di sini bisa berlangsung berbulan-bulan. suami saya tiap sabtu sore selalu “apel” ke dokter gigi dan itu sudah berlangsung sebulan lebih dan sempat terhenti saat Ramadhan kemarin. eh tanpa disangka lambat laun gigi saya mulai berulah. keluhan di gigi saya sudah terjadi sejak hari selasa, tambalan di gigi geraham kiri bawah saya lepas dan gusi di sebelahnya bengkak dan sakit. hari rabu saya ke klinik langganan suami, tapi berhubung hari itu jadwal periksanya penuh dan tidak ada dokter yang bisa bahasa inggris jadi si mbak resepsionis menawarkan periksa hari sabtunya bareng suami. karena ternyata dokter yang bisa bahasa inggris biasanya itu cuma praktek di situ pas hari sabtu. ya sudah terpaksa harus menahan sakit sementara.

pertama semua gigi diperiksa, dicatat kerusakan-kerusakannya. dilanjutkan dengan rontgen, dari situ semakin ketahuan betapa parahnya kondisi gigi saya. waktu saya tanya kira-kira perlu berapa lama perawatannya nanti, dokter balik tanya kapan perkiraan saya melahirkan. saya bilang desember dan dokter bilang selama itulah perawatannya, yah kira-kira 2 bulan lah saya harus ke dokter tiap sabtu 😦 banyak karang gigi yang harus dibersihkan dan banyak lubang yang harus ditangani. kondisi gusi di dekitar gigi yang tambalannya lepas itu juga parah, tidak bisa mensupport gigi lagi. jadi gigi geraham saya itu harus dicabut. saya sih siap-siap saja karena sudah berniat untuk perawatan menyeluruh. tapi di satu sisi kantong saya (eh…kantong suami ding) yang menjerit, seminggu sekali ke dokter gigi selama 2 bulan! gak cuma saya aja tapi juga suami. tapi sepertinya suami gak bakalan lama lagi perawatannya…semoga….

proses perawatan gigi pertama saya berjalan lancar. ruang periksa yang nyaman dengan layar LCD menayangkan film kartun bikin saya betah selama dokter menangani gigi saya. dokternya juga sangat komunikatif, semua tahapan pemeriksaan dijelaskan dari awal. hari itu yang ditangani cuma bagian geraham yang berasalah saja. dibersihkan sekitarnya, disuntik, lalu dicabut. dan untuk kedatangan saya selanjutnya sudah diplot gigi mana saja yang akan ditangani selanjutnya. jadi selama 2 bulan ke depan saya punya agenda rutin 2 mingguan dan agenda rutin mingguan…pagi ke dokter kandungan (saat kehamilan mulai masuk minggu ke 36) dan sorenya ke dokter gigi. sekali lagi, saya gak setakut suami saya kalau harus berurusan sama dokter gigi (sudah pernah merasakan melahirkan yang jauh lebih sakit) yang saya takutkan cuma kondisi dompet saya, hihihi….*ralat lagi, dompet suami saya tepatnya :D*

28 weeks

kemarin sabtu akhirnya saya bisa ngintip si murbei jilid 2 lagi. senangnya….^^
pertama datang agak khawatir dengan kenaikan berat badan saya juga si murbei. waktu terakhir nimbang di tempat teman saya minggu lalu kok sudah 53 kg. gawat…berarti dalam 3 minggu kenaikan BB saya hampir 5 kg. pasti kena tegur deh…wah tambah stres saya. takutnya BB cuma naik di saya, tapi murbei ga bisa mengejar ketertinggalan BB nya bulan lalu.

tapi syukurlah, kekhawatiran saya ga terjadi. BB saya 51.9 kg di usia kehamilan 28 minggu ini. naik 3.7 kg dari terahir periksa 4 minggu lalu. dan kenaikan ini ga disinggung sama dokternya 🙂 mungkin karena bulan sebelumnya BB saya ga naik, jadi dianggap impas, hehehe…
Alhamdulillah perkiraan BB si murbei juga naik jadi 1082 gr, sesuai dengan umur kehamilan, ga lagi di batas bawah berat rata-rata. lega deh…

oh iya, kali ini si murbei mau diajak kompromi pas dilihat jenis kelaminnya. kalau sebelum-sebelumnya dokter bilang kemungkinan cowok, kemarin dilihat lagi cewek ternyata 🙂 padahal suami berharap cowok karena lebih susah menjaga anak cewek katanya. kalau simbah-simbahnya sih pengennya cewek, biar lengkap kata mereka. saya sih ga masalah, seneng-seneng saja mau cowok apa cewek, buat saya yang penting sehat dan normal, jasmani maupun ruhaninya…

di usia kehamilan 28 minggu ini nafsu makan saya benar-benar menggila! saya sampai ngeri sendiri…habis makan nasi bawaannya masih lapar terus. masih pengen ngemil dan ngemilnya juga harus yang mengenyangkan, roti misalnya, cornflakes pakai susu, atau buah tapi dalam porsi yang agak besar. musim panas (yang hampir berakhir) ini banyak dijumpai buah nashi dan itu favorit saya. segar, banyak airnya, dan manis. sekali makan saya bisa habis 2 biji. padahal selama hamil di jepang diharapkan gak terlalu banyak kenaikan BBnya, takut bayinya juga besar dan susah ngeluarinnya. dengan cemilan macam itu, sudah manis, banyak pula asupannya, gimana BB saya ga melaju pesat??? haduhhh jadi serba salah (>.<)

saya sempat mengalami mimisan juga beberapa hari yang lalu. sebelumnya juga pernah dan darahnya membeku di hidung, tapi kemarin itu darah segar yang keluar, sampai saya harus sumpal lubang hidung pakai tisu. untungnya cuma sedikit dan waktu ditanyakan ke dokter, dokter bilang itu normal, ibu hamil memang gampang mimisan. kalau menurut yang saya baca itu pengaruh hormon, pertambahan volume darah, dan pelebaran pembuluh darah di seluruh tubuh termasuk di hidung. jadi yang saya alami kemarin itu normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, apalagi keluarnya cuma sedikit dan sebentar.

dari segi fisik, sudah jelas terlihat sekarang perut saya yang makin buncit. mobilitas juga sedikit menurun, ngerjain sesuatu ga bisa cepet, ritme melambat. baru kerja sedikit rasanya sudah capek dan ngos-ngosan. sudah gitu sumbu saya yang dari sononya sudah pendek jadi semakin pendek…karena segala keterbatasan fisik sekarang ini, pekerjaan rumah agak sedikit terbengkalai, sementara itu standar saya masih tinggi dan saya masih banyak maunya. gabungan beberapa hal itu bikin saya gampang uring-uringan. akhir-akhir ini saya juga sering menangis karena merasa ga berdaya, sedih, juga menyesal karena ga bisa mengendalikan emosi. untungnya suami saya superbaik dan penyabar. suami selalu mendengarkan saat saya marah-marah sambil nangis-nangis sampai selesai dan tak bosan menenangkan, mengingatkan saya untuk lebih bersabar lagi, lebih bisa menerima segala kondisi saat ini dan menikmatinya. iya iya…saya tau teorinya tapi prakteknya susah sekali. biar begitu setidaknya saya sedikit lega kalau sudah mengeluarkan uneg-uneg (dan juga kemarahan baik ke diri sendiri, anak, atau suami) ke suami. suami juga jadi lebih banyak lagi membantu kerjaan rumah, sebelum-sebelumnya memang sudah sangat membantu tapi seiring usia kehamilan saya yang semakin tua, porsi bantuannya makin besar. ah saya sungguh beruntung…dan saya bersyukur sekali punya suami sepertinya. tapi apakah suami saya juga merasa beruntung punya istri seperti saya? ha, silakan bertanya langsung ke orangnya 😀

oh iya, ini hasil USG si murbei kemarin

24 weeks

di usia kandungan 24 minggu ini perut saya sudah semakin membuncit, mulai susah cari posisi tidur yang nyaman, manuver si murbei juga semakin dahsyat, kadang bikin saya kaget karena gerakan yang keras dan tiba-tiba.
kemarin sabtu saya periksa ke klinik dekat rumah. dari berangkat bawaannya deg-degan saja mikir kira-kira berat badan saya naik berapa kilo ya? bulan lalu sudah naik 2,5 kg dan bulan berikutnya cuma boleh naik 1 kg. soalnya selama puasa ini saya banyak minum manis-manis dan keinginan ngemil selama berbuka dan sahur sungguh sulit ditahan. tapi setelah ditimbang…ternyata eh ternyata berat badan saya ga naik! waduh…jadi khawatir deh. apalagi dokter bilang perkiraan berat badan si murbei 2 cuma 505 gram, ada di batas bawah grafik berat badan normal untuk usia kehamilan 24 minggu. hiksss…meskipun secara umum kondisinya sehat, diameter kepala, perut, dan panjang tulang kakinya semua normal sesuai umur kehamilan, tetap saja saya merasa bersalah 😦
mulai sekarang harus lebih perhatian lagi urusan makan nih…

kali ini, seperti bulan lalu, si murbei ga mau diajak kompromi waktu mau dilihat jenis kelaminnya 😀 ya sudah…bapak ibunya tetep penasaran, ga sabar nunggu bulan depan buat “ketemu” lewat monitor USG lagi 🙂 semoga sehat selalu dan berat badannya naik ya, sayang…

ini hasil USG kemarin sabtu, di print pas terlihat mukanya…kawaiiii ^^

dari keterangan di foto ini lingkar kepala, panjang tulang kaki,  sama diameter perut semua normal. tapi perkiraan berat badan bayi yang di bawah rata-rata usia kehamilan 24 minggu 😦